Larangan lelaki dan wanita saling menyerupai

Larangan laki-laki menyerupai wanita dan wanita menyerupai laki-laki

Laki-laki yang sengaja menyerupai wanita dalam berpakaian, berdandan, bertingkah laku, berbicara, bergaya dan sebagainya adalah haram. Demikian pula wanita yang menyerupai laki-laki, berdasarkan hadits-hadits sebagai berikut :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رض قَالَ: لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ ص اْلمُتَشَبّهِيْنَ مِنَ الرّجَالِ بِالنّسَاءِ وَ اْلمُتَشَبّهَاتِ مِنَ النّسَاءِ بِالرّجَالِ. البخارى 7: 55

Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, Rasulullah SAW melanat orang laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki. [HR. Bukhari juz 7, hal. 55]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيّ ص اَنَّهُ لَعَنَ اْلمُتَشَبّهَاتِ مِنَ النّسَاءِ بِالرّجَالِ، وَ اْلمُتَشَبّهِيْنَ مِنَ الرّجَالِ بِالنّسَاءِ. ابو داود 4: 60، رقم: 4097
Dari Ibnu Abbas, dari Nabi SAW, bahwasanya beliau melanat wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 60, no. 4097]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: لَعَنَ النَّبِيُّ ص اْلمُخَنَّثِيْنَ مِنَ الرّجَالِ وَ اْلمُتَرَجّلاَتِ مِنَ النّسَاءِ. وَ قَالَ: اَخْرِجُوْهُمْ مِنْ بُيُوْتِكُمْ. البخارى 7: 55
Dari Ibnu 'Abbas, ia berkata  : Rasulullah SAW melanat para laki-laki yang bergaya seperti wanita dan para wanita yang bergaya seperti laki-laki. Dan beliau bersabda, Keluarkanlah mereka dari rumah-rumah kalian. [HR. Bukhari juz 7, hal. 55]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ ص الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ اْلمَرْأَةِ، وَ اْلمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ. ابو داود 4: 60، رقم: 4098
Dari Abu Hurairah, ia berkata, "Rasulullah SAW melanat orang laki-laki yang memakai pakaian wanita, dan wanita yang memakai pakaian laki-laki". [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 60, no. 4098].

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ امْرَأَةً مَرَّتْ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ ص مُتَقَلّدَةً قَوْسًا، فَقَالَ النَّبِيُّ ص: لَعَنَ اللهُ اْلمُتَشَبّهَاتِ مِنَ النّسَاءِ بِالرّجَالِ وَ اْلمُتَشَبّهِيْنَ مِنَ الرّجَالِ بِالنّسَاءِ. الطبرانى فى الاوسط 5: 14، رقم: 4015
Dari Ibnu Abbas, bahwasanya ada seorang wania berselempang busur panah lewat di depan Rasulullah SAW, maka Nabi SAW bersabda, Allah melanat para wanita yang menyerupai laki-laki dan para laki-laki yang menyerupai wanita. [HR. Thabraniy dalam Al-Ausath, juz 5, hal. 14, no. 4015, hadits ini dlaif karena dalam sanadnya ada perawi bernama Ali bin Said Ar-Raaziy]

عَنْ رَجُلٍ مِنْ هُذَيْلٍ قَالَ: رَأَيْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ اْلعَاصِ، وَ مَنْزِلُهُ فِى اْلحِلّ، وَ مَسْجِدُهُ فِى اْلحَرَمِ قَالَ: فَبَيْنَا اَنَا عِنْدَهُ رَأَى اُمَّ سَعِيْدٍ اِبْنَةَ اَبِى جَهْلٍ مُتَقَلّدَةً قَوْسًا، وَ هِيَ تَمْشِى مِشْيَةَ الرَّجُلِ، فَقَالَ عَبْدُ اللهِ: مَنْ هذِهِ؟ قَالَ اْلهُذَلِيُّ فَقُلْتُ: هذِهِ اُمُّ سَعِيْدٍ بِنْتُ اَبِى جَهْلٍ، فَقَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِالرّجَالِ مِنَ النّسَاءِ، وَ لاَ مَنْ تَشَبَّهَ بِالنّسَاءِ مِنَ الرّجَالِ. احمد 2: 640، رقم: 6892
Dari seorang laki-laki suku Hudzail ia berkata : Saya pernah melihat Abdullah bin Amr bin 'Ash RA, orang tersebut rumahnya di tanah halal sedang masjidnya di tanah haram. Orang tersebut berkata : Pada suatu ketika saya sedang berada di sisinya, kemudian dia (Abdullah bin 'Amr) melihat Ummu Sa'id binti Abu Jahal berselempang busur panah berjalan seperti berjalannya orang laki-laki, lalu Abdullah (bin Amr)  bertanya : "Siapa wanita ini ?". Orang dari Hudzail itu berkata : Lalu aku menjawab : "Ini Ummu Sa'id binti Abu Jahal". Lalu Abdullah bin Amr berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Bukan dari golongan kita wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita". [HR. Ahmad juz 2, hal. 640, no. 6892, dlaif karena dalam sanadnya ada perawi yang tidak disebutkan namanya]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص اُتِيَ بِمُخَنَّثٍ قَدْ خَضَبَ يَدَيْهِ وَ رِجْلَيْهِ بِاْلحِنَّاءِ، فَقَالَ النَّبِيُّ ص: مَا بَالُ هذَا؟ فَقِيْلَ، يَا رَسُوْلَ اللهِ، يَتَشَبَّهُ بِالنّسَاءِ، فَأُمِرَ فَنُفِيَ اِلَى النَّقِيْعِ فَقَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَلاَ نَقْتُلُهُ؟ فَقَالَ: اِنّى نُهِيْتُ عَنْ قَتْلِ اْلمُصَلّيْنَ. ابو داود 4: 282، 4928
Dari Abu Hurairah bahwasanya dibawa kepada Nabi SAW seorang laki-laki yang berlagak seperti wanita, dia memberi warna dengan hinna' (quitec) pada (kuku-kuku) kedua tangan dan kakinya. Maka Rasulullah SAW bertanya : "Kenapa orang ini ?" Ada sahabat yang menjawab, Ya Rasulullah, orang laki-laki itu berlagak seperti wanita". Lalu diperintahkan (oleh Rasulullah) supaya orang tersebut diasingkan ke Naqi' (suatu tempat di daerah Muzainah, perjalanan dua malam dari Madinah), lalu ditanyakan kepada beliau, "Ya Rasulullah, apakah tidak kita bunuh saja orang itu ?" Beliau menjawab, "Sesungguhnya aku dilarang membunuh orang-orang yang shalat". [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 282, no. 4928]

Larangan wanita menyambung rambut, mencukur aAlis, menjarangkan gigi, dan bertatto.

Islam melarang para wanita menyambung rambut, mencabut bulu dahi atau mencukur alis, mengikir giginya supaya jarang dan kelihatan cantik, dan wanita yang mencacah (bertatto), berdasar hadits-hadits sebagai berikut :

عَنْ عَائِشَةَ رض اَنَّ جَارِيَةً مِنَ اْلاَنْصَارِ تَزَوَّجَتْ وَ اَنَّهَا مَرِضَتْ فَتَمَعَّطَ شَعَرُهَا، فَاَرَادُوْا اَنْ يَصِلُوْهَا، فَسَأَلُوا النَّبِيَّ ص، فَقَالَ: لَعَنَ اللهُ اْلوَاصِلَةَ وَ اْلمُسْتَوْصِلَةَ. البخارى 7: 62
Dari 'Aisyah RA, bahwasanya ada seorang wanita Anshar menikah, dan ia terserang penyakit sehingga rambutnya rontok. Lalu keluarganya ingin menyambung rambutnya, maka mereka bertanya kepada Nabi SAW, maka Nabi SAW bersabda : "Allah melanat wanita yang menyambung rambut dan wanita yang minta disambung rambutnya".  [HR. Bukhari juz 7, hal. 62]

عَنْ اَسْمَاءَ قَالَتْ: سَأَلَتِ امْرَأَةٌ النَّبِيَّ ص فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنَّ ابْنَتِى اَصَابَتْهَا اْلحَصْبَةُ فَامَّرَقَ شَعَرُهَا، وَ اِنّى زَوَّجْتُهَا، اَفَأَصِلُ فِيْهِ؟ فَقَالَ: لَعَنَ اللهُ اْلوَاصِلَةَ وَ اْلمَوْصُوْلَةَ. البخارى 7: 63
Dari Asma', ia berkata : Ada seorang wanita bertanya kepada Nabi SAW. Ia berkata, "Ya Rasulullah, sesungguhnya anak perempuan saya terkena sakit panas sehingga rambutnya rontok, dan saya telah menikahkannya. Apakah boleh saya sambung rambutnya ?". Maka Rasulullah SAW bersabda, "Allah melanat wanita yang menyambung rambut dan wanita yang disambung rambutnya". [HR. Bukhari juz 7, hal. 63]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رض قَالَ: لَعَنَ النَّبِيُّ ص اْلوَاصِلَةَ وَ اْلمُسْتَوْصِلَةَ، وَ اْلوَاشِمَةَ وَ اْلمُسْتَوْشِمَةَ. البخارى 7: 63
Dari Ibnu Umar RA ia berkata, "Nabi SAW melanat wanita yang menyambung rambut dan wanita yang minta disambung rambutnya, (dan melanat) wanita yang mencacah (mentatto) dan wanita yang minta dicacah (ditatto)". [HR. Bukhari juz 7, hal. 63].

عَنْ اَسْمَاءَ بِنْتِ اَبِى بَكْرٍ قَالَتْ: لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ ص اْلوَاصِلَةَ وَ اْلمُسْتَوْصِلَةَ. البخارى 7: 62
Dari Asma' binti Abu Bakar, ia berkata, "Rasulullah SAW melanat wanita yang menyambung rambut dan wanita yang minta disambung rambutnya". [HR. Bukhari juz 7, hal. 62].

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: لُعِنَتِ اْلوَاصِلَةُ وَ اْلمُسْتَوْصِلَةُ وَ النَّامِصَةُ وَ اْلمُتَنَمّصَةُ وَ اْلوَاشِمَةُ وَ اْلمُسْتَوْشِمَةُ مِنْ غَيْرِ دَاءٍ. ابو داود 4: 78، رقم: 4170
Dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Telah dilanat wanita yang menyambung rambut dan wanita yang minta disambung rambutnya, wanita yang mencabut bulu dahi (atau ngerik alis) dan wanita yang dicabut bulu dahinya (atau dikerik alisnya) dan wanita yang mencacah (mentatto) dan wanita yang minta dicacah (ditatto) bukan karena sakit". [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 78, no. 4170].

عَنِ عَلْقَمَةَ قَالَ: لَعَنَ عَبْدُ اللهِ اْلوَاشِمَاتِ وَ اْلمُتَنَمّصَاتِ وَ اْلمُتَفَلّجَاتِ لِلْحُسْنِ اْلمُغَيّرَاتِ خَلْقَ اللهِ، فَقَالَتْ اُمُّ يَعْقُوْبَ: مَا هذَا؟ قَالَ عَبْدُ اللهِ: وَ مَا لِى لاَ اَلْعَنُ مَنْ لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ ص وَ فِى كِتَابِ اللهِ. قَالَتْ: وَ اللهِ لَقَدْ قَرَأْتُ مَا بَيْنَ لَوْحَيْنِ فَمَا وَجَدْتُهُ. قَالَ: وَ اللهِ، َلاِنْ قَرَأْتِيْهِ وَجَدْتِيْهِ: وَ مَا آتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ، وَ مَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا. البخارى 7: 63
Dari Alqamah ia berkata : Abdullah (bin Masud) melanat wanita-wanita yang mencacah (mentatto) dan melanat wanita-wanita yang dicabut bulu dahinya (atau dikerik alisnya) dan wanita-wanita yang menjarangkan giginya supaya cantik, yaitu para wanita yang mengubah ciptaan Allah". Lalu Ummu Yaqub berkata (kepada Ibnu Mas'ud) Apa ini ?. Maka Abdullah bin Mas'ud berkata, "Mengapa aku tidak boleh melanat kepada orang yang dilanat oleh Rasulullah SAW sedangkan di dalam kitab Allah (sudah dijelaskan). Wanita itu berkata, Demi Allah, sungguh aku telah baca semuanya, tetapi aku tidak mendapatinyaAbdullah (bin Masud) berkata, Demi Allah, kalau kamu membacanya, pasti kamu mendapatinya. (Allah Ta'ala berfirman yang artinya), "Apa yang didatangkan oleh Rasul kepada kalian, maka terimalah dia, dan apa yang dilarang oleh Rasul kepada kalian, maka tinggalkanlah". (Al-Hasyr : 7). [HR. Bukhari juz 7, hal. 63].

عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ ص اَلْوَاشِمَاتِ وَ اْلمُوْتَشِمَاتِ وَ اْلمُتَنَمّصَاتِ وَ اْلمُتَفَلّجَاتِ ِللْحُسْنِ اْلمُغَيّرَاتِ. النسائى 8: 146
Dari Abdullah (bin Masud), ia berkata : Rasulullah SAW melanat wanita yang mentatto dan wanita yang minta ditatto, wanita yang mencabut bulu dahinya (mengerik alisnya) dan wanita yang menjarangkan giginya supaya cantik, yaitu para wanita yang merubah ciptaan Allah. [HR. An-Nasaiy juz 8, hal. 146]

عَنْ سَعِيْدِ بْنِ اْلمُسَيَّبِ قَالَ: قَدِمَ مُعَاوِيَةُ اْلمَدِيْنَةَ فَخَطَبَنَا، وَ اَخْرَجَ كُبَّةً مِنْ شَعَرٍ، فَقَالَ: مَا كُنْتُ أُرَى اَنَّ اَحَدًا يَفْعَلُهُ اِلاَّ اْليَهُوْدَ. اِنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص بَلَغَهُ فَسَمَّاهُ الزُّوْرَ. مسلم 4: 1680
Dari Said bin Musayyab, ia berkata, Mu'awiyah datang di Madinah lalu berkhutbah kepada kami, dia mengeluarkan seikat rambut lalu berkata : "Aku tidak pernah melihat seorang pun yang berbuat demikian ini kecuali orang-orang Yahudi. Sesungguhnya Rasulullah SAW ketika hal itu sampai kepada beliau, menamakannya dengan Az-zuur (kepalsuan). [HR. Muslim juz 4, hal. 1680]

Tentang wanita mencukur (menggundul) rambut kepalanya


عَنْ خِلاَسِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ عَلِيّ قَالَ، نَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص اَنْ تَحْلِقَ اْلمَرْأَةُ رَأْسَهَا. الترمذى 2: 198، رقم: 917
Dari Khilas bin Amr dari Ali, ia berkata, Rasulullah SAW melarang wanita mencukur (menggundul) rambut kepalanya. [HR Tirmidzi juz 2, hal. 198, no. 917, hadits ini juga diriwayatkan oleh Nasai juz 8, hal. 130, hadits ini dlaif, karena dalam sanadnya ada perawi bernama Muhammad bin Musa Al-Harasyi].

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص نَهَى اَنْ تَحْلِقَ اْلمَرْأَةُ رَأْسَهَا. الترمذى 2: 198، رقم: 918

Dari ‘Aisyah bahwasanya Nabi SAW melarang wanita mencukur (menggundul) rambut kepalanya. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 198, no. 918, hadits ini munqathi’ karena Qatadah bin Da’amah tidak bertemu dengan ‘Aisyah].

عَنْ خِلاَسِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص اَنْ تَحْلِقَ اْلمَرْأَةُ رَأْسَهَا. الترمذى 2: 198، رقم: 918
Dari Khilas bin Amr, ia berkata, Rasulullah SAW melarang wanita mencukur (menggundul) rambut kepalanya. [HR. Tirmidzi, juz 2, hal. 198, no. 918, hadits ini mursal, karena Khilas bin Amr tidak bertemu dengan Nabi SAW].


Seputar aurat

Larangan memandang, bersentuhan lawan jenis dan kewajiban menjaga aurat

Firman Allah SWT :

قُلْ لّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَ يَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْ، ذلِكَ اَزْكى لَهُمْ، اِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا يَصْنَعُوْنَ. النور:30
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. [QS. An-Nuur : 30]

وَ قُلْ لّلْمُؤْمِنتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَ يَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَ لاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَ لْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلى جُيُوْبِهِنَّ وَ لاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلاَّ لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ ابآئِهِنَّ اَوْ ابآءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَآئِهِنَّ اَوْ اَبْنَآءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِى اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِى اَخَوَاتِهِنَّ اَوْ نِسآئِهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التَّابِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى اْلاِرْبَةِ مِنَ الرّجَالِ اَوِ الطّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلى عَوْرتِ النّسَآءِ، وَ لاَ يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّ، وَ تُوْبُوْا اِلَى اللهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. النور:31
Katakanlah kepada wanita yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [QS. An-Nuur : 31]

عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص عَنْ نَظَرِ اْلفُجَاءَةِ فَاَمَرَنِى اَنْ اَصْرِفَ بَصَرِى. مسلم 3: 1699
Dari Jarir bin Abdullah berkata : Saya pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang melihat (wanita) dengan tidak sengaja, maka beliau menyuruhku agar aku memalingkan pandanganku. [HR. Muslim juz 3, hal. 1699]

عَنْ جَرِيْرٍ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص عَنْ نَطْرَةِ اْلفَجْأَةِ فَقَالَ: اِصْرِفْ بَصَرَكَ. ابو داود: 2: 246، رقم: 2148
Dari Jarir, ia berkata : Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang melihat wanita dengan tidak sengaja, maka beliau bersabda, Palingkanlah pandanganmu. [HR. Abu Dawud juz 2, hal. 246, no. 2148]
عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص لِعَلِيّ: يَا عَلِيُّ، لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَاِنَّ لَكَ اْلاُوْلَى وَ لَيْسَتْ لَكَ اْلاخِرَةُ. ابو داود 2: 246، رقم: 2149
Dari Ibnu Buraidah, dari ayahnya, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda kepada Ali, Hai Ali, janganlah engkau iringkan satu pandangan (kepada wanita) dengan satu pandangan, karena yang pertama itu tidak mengapa, tetapi tidak yang kedua. [HR. Abu Dawud juz 2, hal. 246, no. 2149]

عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: َلاَنْ يُطْعَنَ فِى رَأْسِ اَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ اَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ. الطبرانى فى الكبير 20: 212، رقم: 486
Dari Ma’qil bin Yasaar, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Ditikam seorang diantara kalian di kepalanya dengan jarum dari besi adalah lebih baik daripada ia menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya. [HSR. Thabrani dalam Al-Kabir juz 20, hal. 212, no. 486]
Keterangan :
Di dalam Al-Qur'an dan hadits, laki-laki dilarang memandang wanita dan sebaliknya, dan kita diperintah supaya menundukkan pandangan. Kalau pandang memandang saja dilarang, sudah tentu berjabat tangan lebih keras lagi larangannya. Dan jika berjabat tangan saja dilarang, otomatis berciuman, berpelukan, berdansa, dan sebagainya tentu lebih dilarang lagi.

Aurat wanita di dalam rumah
Firman Allah SWT yang artinya : .....dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita..... .. [QS. An-Nuur : 31]

عَنْ اَنَسٍ: اَنَّ النَّبِيَّ ص اَتَى فَاطِمَةَ بِعَبْدٍ قَدْ وَهَبَهُ لَهَا. قَالَ وَ عَلَى فَاطِمَةَ رض ثَوْبٌ اِذَا قَنَّعَتْ بِهِ رَأْسَهَا لَمْ يَبْلُغْ رِجْلَيْهَا وَ اِذَا غَطَّتْ بِهِ رِجْلَيْهَا لَمْ يَبْلُغْ رَأْسَهَا. فَلَمَّا رَأَى النَّبِيُّ ص مَا تَلْقَى قَالَ: اِنَّهُ لَيْسَ عَلَيْكِ بَأْسٌ اِنَّمَا هُوَ اَبُوْكِ وَ غُلاَمُكِ. ابو داود 4: 62، 4106
Dari Anas bahwasanya Nabi SAW pernah memberi kepada Fathimah seorang hamba laki-laki, sedang Fathimah berpakaian yang apabila ia tutup kepalanya, terbuka kakinya, dan apabila ia tutup kakinya terbuka kepalanya. Tatkala melihat keadaan itu, Nabi SAW bersabda, Tidak mengapa bagimu, karena dia itu seperti bapakmu atau anak laki-lakimu. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 62, no. 4106]

Aurat wanita di dalam shalat

عَنْ عَائِشَةَ عَنِ النَّبِيّ ص اَنَّهُ قَالَ: لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ حَائِضٍ اِلاَّ بِخِمَارٍ. ابو داود 1: 173، رقم: 641
Dari Aisyah dari Nabi SAW, beliau bersabda, Allah tidak akan menerima shalat wanita yang sudah haidl melainkan dengan kudung kepala. [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 173, no. 641]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ اَبِى قَتَادَةَ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنِ امْرَأَةٍ صَلاَةً حَتَّى تُوَارِيَ زِيْنَتَهَا وَ لاَ مِنْ جَارِيَةٍ بَلَغَتِ اْلحَيْضَ حَتَّى تَخْتَمِرَ. الطبرانى الاوسط 8: 294، رقم: 7602
Dari Abdullah bin Abu Qatadah, dari ayahnya, ia berkata Rasulullah SAW bersabda, Allah tidak akan menerima shalat dari seorang wanita hingga ia menutup perhiasannya, dan tidak (diterima shalat) dari seorang wanita yang sudah baligh hingga ia berkerudung. [HR. Ath-Thabrani, dalam Al-Ausath juz 8, hal. 294, no. 7602]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ نِسَاءَ النَّبِيّ ص سَأَلْنَهُ عَنِ الذَّيْلِ فَقَالَ: اِجْعَلْنَهُ شِبْرًا. فَقُلْنَ: اِنَّ شِبْرًا لاَ يَسْتُرُ مِنْ عَوْرَةٍ. فَقَالَ: اِجْعَلْنَهُ ذِرَاعًا. احمد 2: 299، رقم: 5641
Dari Ibnu Umar, bahwasanya istri-istri Nabi SAW bertanya kepada beliau tentang pinggir kain, maka Rasulullah menjawab, Panjangkanlah sejengkal. Mereka berkata, Sejengkal tidak dapat menutup aurat. Maka sabda beliau, Jadikanlah sehasta. [HR. Ahmad juz 2, hal. 399, no. 5641]

عَنْ اُمّ سَلَمَةَ اَنَّهَا سَأَلَتِ النَّبِيَّ ص: اَ تُصَلّى اْلمَرْأَةُ فِى دِرْعٍ وَ خِمَارٍ وَ لَيْسَ عَلَيْهَا اِزَارٌ؟ قَالَ: اِذَا كَانَتِ الدّرْعُ سَابِغًا يُغَطّى ظُهُوْرَ قَدَمَيْهَا. ابو داود 1: 173، رقم: 640
Dari Ummu Salamah bahwasanya ia bertanya kepada Nabi SAW, Bolehkah wanita shalat dengan memakai baju panjang dan kerudung, tetapi tidak memakai izar (kain bawahan) ? Jawab beliau, Boleh, kalau baju itu panjang hingga menutup bagian luar kedua tapak kakinya. [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 173, no. 640]

Aurat wanita di luar rumah

ياَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ ِلاَزْوَاجِكَ وَ بَنَاتِكَ وَ نِسَآءِ اْلمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلبِيْبِهِنَّ، ذلِكَ اَدْنى اَنْ يُّعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ، وَ كَانَ اللهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا. الاحزاب:59
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Al-Ahzab : 59]

عَنْ عَائِشَةَ رض اَنَّ اَسْمَاءَ بِنْتَ اَبِى بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ ص وَ عَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَاَعْرَضَ عَنْهَا رَسُوْلُ اللهِ ص وَ قَالَ: يَا اَسْمَاءُ اِنَّ اْلمَرْأَةَ اِذَا بَلَغَتِ اْلمَحِيْضَ لَمْ يَصْلُحْ اَنْ يُرَى مِنْهَا اِلاَّ هذَا وَ هذَا. وَ اَشَارَ اِلَى وَجْهِهِ وَ كَفَّيْهِ. ابو داود و قال: هذا مرسل خالد ابن دريك لم يدرك عائشة. 4: 62، رقم:
Dari Aisyah RA, ia berkata : Sesungguhnya Asma binti Abu Bakar datang menghadap Rasulullah SAW dengan berpakaian tipis, maka Rasulullah SAW berpaling dan bersabda, Hai Asma ! Sesungguhnya seorang wanita apabila sudah haidl, tidak boleh terlihat padanya melainkan ini dan ini, beliau sambil mengisyaratkan pada muka dan dua tapak tangan beliau. [HR. Abu Dawud, dan ia berkata : Hadits ini mursal, karena Khalid bin Duraik tidak bertemu Aisyah, juz 4, hal. 62, no. 4104].

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: صِنْفَانِ مِنْ اَهْلِ النَّارِ لَمْ اَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَاَذْنَابِ اْلبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ. وَ نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ اْلبُخْتِ اْلمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ اْلجَنَّةَ وَ لاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا، وَ اِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَ كَذَا. مسلم 4: 2192
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Ada dua golongan orang ahli neraka yang aku belum pernah melihatnya, yaitu kaum (orang-orang) yang memegang cambuk bagaikan ekor sapi yang digunakan untuk memukul orang lain dan orang perempuan yang berpakaian tetapi seperti telanjang, berlenggak-lenggok kepalanya bagaikan punuk unta yang miring. Maka mereka itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal bau surga itu sudah tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian (jarak yang sangat jauh). [HR. Muslim juz 4, hal. 2192]

Tentang aurat laki-laki


Aurat laki-laki dalam shalat adalah antara pusar dan lutut berdasarkan sabda Nabi kepada Jabir bin Abdullah sebagai berikut.
فَاِنْ كَانَ وَاسِعًا فَالْتَحِفْ بِهِ وَاِنْ كَانَ ضَيّقًا فَاتَّزِرْ بِهِ. البخارى 1:
Jika kain itu longgar, maka berselimutlah dengannya. Tetapi jika sempit, maka pakailah untuk izar (kain bawahan yang menutup antara pusar dan bawah lutut). [HR. Bukhari juz 1, hal. 95]

Adapun tentang aurat laki-laki di luar shalat, dalam hal ini ada 2 pendapat :
Pendapat pertama : antara pusar sampai lutut, berdasar hadits :

مَا بَيْنَ السُّرَّةِ اِلَى الرُّكْبَةِ عَوْرَةٌ. الطبرانى فى الاوسط 8: 372، رقم: 7757
Apa-apa yang antara pusar sampai lutut adalah aurat. [HR. Thabrani dalam Al-Ausath juz 8, hal. 372, no. 7757, dlaif karena dalam sanadnya ada perawi bernama Ashram bin Hausyab]

Pendapat kedua :  paha tidak termasuk aurat, berdasarkan hadits :

قَالَ اَنَسٌ اِنَّ النَّبِيَّ ص يَوْمَ خَيْبَرَ حَسَرَ اْلاِزَارَ عَنْ فَخِذِهِ حَتَّى اِنّى اَنْظُرُ اِلَى بَيَاضِ فَخِذِ نبي الله ص. البخارى 1: 98
Anas berkata, Sesungguhnya di hari peperangan Khaibar, Nabi SAW mengangkat kainnya hingga saya dapat melihat paha Nabi Allah SAW yang putih. [HR. Bukhari juz 1, hal. 98]
 Walloohu alam.

Larangan Mencuri

Larangan Mencuri dan Hukumannya
Firman Allah SWT :

وَ السَّارِقُ وَ السَّارِقَةُ فَاقْطَعُوْآ اَيْدِيَهُمَا جَزَآءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مّنَ اللهِ، وَ اللهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ. فَمَنْ تَابَ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِه وَ اَصْلَحَ فَاِنَّ اللهَ يَتُوْبُ عَلَيْهِ، اِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ. المائدة:38-39
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Maka barangsiapa bertaubat (diantara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Al-Maidah : 38-39]

Hadits-hadits Nabi SAW :

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ قُرَيْشًا اَهَمَّهُمْ شَأْنُ اْلمَرْاَةِ اْلمَخْزُوْمِيَّةِ الَّتِيْ سَرَقَتْ فَقَالُوْا مَنْ يُكَلّمُ فِيْهَا رَسُوْلَ اللهِ ص؟ فَقَالُوْا: وَ مَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ اِلاَّ اُسَامَةُ حِبُّ رَسُوْلِ اللهِ ص؟ فَكَلَّمَهُ اُسَامَةُ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَتَشْفَعُ فِيْ حَدّ مِنْ حُدُوْدِ اللهِ؟ ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ فَقَالَ: اَيُّهَا النَّاسُ، اِنَّمَا اَهْلَكَ الَّذِيْنَ قَبْلَكُمْ اَنَّهُمْ كَانُوْا اِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الشَّرِيْفُ تَرَكُوْهُ، وَ اِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الضَّعِيْفُ اَقَامُوْا عَلَيْهِ اْلحَدَّ. وَاَيْمُ اللهِ، لَوْ اَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا. مسلم 3: 1315
Dari Aisyah, ia berkata : Sesungguhnya orang-orang Quraisy disibukkan oleh kejadian seorang wanita Makhzumiyah yang mencuri. Mereka berkata,Siapa orang yang berani menyampaikan masalah itu kepada Rasulullah SAW (agar mendapat keringanan hukuman ). Lalu diantara mereka ada yang berkata, Siapa lagi yang berani menyampaikan hal itu kepada beliau kecuali Usamah kecintaan Rasulullah SAW ?. Lalu Usamah menyampaikan hal itu kepada beliau. Maka Rasulullah SAW bersabda kepada Usamah, Apakah kamu akan membela orang yang melanggar hukum dari hukum-hukum Allah ?. Kemudian beliau berdiri dan berkhutbah. Beliau bersabda, Hai para manusia, sesungguhnya yang menyebabkan hancurnya orang-orang sebelum kalian bahwasanya mereka itu apabila orang terhormat di kalangan mereka yang mencuri, mereka membiarkannya, tetapi jika orang lemah diantara mereka yang mencuri, mereka menghukumnyaDemi Allah, seandainya Fathimah bint Muhammad mencuri, pasti aku potong tangannya. [HR. Muslim juz 3, hal. 1315].

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ اسْتَعَارَتِ امْرَأَةٌ عَلَى اَلْسِنَةِ اُنَاسٍ يُعْرَفُوْنَ وَ هِيَ لاَ تُعْرَفُ حُلِيًّا فَبَاعَتْهُ وَ اَخَذَتْ ثَمَنَهُ فَاُتِيَ بِهَا رَسُوْلُ اللهِ ص فَسَعَى اَهْلُهَا اِلَى اُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، فَكَلَّمَ رَسُوْلَ اللهِ ص فِيْهَا، فَتَلَوَّنَ وَجْهُ رَسُوْلِ اللهِ ص وَ هُوَ يُكَلّمُهُ ثُمَّ قَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَتَشْفَعُ اِلَيَّ فِيْ حَدّ مِنْ حُدُوْدِ اللهِ؟ فَقَالَ اُسَامَةُ اسْتَغْفِرْ لِيْ يَا رَسُوْلَ اللهِ. ثُمَّ قَامَ رَسُوْلُ اللهِ ص عَشِيَّتَئِذٍ فَاَثْنَى عَلَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ بِمَا هُوَ اَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ: اَمَّا بَعْدُ، فَاِنَّمَا هَلَكَ النَّاسُ قَبْلَكُمْ اَنَّهُمْ كَانُوْا اِذَا سَرَقَ الشَّرِيْفُ فِيْهِمْ تَرَكُوْهُ، وَ اِذَا سَرَقَ الضَّعِيْفُ فِيْهِمْ اَقَامُوْا عَلَيْهِ اْلحَدّ.َ وَ الَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَوْ اَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا. ثُمَّ قَطَعَ تِلْكَ اْلمَرْأَةَ. النسائى 8: 73
Dari Aisyah, ia berkata : Ada seorang wanita Makhzumiyah yang meminjam perhiasan dengan perantaraan orang-orang yang dikenal, sedang ia tidak dikenal. Tetapi kemudian ia menjual perhiasan tersebut dan mengambil hasil penjualan tersebut. Kemudian ia dihadapkan kepada Rasulullah SAW, maka keluarganya meminta Usamah bin Zaid (agar memintakan keringanan kepada beliau). Setelah Usamah menyampaikan hal itu kepada Rasulullah SAW, maka wajah Rasulullah SAW memerah, lalu beliau bersabda kepada Usamah, Apakah kamu akan minta tolong kepadaku untuk pelanggar hukum dari hukum-hukum Allah ?. Usamah berkata, Mohonkanlah ampunan untukku, ya Rasulullah. Kemudian pada sore itu beliau berdiri dan berkhutbah. Setelah beliau memanjatkan puji syukur kepada Allah Azza wa Jalla, kemudian beliau bersabda, Ammaa badu, sesungguhnya hancurnya orang-orang sebelum kalian, disebabkan mereka itu bila yang mencuri dari orang yang terhormat di kalangan mereka, maka mereka membiarkannya, tetapi bila yang mencuri itu dari orang yang lemah diantara mereka, maka mereka melaksanakan hukuman atasnya. Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya. Kemudian beliau memotong tangan wanita itu. [HR. Nasaiy juz 8, hal. 73]

عَنْ اَبِى اُمَيَّةَ اْلمَخْزُوْمِيّ اَنَّ النَّبِيَّ ص اُتِيَ بِلِصٍ قَدِ اعْتَرَفَ اِعْتِرَافًا وَ لَمْ يُوْجَدْ مَعَهُ مَتَاعٌ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَا اِخَالُكَ سَرَقْتَ ؟ قَالَ: بَلَى. فَاَعَادَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ اَوْ ثَلاَثًا، فَاُمِرَ بِهِ فَقُطِعَ وَ جِيْءَ بِهِ، فَقَالَ: اِسْتَغْفِرِ اللهَ وَ تُبْ اِلَيْهِ. فَقَالَ: اَسْتَغْفِرُ اللهَ وَ اَتُوْبُ اِلَيْهِ. فَقَالَ: اَللّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ ثَلاَثًا. ابو داود 4: 134، رقم: 4380
Dari Abu Umayyah Al-Makhzumiy, ia berkata : Sesungguhnya telah dihadapkan kepada Nabi SAW seorang pencuri yang telah mengakui perbuatannya, sedangkan barangnya sudah tidak ada, maka Rasulullah SAW bersabda, Aku tidak menyangka kamu telah mencuri. Ia berkata, Betul, (saya telah mencuri, ya Rasulullah). Dia mengulangi pengakuannya itu dua atau tiga kali. Kemudian beliau memerintahkan (supaya orang itu dipotong tangannya), lalu orang itu pun dipotong tangannya. Kemudian orang itu dihadapkan lagi pada beliau, maka beliau bersabda, Mohon ampunlah kepada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya. Ia berkata, Saya mohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Lalu beliau berdoa, Ya Allah, terimalah taubatnya. Beliau mengulangi doanya itu hingga tiga kali. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 134, no. 4380].

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص اُتِيَ بِسَارِقٍ قَدْ سَرَقَ شَمْلَةً فَقَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنَّ هذَا قَدْ سَرَقَ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذْهَبُوْا بِهِ فَاقْطَعُوْهُ ثُمَّ احْسِمُوْهُ ثُمَّ ائْتُوْنِى بِهِ، فَقُطِعَ فَاُتِيَ بِهِ. فَقَالَ: تُبْ اِلَى اللهِ. فَقَالَ: قَدْ تُبْتُ اِلَى اللهِ. قَالَ: تَابَ اللهُ عَلَيْكَ. الدارقطنى 3: 102، رقم: 71
Dari Abu Hurairah, bahwasanya pernah dihadapkan kepada Rasulullah SAW seorang pencuri yang mencuri jubah, lalu mereka (para shahabat) berkata,Ya Rasulullah, sesungguhnya orang ini telah mencuri. Maka Rasulullah SAW bersabda, (Jika begitu) bawalah dia pergi, dan potonglah tangannya, lalu obatilah dia, setelah itu bawalah dia kemari. Kemudian ia dipotong (tangannya), lalu dibawa kepada Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW bersabda,Bertaubatlah kamu kepada Allah. Pencuri itupun lalu menyatakan, Sungguh aku telah bertaubat kepada Allah. Lalu Rasulullah SAW berdoa, Semoga Allah menerima taubatmu. [HR Daruquthni juz 3, hal. 102, no. 71]

Besarnya nilai barang curian yang menyebabkan potong tangan

عَنْ عَائِشَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص قَالَ: لاَ تُقْطَعُ يَدُ السَّارِقِ اِلاَّ فِى رُبُعِ دِيْنَارٍ فَصَاعِدًا. مسلم 3: 1312
Dari Aisyah, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, Tidak dipotong tangan pencuri kecuali pada pencurian senilai seperempat dinar atau lebih. [HR. Muslim juz 3, hal. 1312]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَطَعَ سَارِقًا فِى مِجَنّ ثَمَنُهُ ثَلاَثَةُ دَرَاهِمَ. مسلم 3: 1313
Dari Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah SAW memotong tangan pencuri perisai yang harganya tiga dirham. [HR. Muslim juz 3, hal. 1313]
Keterangan :
Tiga dirham pada waktu itu sama dengan seperempat dinar, jadi satu dinar sama dengan dua belas dirham.

عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيْجٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: لاَ قَطْعَ فِى ثَمَرٍ وَ لاَ كَثَرٍالنسائى 8: 86
Dari Rafi bin Khadij, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, Tidak ada hukuman potong tangan dalam pencurian buah dan mayang pohon kurma. [HR. Nasaiy juz 8, hal. 86]

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ اَبِيْهِ عَنْ جَدّهِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص اَنَّهُ سُئِلَ عَنْ الثَّمَرِ اْلمُعَلَّقِ فَقَالَ: مَا اَصَابَ مِنْ ذِيْ حَاجَةٍ غَيْرَ مُتَّخِذٍ خُبْنَةً فَلاَ شَيْءَ عَلَيْهِ. وَ مَنْ خَرَجَ بِشَيْءٍ مِنْهُ فَعَلَيْهِ غَرَامَةُ مِثْلَيْهِ وَ اْلعُقُوْبَةُ. وَ مَنْ سَرَقَ شَيْئًا مِنْهُ بَعْدَ اَنْ يُؤْوِيَهُ اْلجَرِيْنُ فَبَلَغَ ثَمَنَ اْلمِجَنّ فَعَلَيْهِ اْلقَطْعُ. وَ مَنْ سَرَقَ دُوْنَ ذلِكَ فَعَلَيْهِ غَرَامَةُ مِثْلَيْهِ وَ اْلعُقُوْبَةُ. النسائى 8: 85
Dari Amr bin Syuaib, dari ayahnya, dari kakeknya yakni Abdullah bin Amr, dari Rasulullah SAW, bahwasanya beliau pernah ditanya tentang buah yang dicuri ketika masih di pohon, beliau bersabda, Bila seseorang mencuri buah karena terpaksa, maka ia tidak dikenakan hukuman apapun, selagi ia tidak membawanya pulang. Tetapi barangsiapa yang membawa pulang, maka ia dikenakan denda dua kali lipat dari harga barang yang dicurinya, dan diberi hukuman sebagai peringatan. Dan barangsiapa yang mencuri buah yang telah berada di tempat penjemuran, sedangkan buah yang dicuri itu harganya mencapai harga sebuah perisai, maka tangannya harus dipotong. Tetapi barangsiapa yang mencurinya kurang dari itu, maka ia dikenakan denda dua kali lipat dan harus diberi hukuman sebagai peringatan. [HR. Nasaiy juz 8, hal. 85]

عَنْ عَمْرَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمنِ اَنَّ سَارِقًا سَرَقَ فِى زَمَانِ عُثْمَانَ اُتْرُجَّةً، فَاَمَرَ بِهَا عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ اَنْ تُقَوَّمَ فَقُوّمَتْ بِثَلاَثَةِ دَرَاهِمَ مِنْ صَرْفِ اثْنَى عَشَرَ بِدِيْنَارٍ فَقَطَعَ عُثْمَانُ يَدَهُمالك فى الموطأ 2: 832، رقم: 23
Dari Amrah binti Abdurrahman, ia berkata, Sesungguhnya ada seorang pencuri mencuri buah jeruk di zaman pemerintahan Utsman (bin Affan). Lalu oleh Utsman bin Affan diperintahkan supaya dinilai, maka buah tersebut dinilai seharga tiga dirham dengan kurs 12 dirham sama dengan satu dinar. Kemudian Utsman memotong tangan pencuri itu. [HR. Malik, dalam Muwaththa juz 2, hal. 832, no. 23]

Apabila pencuri telah dimaafkan sebelum sampai pada hakim, maka hukuman tidak dilaksanakan.

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ اَبِيْهِ عَنْ جَدّهِ عَنْ النَّبِيّ ص قَالَ: تَعَافَوُا اْلحُدُوْدَ قَبْلَ اَنْ تَأْتُوْنِيْ بِهِ. فَمَا اَتَانِيْ مِنْ حَدّ فَقَدْ وَجَبَ. النسائى 8: 70
Dari Amr bin Syuaib dari ayahnya, dari kakeknya dari Nabi SAW, beliau bersabda, Maafkanlah hukuman, sebelum kalian membawa perkara itu ke hadapanku. Tetapi kalau perkara itu sudah sampai di hadapanku, maka hukum pasti dilaksanakan. [HR. Nasaiy juz 8, hal. 70]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ اْلعَاصِ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: تَعَافَوُا اْلحُدُوْدَ فِيْمَا بَيْنَكُمْ. فَمَا بَلَغَنِى مِنْ حَدّ فَقَدْ وَجَبَ. ابو داود 4: 133، رقم: 4376
Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, Saling memaafkanlah kalian tentang masalah hukuman yang terjadi diantara kalian. Tetapi kalau perkara itu telah sampai kepadaku, maka hukum pasti dilaksanakan. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 133, no. 4376]

عَنِ اْلاَوْزَاعِيّ قَالَ حَدَّثَنِيْ عَطَاءُ بْنُ اَبِي رَبَاحٍ اَنَّ رَجُلاً سَرَقَ ثَوْبًا، فَاُتِيَ بِهِ رَسُوْلُ اللهِ ص فَاَمَرَ بِقَطْعِهِ. فَقَالَ الرَّجُلُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، هُوَلَهُ.قَالَ: فَهَلاَّ قَبْلَ اْلآنَ. النسائى 8: 68
Dari Al-Auzaiy, ia berkata, Atha bin Abu Rabah menceritakan kepadaku bahwasanya ada seorang yang mencuri sebuah baju, maka ia dihadapkan kepada Rasulullah SAW. Lalu Rasulullah SAW menyuruh supaya tangan pencuri itu dipotong, maka. orang yang dicuri bajunya itu berkata, Ya Rasulullah, sekarang baju itu aku relakan untuknya (dan aku telah memaafkannya). Beliau bersabda, Mengapa kamu tidak memaafkannya sebelum kamu menghadapkannya kepadaku ?. [HR. Nasaiy juz 8, hal. 68]