Pengertian puasa

PUASA

Puasa, yang di dalam bahasa Al-Qur'an  Ash-Shaum/Ash-Shiyam adalah salah satu dari beberapa kewajiban yang harus dilaksanakan  oleh orang-orang beriman. Firman Allah :

ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ. البقرة: 183
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa seba-gaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu  bertaqwa. [QS. Al-Baqarah  :  183]

1. Pengertian  Ash-Shiyam  (Puasa)
Ash-Shiyam atau Ash-shaum menurut lughah/bahasa,  artinya : "Menahan diri dari melakukan sesuatu". Seperti firman  Allah :
اِنّيْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمنِ صَوْمًا فَلَنْ اُكَلّمَ اْليَوْمَ اِنْسِيًّا. مريم: 26
Sesungguhnya aku telah bernadzar akan  berpuasa  karena Tuhan  Yang  Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seseorang  manusiapun pada hari ini. [QS. Maryam : 26]
Menurut Syara', ialah :
اَْلاِمْسَاكُ عَنِ اْلأَكْلِ وَ الشُّرْبِ وَ غَشَيَانِ النّسَاءِ مِنَ اْلفَجْرِ اِلىَ اْلمَغْرِبِ اِحْتِسَابًا للهِ وَ اِعْدَادًا لِلنَّفْسِ وَ تَهْيِئَةً لَهَا لِتَقْوَى اللهِ بِاْلمُرَاقَبَةِ لَهُ وَ تَرْبِيَةِ اْلاِرَادَةِ. تفسير المنار 2: 143
Menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh, mulai fajar hingga Maghrib, karena mengharap ridla Allah dan menyiapkan diri untuk bertaqwa kepada-Nya dengan jalan  mendekatkan  diri kepada Allah dan mendidik kehendak. [Tafsir Al-Manaar juz 2, hal. 143]
اَْلاِمْسَاكُ عَنِ اْلأَكْلِ وَ الشُّرْبِ وَ اْلجِمَاعِ وَ غَيْرِهِمَا ِممَّا وَرَدَ بِهِ الشَّرْعُ فِى النَّهَارِ عَلَى اْلوَجْهِ اْلمَشْرُوْعِ. وَ يَتْبَعُ ذلِكَ اْلاِمْسَاكُ عَنِ اللَّغْوِ وَ الرَّفَثِ وَ غَيْرِهِمَا مِنَ اْلكَلاَمِ اْلمُحَرَّمِ وَ اْلمَكْرُوْهِ فِى وَقْتٍ مَخْصُوْصٍ بِشُرُوْطٍ مَخْصُوْصَةٍ. سبل السلام 1: 150
Menahan diri dari makan, minum, jima' dan lain-lain yang telah  diperintahkan syara kepada kita menahan diri padanya, sepanjang hari  menurut cara yang disyariatkan. Disertai pula menahan diri dari perkataan sia-sia, perkataan keji/kotor dan lainnya dari perkataan yang diharamkan dan dimakruhkan pada waktu yang telah ditentukan serta menurut syarat-syarat yang telah  ditetapkan. [Subulus Salaam juz 1, hal. 150]
Tegasnya : "PUASA", ialah : Menahan diri untuk tidak makan, minum termasuk merokok dan bersetubuh dari mulai Fajar hingga terbenam matahari pada bulan Ramadlan karena mencari ridla Allah.

2.  Hukum Ash-Shiyam (Puasa)
Wajib 'Ain, artinya setiap orang Islam yang telah baligh (dewasa) dan sehat akalnya serta tidak ada sebab-sebab yang dibenarkan agama untuk tidak berpuasa, maka mereka itu wajib melakukannya, dan berdosa bagi yang  meninggalkannya dengan sengaja. Firman Allah :
ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ. البقرة: 183
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa seba-gaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu  bertaqwa. [QS. Al-Baqarah : 183]
Dan hadits-hadits Rasulullah SAW :
بُنِيَ اْلاِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَ اِقَامِ الصَّلاَةِ وَ اِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَ صِيَامِ رَمَضَانَ وَ حَجّ اْلبَيْتِ. البخارى و مسلم
Islam didirikan atas lima sendi, yaitu 1. Mengakui bahwa tak ada  Tuhan melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad pesuruh Allah, 2. Mendirikan Shalat, 3. Menunaikan zakat, 4. Berpuasa Ramadlan  dan  5. Berhajji. [HR. Bukhari dan Muslim]
اِنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ ص فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ  اَخْبِرْنِى عَمَّا فَرَضَ اللهُ عَلَيَّ مِنَ الصّيَامِ ! قَالَ: شَهْرُ رَمَضَانَ. قَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُ ؟ قَالَ: لاَ. اِلاَّ اَنْ تَطَوَّعَ. متفق عليه عن طلحة بن عبيد الله
Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW, "Ya  Rasulullah, saya mohon diterangkan tentang puasa yang diwajibkan oleh Allah kepada saya". Nabi SAW menjawab, "Puasa di bulan Ramadlan". Orang itu  bertanya  pula,  "Adakah  puasa yang lain yang  diwajibkan  atas  diri saya ?". Jawab Nabi SAW, "Tidak, kecuali bila engkau hendak mengerjakan tathawwu' (puasa sunnah). [HR. Muttafaq 'Alaih dari Thalhah bin 'Ubaidillah]

3. Yang Wajib Berpuasa
Ketentuan-ketentuan orang yang berkewajiban menjalankan puasa di bulan Ramadlan :
a.  Orang Islam, tidak diwajibkan selain orang Islam.
b.  'Aqil baligh  (dewasa), bukan anak-anak.
c.  Sehat.
d.  Muqim (berada di daerah tempat tinggalnya/daerah iqomahnya), bukan sebagai musafir.
e.  Kuat, yakni tidak memaksakan diri karena sangat berat dan payah  bila  berpuasa.
f.   Khusus bagi wanita pada waktu suci, artinya tidak sedang haidl atau nifas.

4.  Yang  Membatalkan Puasa
Sepanjang tuntunan Allah dan Rasul-Nya hal-hal yang membatalkan puasa adalah sebagai berikut :
Firman Allah SWT dalam  surat  Al-Baqarah ayat  187,
اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصّيَامِ الرَّفَثُ اِلى نِسَاءِكُمْ. هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَ اَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ، عَلِمَ اللهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَ عَفَا عَنْكُمْ، فَلْئنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَ ابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللهُ لَكُمْ، وَ كُلُوْا وَ اشْرَبُوْا حَتّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ اْلخَيْطُ اْلاَبْيَضُ مِنَ اْلخَيْطِ اْلاَسْوَدِ مِن َاْلفَجْرِ، ثُمَّ اَتِمُّوا الصّيَامَ اِلىَ الَّيْلِ ... البقرة: 187
Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka itu pakaian bagimu, dan kamupun pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi  keringanan kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka  dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang  hitam,  yaitu Fajar.  Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam ..... .  [QS. Al-Baqarah: 187]
Dari ayat tersebut dapat diambil pengertian bahwa yang membatalkan  puasa itu ialah :
a.  Bersetubuh suami-isteri dengan sengaja dan dilakukan pada saat puasa (dari mulai masuk waktu Shubuh hingga masuk waktu Maghrib), padahal mereka  termasuk orang yang berkewajiban puasa.
Dan yang dimaksud dengan "bersetubuh", ialah masuknya kemaluan laki-laki/suami pada kemaluan wanita/istri. Jadi baik mengeluarkan mani maupun tidak, hukumnya tetap sama. Karena tidak adanya ayat-ayat lain maupun hadits-hadits yang membatasi, bahwa yang dimaksud "bersetubuh" adalah yang mengeluarkan mani, maka ayat itu tetap berlaku sesuai  dengan keumuman  lafadhnya.
b.  Makan dengan sengaja, baik makanan yang mengenyangkan atau tidak.
c.  Minum, baik yang menghilangkan  haus atau tidak, termasuk merokok.

5.  Yang Boleh Tidak Berpuasa dan Wajib Mengganti di hari-hari yang Lain :
a. Orang yang sakit, yang apabila ia tetap berpuasa akan menambah berat atau akan memperlambat kesembuhan sakitnya, sedang sakitnya itu dapat diharapkan kesembuhannya (bukan sakit yang menahun atau sakit yang kronis dan terus-menerus sehingga sulit diharapkan kesembuhannya).
b.  Musafir, ialah : Orang yang sedang bepergian keluar dari daerah iqomahnya, baik dengan perjalanan yang berat dan sukar maupun dengan ringan dan mudah; kesemuanya diperbolehkan untuk tidak berpuasa dan berkewajiban mengganti di hari yang lain. Berdasarkan firman Allah :
فَمَنْ  كَانَ  مِنْكُمْ  مَّرِيْضًا  اَوْ عَلى سَفَرٍ  فَعِدَّةٌ  مّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ. البقرة: 184
Dan barangsiapa diantara kamu yang sakit atau dalam bepergian (musafir) ~maka bolehlah ia berbuka~ dan mengganti di hari-hari  yang lain (sebanyak yang ditinggalkannya). [QS. Al-Baqarah : 184].
وَ مَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ. البقرة: 185
Dan barangsiapa yang sakit atau dalam bepergian (musafir) ~maka bolehlah ia berbuka~ dan mengganti di hari-hari yang lain (sebanyak yang ditinggalkannya). [QS. Al-Baqarah : 185].

6. Batas Waktu Mengganti
Tidak ada ketentuan dalam agama tentang  batas waktu mengganti puasa yang ditinggalkan. Dapat dilaksanakan pada bulan-bulan sesudah selesai Ramadlan tahun itu atau bulan-bulan sesudah Ramadlan tahun  berikutnya.
Tegasnya selama ia masih hidup, kapanpun boleh, tanpa menambah  fidyah atau melipat gandakan puasanya (misalnya hutang satu hari diganti dua hari dan sebagainya). Hanya sebaiknya segera diganti.

7. Yang Boleh  Tidak  Berpuasa  dan Hanya Mengganti  Fidyah  Tanpa  Harus Mengganti Puasa di Hari Yang lain.
Yaitu : Orang-orang yang bila dipaksakan  untuk  berpuasa  masih dapat, tetapi sungguh amat payah sekali dalam melaksanakannya. Perhatikan Firman Allah  :
وَ عَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَه فِدْيَةٌ ... البقرة: 184
Dan terhadap orang-orang yang bisa berpuasa tetapi dengan  susah payah (boleh tidak berpuasa), wajib membayar fidyah. [QS. Al-Baqarah : 184]
Ayat tersebut umum, maka siapa saja yang walaupun mampu berpuasa tetapi dengan amat payah (rekoso) dalam menjalankannya, maka termasuk yang dimaksud oleh ayat di atas, misalnya :
a.  Wanita yang sedang hamil yang bila berpuasa dikhawatirkan akan  menimbulkan gangguan pada dirinya dan/atau anak yang dikandungnya.
b.  Wanita yang sedang menyusui, baik anaknya sendiri maupun anak orang lain yang diserahkan kepadanya untuk disusui, yang bila dipaksakan untuk berpuasa akan sangat berat bagi dirinya dan/atau bagi anak yang sedang disusuinya itu. Rasulullah SAW bersabda :
اِنَّ اللهَ وَضَعَ عَنِ اْلمُسَافِرِ الصَّوْمَ وَ شَطْرَ الصَّلاَةِ وَ عَنِ اْلحُبْلَى وَ اْلمُرْضِعِ الصَّوْمَ. احمد عن انس بن مالك الكعبى
Bahwasanya Allah SWT telah membolehkan bagi musafir meninggalkan puasa dan mengqashar shalat, dan Allah telah membolehkan perempuan hamil dan yang sedang menyusui meninggalkan puasa. [HR. Ahmad dari Anas bin Malik Al-Ka'bi].
Dan riwayat dari Ibnu Abbas RA. tentang istrinya yang sedang hamil, katanya :
اَنْتِ ِبمَنْزِلَةِ الَّذِى لاَ يُطِيْقُهُ فَعَلَيْكِ اْلفِدَاءُ وَ لاَ قَضَاءَ عَلَيْكِ. البزار وصححه الدارقطنى
Engkau sekedudukan dengan orang yang amat payah  untuk  berpuasa. Maka wajib atasmu fidyah dan tidak ada qadla' bagimu. [HR. Al-Bazzar dan dishahihkan oleh Ad-Daruquthni]
Serta riwayat dari Ibnu 'Umar ketika beliau ditanya oleh seorang wanita Quraisy yang sedang hamil tentang hal puasanya, maka jawab beliau :
اَفْطِرِى وَ اَطْعِمِى كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا وَ لاَ تَقْضِى. ابن حزم
Berbukalah kamu dan berilah makan tiap hari seorang miskin, dan jangan  mengqadla'nya. [HR. Ibnu Hazm].
c.  Orang yang lanjut usia/orang tua yang apabila berpuasa  akan sangat memayahkannya. Berdasar keumuman ayat (Surat Al-Baqarah ayat  184)  dan riwayat dari Ibnu Abbas sebagai berikut  :
رُخّصَ لِلشَّيْخِ اْلكَبِيْرِ اَنْ يُفْطِرَ وَ يُطْعِمَ وَ لاَ قَضَاءَ عَلَيْهِ. الدارقطنى والحاكم
Orang yang sangat tua, dibenarkan untuk berbuka dan wajib memberikan (fidyah) serta tidak ada qadla' atasnya. [HR. Ad-Daruquthni dan Al-Hakim].
d.  Orang yang pekerjaannya sangat berat, yang bila tetap berpuasa  walaupun ia kuat akan sangat berat dan memayahkannya. Misalnya : Pengemudi becak, pekerja tambang, karyawan-karyawan pengangkat barang di stasiun, terminal, pelabuhan dan sebagainya.
e.  Orang yang sakit menahun yang (menurut ahli kesehatan) sulit  diharapkan sembuhnya, atau walaupun sembuh tetapi memakan waktu  yang  lama  sekali.
f.   Siapa saja yang karena kondisi badannya atau sebab-sebab lain akan amat berat sekali bila berpuasa, walaupun bila dipaksa akan kuat juga.
Untuk nomor d), e) dan f), ini pun dasarnya adalah keumuman lafadh dari ayat 184 surat  Al-Baqarah diatas.
Semua yang tersebut diatas, boleh tidak berpuasa dan wajib membayar fidyah tanpa harus mengganti puasa di hari yang lain.

8.  Yang Wajib Untuk Tidak Berpuasa dan Wajib Mengganti  Dengan Puasa di Hari Yang lain.
Yaitu khusus bagi wanita yang sedang haidl atau nifas. Berdasar riwayat :
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كُنَّا نَحِيْضُ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ ص فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَ لاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ. الجماعة عن المعاذة
Dari 'Aisyah, bahwa ia berkata, "Adalah kami haidl dimasa Rasulullah SAW maka kami diperintahkan supaya mengqadla (mengganti) puasa dan kami tidak diperintahkan  mengqadla shalat". [HR. Al-Jama'ah dari Al-Mu'adzah]
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Sa'id, bahwa Nabi SAW bersabda:
اَلَيْسَ اِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلّ وَ لَمْ تَصُمْ؟ فَذلِكَ مِنْ نُقْصَانِ دِيْنِهَا. البخارى 2: 239
Bukankah apabila seorang wanita itu haidl, ia tidak shalat dan tidak berpuasa ? Itulah dari kekurangan agamanya. [HR. Bukhari juz 2, hal. 239]

1. Pengertian  Sahur
Sahur, ialah makanan yang dimakan pada waktu sahar. Sahar menurut bahasa ialah "Nama bagi akhir suku malam dan  permulaan  suku  siang". Lawannya ialah : Ashil, akhir suku siang.
Menurut Az-Zamakhsyari, dinamai waktu Sahar dengan Sahar karena ia adalah waktu berlalunya malam dan datangnya siang. Dengan demikian, jelaslah bahwa Sahar bukanlah satu atau dua jam sebelum terbit fajar, namun yang dimaksud adalah nama waktu pergantian siang dan malam.
Jadi apabila kita makan pada jam 24.00 (jam 12 malam) atau sedikit setelah itu tidaklah dapat dinamakan "Bersahur (mengerjakan makan Sahur)".
Adapun yang dinamakan makan Sahur adalah sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW pada riwayat di bawah ini :
عَنْ اَنَسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ: تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص : ثُمَّ قُمْنَا اِلىَ الصَّلاَةِ. قُلْتُ: كَمْ كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا ؟ قَالَ: قَدْرَ خَمْسِيْنَ ايَةً. احمد و البخارى و مسلم
Dari Anas dari Zaid bin Tsabit, ia berkata, "Kami pernah bersahur bersama Rasulullah SAW kemudian kami mengerjakan shalat (Shubuh)". Aku (Anas) bertanya kepada Zaid. "Berapa tempo antara keduanya ?".  Zaid menjawab, "Sekadar 50 ayat Al-Qur'an". [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim].

2.  Hikmah Sahur
Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Sa'id  bahwa Nabi SAW bersabda :
اَلسَّحُوْرُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوْهُ وَ لَوْ اَنْ يَجْرَعَ اَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَاِنَّ اللهَ وَ مَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى اْلمُتَسَحّرِيْنَ. احمد
Sahur itu suatu berkah. Maka janganlah kamu meninggalkannya,  walaupun hanya dengan meneguk seteguk air, karena sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat atas orang yang bersahur. [HR. Ahmad]
Diriwayatkan oleh Muslim dari 'Amr bin 'Ash bahwa Rasulullah SAW bersabda :
فَصْلُ مَابَيْنَ صِيَامِنَا وَ صِيَامِ اَهْلِ اْلكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ. مسلم
Yang membedakan antara puasa kita dengan puasa ahli kitab ialah makan sahur. [HR. Muslim].

3.  Keraguan  Tentang Waktu Sahur
Bila seseorang ragu apakah telah habis waktu ataukah belum, maka ia diperbolehkan makan dan minum hingga nyata-nyata baginya bahwa waktu sahur  telah  habis dan masuk waktu shubuh. Firman Allah :
وَ كُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ اْلخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ اْلخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ اْلفَجْرِ. البقرة: 187
Dan makanlah, minumlah, sehingga nyata kepadamu benang putih dari pada benang  hitam yaitu Fajar. [QS. Al Baqarah : 187]
Dari ayat di atas jelaslah bahwa Allah memperkenankan makan dan minum, sehingga nyata benar terbitnya Fajar.

4.  Adab Berbuka
Diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, Muslim dan Abu Dawud dari Sahl bin  'Adi, bahwa Rasulullah SAW bersabda  :
لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا اْلفِطْرَ. احمد والبخارى ومسلم وابوداود
"Senantiasalah manusia dalam kebajikan selama mereka segera berbuka".
Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda :
يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ: اِنَّ اَحَبَّ عِبَادِى اِلَيَّ اَعْجَلُهُمْ فِطْرًا. الترمذى
Berfirman Allah 'Azza wa Jalla (artinya), "Yang paling Ku sayangi dari hamba-hamba-Ku, ialah yang paling segera berbuka". [HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah].
Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dari Anas bin Malik, katanya :
مَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص قَطُّ صَلَّى صَلاَةَ اْلمَغْرِبِ حَتَّى يُفْطِرَ وَ لَوْ عَلَى شُرْبَةِ مَاءٍ. ابن عبد البر عن انس بن مالك
Tidak pernah aku melihat walau sekali Rasulullah SAW shalat  Maghrib lebih dahulu sebelum berbuka, walaupun hanya dengan seteguk air. [HR. Ibnu Abdil Barr dari Anas bin Malik]
Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ahmad dan Tirmidzi dari Anas, sbb :
عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ اَنْ يُصَلّىَ فَاِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَاِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ. ابوداود و احمد و الترمذى
Dari Anas bin Maalik, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW berbuka dengan kurma basah sebelum shalat (Maghrib), jika tidak ada kurma basah, maka beliau berbuka dengan kurma kering, dan jika tak ada kurma kering, beliau menyendok beberapa sendok air. [HR. Abu Dawud, Ahmad dan Tirmidzi]
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُحِبُّ اَنْ يُفْطِرَ عَلَى ثَلاَثِ تَمَرَاتٍ اَوْ شَىْءٍ لَمْ تُصِبْهُ النَّارُ. ابو يعلى عن انس
Adalah Rasulullah SAW suka berbuka puasa dengan tiga biji korma atau sesuatu yang tidak  dimasak dengan api. [HR. Abu Ya'la dari Anas]
Rasulullah SAW bersabda :
اِذَا اَفْطَرَ اَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ، فَاِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ فَاِنَّهُ طَهُوْرٌ. ابو داود و الترمذى عن سليمان بن عامر
Apabila seseorang diantara kalian berbuka, maka hendaklah ia berbuka dengan korma. Jika ia tidak memperoleh korma, hendaklah ia berbuka dengan air, karena air itu bersih dan membersihkan. [HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Sulaiman bin 'Amir]
Kesimpulan :
Hadits-hadits di atas menerangkan kepada kita, bahwa apabila kita berbuka puasa maka disunatkan untuk :
1.  Menyegerakan  berbuka.
2.  Sebelum shalat Maghrib kita berbuka dahulu walaupun dengan seteguk air.
3.  Berbuka dengan tiga biji korma, bila tidak ada, dengan sesuatu makanan yang manis dan tidak dimasak dengan api. Seperti : pisang, kates, nanas dan  lain-lain.
4.  Bila tidak ada buah-buahan maka disunatkan kita untuk berbuka  dengan  air.
5. Dan dikala berbuka dituntunkan untuk membaca do'a seperti berikut :
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَ ابْتَلَّتِ اْلعُرُوْقُ وَ ثَبَتَ اْلاَجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ. ابو داود 2: 306، عن ابن عمر
Haus telah hilang, urat-urat telah basah dan semoga pahala tetap didapatkan. Insya Allah. [HR. Abu Dawud juz 2,  hal. 306, dari Ibnu Umar]

Tentang doa berbuka puasa

Ada  bermacam-macam doa berbuka puasa, diantaranya sebagai berikut:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ص اِذَا اَفْطَرَ قَالَ: اَللّهُمَّ لَكَ صُمْنَا وَ عَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْنَا فَتَقَبَّلْ مِنَّا اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. الدارقطنى 2: 185، رقم 26، ضعيف لان فى اسناده عبد الملك بن هارون بن عنترة.
Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Adalah Nabi SAW apabila berbuka puasa beliau berdoa, Alloohumma laka shumnaa wa alaa rizqika afthornaa fataqobbal minnaa innaka antas samiiul aliim (Ya Allah, untuk-Mu kami berpuasa, dan atas rizqi-Mu kami berbuka, maka terimalah (ibadah) dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui). [HR. Daruquthni juz 2, hal. 185 no. 26, dlaif karena dalam sanadnya ada perawi Abdul Malik bin Harun bin Antarah]
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ص اِذَا اَفْطَرَ قَالَ: لَكَ صُمْتُ وَ عَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ فَتَقَبَّلْ مِنّى اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. الطبرانى فى الكبير 12: 113، رقم: 12720، فيه عبد الملك بن هارون بن عنترة و هو ضعيف
Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Adalah Nabi SAW apabila berbuka puasa beliau berdoa, Laka shumtu waalaa rizqika afthartu fataqabbal minnii innaka antas samiiul aliim (Untuk-Mu aku berpuasa, dan atas rizqi-Mu aku berbuka, maka terimalah ibadahku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui). [HR. Thabrani dalam Al-Kabir juz 12, hal. 113, no. 12720, dalam sanadnya ada perawi bernamaAbdul Malik bin Harun bin Antarah, ia dlaif]
بِسْمِ اللهِ، اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَ عَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ. الطبرانى فى الاوسط 3: 279، و فيه داود بن زبرقان و هو ضعيف
Bismillah, Alloohumma laka shumtu wa alaa rizqika afthortu (Dengan nama Allah. Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rizqi-Mu aku berbuka). [HR. Thabrani, dalam Al-Ausath hadits no. 7547, dalam sanadnya ada perawi bernama Dawud bin Zabraqan, dan ia dlaif  Majmauz Zawaaid juz 3, hal. 279]
عَنْ مُعَاذٍ رض قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا اَفْطَرَ قَالَ: اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى اَعَانَنِى فَصُمْتُ وَ رَزَقَنِى فَاَفْطَرْتُ. ابن السنى ص 169، رقم 479، اسناده ضعيف لان فيه رجل لم يسمَّ
Dari Muadz RA, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW apabila berbuka puasa beliau berdoa, Alhamdu lillaahil-ladzii aaananii fa shumtu wa rozaqonii fa-afthortu (Segala puji bagi Allah yang telah menolongku, sehingga aku berpuasa dan telah memberi rizqi kepadaku, maka aku berbuka). [HR. Ibnu Sunni hal. 169, no. 479, sanadnya dlaif, karena di dalamnya ada perawi yang tidak disebutkan namanya]
عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ اَنَّهُ بَلَغَهُ اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ اِذَا اَفْطَرَ قَالَ: اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَ عَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ. ابو داود 2: 306، رقم 2358، مرسل لان معاذ بن زهرة لم يدرك النبي ص
Dari Muadz bin Zuhrah, bahwasanya telah sampai kepadanya bahwa Nabi SAW apabila berbuka puasa beliau berdoa, Alloohumma laka shumtu wa alaa rizqika afthortu (Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan dengan rizqi-Mu aku berbuka puasa). [HR. Abu Dawud juz 2,hal. 306, no. 2358, hadits tersebut mursal, karena Muadz bin Zuhrah tidak bertemu Nabi SAW]
عَنِ ابْنِ اَبِى مُلَيْكَةَ يَقُوْلُ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ اْلعَاصِ يَقُوْلُ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: اِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةٌ مَا تُرَدُّ، قَالَ ابْنُ اَبِى مُلَيْكَةَ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرٍو يَقُوْلُ اِذَا اَفْطَرَ: اَللّهُمَّ اِنّى اَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِى وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ اَنْ تَغْفِرَ لِى. ابن ماجه 1: 557، رقم 1753 حسن
Dari Ibnu Abi Mulaikah, ia berkata : Saya mendengar Abdullah bin Amr bin Al-Ash berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa itu ketika berbuka ada doa yang tidak akan ditolak. Ibnu Abi Mulaikah berkata : Aku mendengar Abdullah bin Amr apabila berbuka puasa berdoa,Alloohumma innii as-aluka birohmatikal-latii wasiat kulla syai-in an taghfiro lii (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan rohmat-Mu yang luas meliputi segala sesuatu agar Engkau mengampuni aku). [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 557, no. 1753, hadits hasan]
عَنْ مَرْوَانَ يَعْنِى ابْنَ سَالِمِ اْلمُقَفَّعِ قَالَ: رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَقْبِضُ عَلَى لِحْيَتِهِ فَيَقْطَعُ مَا زَادَ عَلَى اْلكَفّ وَ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ الله ص اِذَا اَفْطَرَ قَالَ: ذَهَبَ الظَّمَأُ وَ ابْتَلَّتِ اْلعُرُوْقُ وَ ثَبَتَ اْلاَجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ. ابو داود 2: 306، رقم 2357، حسن
Dari Marwan, yakni bin Salim Al-Muqaffa, ia berkata : Aku melihat Ibnu Umar RA memegang jenggotnya, lalu memotong yang lebih dari genggaman tangannya. Ia berkata : Adalah Rasulullah SAW apabila berbuka puasa beliau berdoa, Dzahabadh-dhoma-u wabtallatil uruuqu wa tsabatal ajru, insyaa-allooh (Haus telah hilang, urat-urat telah basah dan semoga pahala tetap didapat, insyaa-allooh). [HR. Abu Dawud juz 2, hal. 306, no. 2357, hadits hasan]
Keterangan :
Dari riwayat-riwayat di atas bisa kita ketahui bahwa yang derajatnya hasan adalah riwayat Ibnu Majah dari Ibnu Abi Mulaikah dan riwayat Abu Dawud dari Marwan bin Salim. Namun pada riwayat Ibnu Abi Mulaikah di atas, doa tersebut adalah lafadhnya Ibnu Amr. Adapun pada riwayat Abu Dawud tersebut lafadh doa itu dari Nabi SAW. Dengan demikian kita ketahui bahwa doa berbuka puasa yang paling kuat riwayatnya adalah yang diriwayatkan Abu Dawud dari Marwan bin Salim dari Ibnu Umar (Dzahabadh-dhoma-u wabtallatil uruuqu wa tsabatal ajru, insyaa-allooh).

~oO[ A ]Oo~

  Brosur MTA No. : 1471/1511/IA

Seputar Zina

Hukuman Zina

اَلزَّانِيَةُ وَ الزَّانِيْ فَاجْلِدُوْا كُلَّ  وَاحِدٍ مّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ، وَّ لاَ تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِيْ دِيْنِ اللهِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلاخِرِ، وَ لْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٌ مّنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ. النور:2
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu (menjalankan) agama Allah jika kamu beriman kepada Allah dan har akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. [QS. An-Nuur : 2]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ وَ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ اْلجُهَنِيّ اَنَّهُمَا قَالاَ: اِنَّ رَجُلاً مِنَ اْلاَعْرَابِ اَتَى رَسُوْلَ اللهِ ص فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اَنْشُدُكَ اللهَ اِلاَّ قَضَيْتَ لِى بِكِتَابِ اللهِ. وَ قَالَ اْلخَصْمُ اْلآخَرُ وَ هُوَ اَفْقَهُ مِنْهُ: نَعَمْ، فَاقْضِ بَيْنَنَا بِكِتَابِ اللهِ وَ ائْذَنْ لِى. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: قُلْ، قَالَ: اِنَّ ابْنِى كَانَ عَسِيْفًا عَلَى هذَا فَزَنَى بِامْرَأَتِهِ، وَ اِنِّى اُخْبِرْتُ اَنَّ عَلَى ابْنِى الرَّجْمَ فَافْتَدَيْتُ مِنْهُ بِمِائَةِ شَاةٍ وَ وَلِيْدَةٍ. فَسَأَلْتُ اَهْلَ اْلعِلْمِ، فَاَخْبَرُوْنِى اَنَّمَا عَلَى ابْنِى جَلْدُ مِائَةٍ وَ تَغْرِيْبُ عَامٍ، وَ اَنَّ عَلَى امْرَأَةِ هذَا الرَّجْمَ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: وَ الَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ َلأَقْضِيَنَّ بَيْنَكُمَا بِكِتَابِ اللهِ. اْلوَلِيْدَةُ وَ اْلغَنَمُ رَدٌّ. وَ عَلَى ابْنِكَ جَلْدُ مِائَةٍ وَ تَغْرِيْبُ عَامٍ. وَ اغْدُ يَا أُنَيْسُ اِلَى امْرَأَةِ هذَا، فَاِنِ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا. قَالَ: فَغَدَا عَلَيْهَا، فَاعْتَرَفَتْ، فَاَمَرَ بِهَا رَسُوْلُ اللهِ ص، فَرُجِمَتْ. مسلم 4: 1324
Dari Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid Al-Juhaniy, mereka berkata : Bahwa ada seorang laki-laki Badui datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “Ya Rasulullah, Demi Allah, sungguh aku tidak meminta kepadamu kecuali engkau memutuskan hukum untukku dengan kitab Allah”. Sedang yang lain berkata (dan dia lebih pintar dari padanya), “Ya, putuskanlah hukum antara kami berdua ini menurut kitab Allah, dan ijinkanlah aku (untuk berkata)”. Lalu Rasulullah SAW menjawab, “Silakan”. Maka orang yang kedua itu berkata, “Sesungguhnya anakku bekerja pada orang ini, lalu berzina dengan istrinya, sedang aku diberitahu bahwa anakku itu harus dirajam. Maka aku menebusnya dengan seratus kambing dan seorang hamba perempuan, lalu aku bertanya kepada orang-orang ahli ilmu, maka mereka memberi tahu bahwa anakku hanya didera seratus kali dan diasingkan selama setahun, sedang istri orang ini harus dirajam”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Demi Tuhan yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh aku akan putuskan kalian berdua dengan kitab Allah. Hamba perempuan dan kambing itu kembali kepadamu, sedang anakmu harus didera seratus kali dan diasingkan selama setahun”. Dan engkau hai Unais, pergilah ke tempat istri orang ini, dan tanyakan, jika dia mengaku, maka rajamlah dia”. Abu Hurairah berkata, “Unais kemudian berangkat ke tempat perempuan tersebut, dan perempuan tersebut mengaku”. Lalu Rasulullah SAW memerintahkan untuk merajamnya, kemudian ia pun dirajam. [HR. Muslim juz 3, hal. 1324]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَضَى فِيْمَنْ زَنَى وَ لمَْ يُحْصَنْ بِنَفْيِ عَامٍ بِاِقَامَةِ اْلحَدّ عَلَيْهِ. البخارى 8: 28
Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW pernah memutuskan hukuman orang yang berzina tetapi tidak muhshan, yaitu dengan diasingkan setahun dan dikenakan hukuman dera. [HR. Bukhari juz 8, hal. 28]
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: خُذُوْا عَنّى، خُذُوْا عَنّى. قَدْ جَعَلَ اللهُ لَهُنَّ سَبِيْلاً. اَلْبِكْرُ بِاْلبِكْرِجَلْدُ مِائَةٍ وَ نَفْيُ سَنَةٍ وَ الثَّيّبُ بِالثَّيّبِ جَلْدُ مِائَةٍ وَ الرَّجْمُ. مسلم 3: 1316
Dari ‘Ubadah bin Shamit ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Ambillah (hukum itu) dariku, ambillah (hukum itu) dariku. Sungguh Allah telah membuat jalan bagi mereka (para wanita), yaitu : Perawan (yang berzina) dengan jejaka, sama-sama didera seratus kali dan diasingkan setahun. Sedang janda dengan duda, sama-sama didera seratus kali dan dirajam”. [HR. Muslim juz 3, hal. 1316]
عَنْ جَابِرٍ اَنَّ رَجُلاً زَنَى بِامْرَأَةٍ، فَاَمَرَ بِهِ النَّبِيُّ ص: فَجُلِدَ اْلحَدَّ، ثُمَّ اُخْبِرَ اَنَّهُ مُحْصَنٌ، فَاَمَرَ بِهِ فَرُجِمَ. ابو داود 4: 151، 4438
Dari Jabir (bin ‘Abdullah) bahwa ada seorang laki-laki berzina dengan seorang perempuan, lalu Nabi SAW memerintahkan agar si laki-laki itu didera sebagai hukumannya. Tetapi kemudian beliau diberitahu, bahwa laki-laki tersebut adalah muhshan (sudah nikah), maka diperintahkan untuk dirajam, lalu orang itupun dirajam. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 151, no 4438]
Keterangan :
a. Dari hadits-hadits diatas bisa diambil pengertian bahwa hukuman zina muhshan (laki atau perempuan yang sudah pernah nikah), adalah dirajam hingga mati. Adapun hukuman dera bagi mereka hanyalah sebagai hukuman tambahan.
b. Sedangkan hukuman zina yang bukan muhshan (jejaka atau perawan), adalah didera/dijilid seratus kali. Adapun hukuman pengasingan hanya sebagai hukuman tambahan.

Dilaksanakan hukuman apabila sudah jelas berbuat zina.
وَ الّتِيْ يَأْتِيْنَ اْلفَاحِشَةَ مِنْ نّسَآئِكُمْ فَاسْتَشْهِدُوْا عَلَيْهِنَّ اَرْبَعَةً مّنْكُمْ، فَاِنْ شَهِدُوْا فَاَمْسِكُوْهُنَّ فِى اْلبُيُوْتِ حَتّى يَتَوَفّهُنَّ اْلمَوْتُ اَوْ يَجْعَلَ اللهُ لَهُنَّ سَبِيْلاً. النساء:15
Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya. [QS.An-Nisaa’ : 15]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّهُ قَالَ: اَتَى رَجُلٌ مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ رَسُوْلَ اللهِ ص وَ هُوَ فِى اْلمَسْجِدِ فَنَادَاهُ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنّى زَنَيْتُ فَاَعْرَضَ عَنْهُ فَتَنَحَّى بِلِقَاءِ وَجْهِهِ. فَقَالَ لَهُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنّى زَنَيْتُ. فَاَعْرَضَ عَنْهُ حَتَّى ثَنَى ذلِكَ عَلَيْهِ اَرْبَعَ مَرَّاتٍ، فَلَمَّا شَهِدَ عَلَى نَفْسِهِ اَرْبَعَ شَهَادَاتٍ دَعَاهُ رَسُوْلُ اللهِ ص فَقَالَ: اَبِكَ جُنُوْنٌ؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: فَهَلْ اَحْصَنْتَ؟ قَالَ: نَعَمْ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذْهَبُوْا بِهِ فَارْجُمُوْهُ. قَالَ ابْنُ شِهَابٍ: فَاَخْبَرَنِى مَنْ سَمِعَ جَابِر َبْنَ عَبْدِ اللهِ يَقُوْلُ: كُنْتُ فِيْمَنْ رَجَمَهُ، فَرَجَمْنَاهُ بِاْلمُصَلَّى. فَلَمَّا اَذْلَقَتْهُ اْلحِجَارَةُ هَرَبَ، فَاَدْرَكْنَاهُ بِاْلحَرَّةِ، فَرَجَمْنَاهُ. مسلم 3: 1318
Dari Abu Hurairah RA bahwasanya ia berkata, Ada seorang laki-laki dari kaum muslimin menghadap Rasulullah SAW di masjid, lalu menyeru, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku benar-benar telah berzina”. Kemudian Rasulullah SAW berpaling, beliau menjauhi wajahnya, lalu orang itu berkata lagi, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku benar-benar berzina”. Maka Rasulullah SAW berpaling sehingga orang tersebut mengulangi yang demikian itu sampai empat kali. Setelah ia bersaksi atas dirinya empat kali, maka Rasulullah SAW memanggilnya, lalu bertanya, “Apakah kamu gila ?” Ia menjawab, “Tidak”. Nabi bertanya lagi, “Apakah engkau sudah nikah ?” Ia menjawab, “Sudah”. Lalu Rasulullah SAW menyuruh para sahabat, “Bawalah dia dan rajamlah”. Ibnu Syihab berkata, ada seorang yang mendengar dari Jabir bin Abdullah memberitahukan kepadaku, bahwa Jabir berkata, “Aku termasuk salah seorang yang merajamnya, yaitu kami rajam dia di mushalla (lapangan yang biasa untuk shalat ‘ied). Tetapi tatkala batu-batu lemparan itu melukainya, ia lari, lalu kami tangkap dia di Harrah, kemudian kami rajam (sampai mati)”. [HR. Muslim juz 3, hal. 1318].

عَنْ جَابِرٍ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ: رَأَيْتُ مَاعِزَ بْنَ مَالِكٍ جِيْءَ بِهِ اِلَى النَّبِيّ ص رَجُلٌ قَصِيْرٌ اَعْضَلُ لَيْسَ عَلَيْهِ رِدَاءٌ، فَشَهِدَ عَلَى نَفْسِهِ  اَرْبَعَ مَرَّاتٍ اَنَّهُ زَنَى، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: فَلَعَلَّكَ؟ قَالَ: لاَ، وَ اللهِ. اِنَّهُ قَدْ زَنَى اْلآخِرُ قَالَ فَرَجَمَهُ. مسلم 3: 1319
Dari Jabir bin Samurah, ia berkata, Aku pernah melihat Ma’iz bin Malik dibawa menghadap Nabi SAW. dia adalah seorang laki-laki yang berperawakan pendek kekar, ia tidak memakai ridaa’. Lalu ia bersaksi atas dirinya empat kali, bahwa ia telah berzina. Kemudian Rasulullah SAW bertanya, "Barangkali (engkau gila) ?” Ia menjawab, “Tidak, demi Allah”. Memang benar-benar dia telah berzina. (Jabir berkata), “Lalu dia dirajam”. [HR. Muslim juz 3, hal. 1319].

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ لِمَاعِزِ بْنِ مَالِكٍ اَحَقٌّ مَا بَلَغَنِى عَنْكَ؟ قَالَ: وَ مَا بَلَغَكَ عَنّى؟ قَالَ: بَلَغَنِى اَنَّكَ قَدْ وَقَعْتَ بِجَارِيَةِ آلِ فُلاَنٍ. قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَشَهِدَ اَرْبَعَ شَهَادَاتٍ. فَاَمِرَ بِهِ، فَرُجِمَ. مسلم 3: 1320
Dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya Nabi SAW bertanya kepada Ma’iz, “Betulkah apa yang sampai kepadaku tentang masalahmu itu ?”. Ia membalas bertanya, “Apa yang sampai kepadamu tentang aku ?”. Nabi SAW bersabda, “Berita yang sampai kepadaku, bahwa engkau telah mengumpuli seorang perempuan keluarga si fulan”. Ia menjawab, “Betul”. (Ibnu ‘Abbas berkata), “Lalu ia bersaksi atas dirinya empat kali. Kemudian Nabi SAW memerintahkan supaya dirajam, lalu ia dirajam”. [HR. Muslim juz 3, hal. 1320].

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: جَاءَ مَاعِزُ بْنُ مَالِكٍ اِلَى النَّبِيّ ص فَاعْتَرَفَ بِالزّنَا مَرَّتَيْنِ، فَطَرَدَهُ، ثُمَّ جَاءَ فَاعْتَرَفَ بِالزّنَا مَرَّتَيْنِ، قَالَ: شَهِدْتَ عَلَى نَفْسِكَ اَرْبَعَ مَرَّاتٍ اِذْهَبُوْا بِهِ، فَارْجُمُوْهُ. ابو داود 4: 147، رقم: 4426
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata : Ma’iz bin Malik menghadap Nabi SAW mengaku telah berzina, dia mengulangi pengakuannya dua kali. Lalu Nabi SAW menyuruhnya keluar. Kemudian ia datang lagi, mengaku telah berzina, dia mengulangi pengakuannya dua kali lagi. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Karena engkau telah bersaksi atas dirimu empat kali, maka sekarang (hai para sahabat) bawalah dia lalu rajamlah !”. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 147, no. 4426]

عَنْ اَبِى بَكْرٍ قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ ص جَالِسًا فَجَاءَ مَاعِزُ بْنُ مَالِكٍ فَاعْتَرَفَ عِنْدَهُ مَرَّةً فَرَدَّهُ، ثُمَّ جَاءَهُ فَاعْتَرَفَ عِنْدَهُ الثَّانِيَةَ، فَرَدَّهُ، ثُمَّ جَاءَهُ فَاعْتَرَفَ الثَّالِثَةَ، فَرَدَّهُ، فَقُلْتُ لَهُ: اِنَّكَ اِنِ اعْتَرَفْتَ الرَّابِعَةَ رَجَمَكَ. قَالَ: فَاعْتَرَفَ الرَّابِعَةَ، فَحَبَسَهُ، ثُمَّ سَأَلَ عَنْهُ، فَقَالُوْا: مَا نَعْلَمُ اِلاَّ خَيْرًا. قَالَ: فَاَمَرَ بِرَجْمِهِ. احمد 1: 28، رقم: 41
Dari Abu Bakar (Ash-Shiddiq), ia berkata, “Dahulu ketika aku duduk di samping Nabi SAW lalu ada seorang laki-laki bernama Ma’iz bin Malik datang di hadapan Nabi SAW lalu mengaku bahwa ia telah berzina, sekali pengakuan, maka Nabi SAW menolaknya. Kemudian ia datang lagi dan mengaku di hadapan Nabi SAW untuk kedua kalinya, lalu Nabi SAW menolaknya. Kemudian ia datang lagi dan mengaku di hadapan Nabi SAW untuk ketiga kalinya, lalu Nabi SAW menolaknya lagi”. Kemudian aku (Abu Bakar) berkata, kepada Ma’iz, “Kalau engkau mengaku yang keempat kalinya, pasti akan dirajam”. Lalu ia pun mengaku yang keempat kalinya. Kemudian ia ditahan. Kemudian Nabi SAW bertanya (kepada para sahabat) tentang dia. Maka jawab shahabat, “Kami tidak mengetahuinya kecuali kebaikan”. (Abu Bakar) berkata, “Kemudian Nabi SAW memerintahkan supaya dirajam”. [HR. Ahmad juz 1, hal. 28, no. 41]

عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ: كُنَّا اَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ ص، نَتَحَدَّثُ اَنَّ اْلغَامِدِيَّةَ وَ مَاعِزَ بْنَ مَالِكٍ لَوْ رَجَعَا بَعْدَ اعْتِرَافِهِمَا، اَوْ قَالَ: لَوْ لَمْ يَرْجِعَا بَعْدَ اعْتِرَافِهِمَا لَمْ يَطْلُبْهُمَا. وَ اِنَّمَا رَجَمَهُمَا بَعْدَ الرَّابِعَةِ. ابو داود 4: 141، رقم: 4434
Dari Buraidah ia berkata, “Kami para sahabat Rasulullah SAW pernah berbincang-bincang tentang masalah perempuan Ghamidiyah dan Ma’iz bin Malik, seandainya mereka berdua itu mau menarik pengakuannya itu, atau mereka tidak menarik sesudah pengakuannya (yang ketiga kali), itu niscaya merekapun tidak akan dituntut. Mereka itu dirajam, hanyalah karena pengakuannya yang keempat kalinya”. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 141, no. 4434]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رض قَالَ: لَمَّا اَتَى مَاعِزُ بْنُ مَالِكٍ النَّبِيَّ ص قَالَ لَهُ: لَعَلَّكَ قَبَّلْتَ، اَوْ غَمَزْتَ اَوْ نَظَرْتَ؟ قَالَ: لاَ، يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: اَنِكْتَهَا؟ لاَ يَكْنِى. قَالَ: فَعِنْدَ ذلِكَ اَمَرَ بِرَجْمِهِ. البخارى 8: 24
Dari Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata : Tatkala Ma’iz bin Malik datang kepada Nabi SAW, Nabi SAW bertanya kepadanya, “Barangkali engkau hanya mencium saja, atau mungkin engkau sekedar meraba saja atau mungkin sekedar memandang saja ?”. Ma’iz menjawab, “Tidak ya Rasulullah”. Lalu Nabi SAW bertanya, “Apakah engkau setubuhi dia ?”. (Beliau tidak menggunakan kata sindiran). (Ibnu ‘Abbas berkata), “Ketika itu lalu beliau memerintahkan untuk dirajam”. [HR. Bukhari juz 8, hal. 24]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: جَاءَ اْلاَسْلَمِيُّ نَبِيَّ اللهِ ص فَشَهِدَ عَلَى نَفْسِهِ اَنَّهُ اَصَابَ امْرَأَةً حَرَامًا اَرْبَعَ مَرَّاتٍ، كُلُّ ذلِكَ يُعْرِضُ عَنْهُ النَّبِيُّ ص، فَاَقْبَلَ فِى اْلخَامِسَةِ، فَقَالَ: اَنِكْتَهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ حَتَّى غَابَ ذلِكَ مِنْكَ فِى ذلِكَ مِنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: كَمَا يَغِيْبُ اْلمِرْوَدُ فِى اْلمِكْحَلَةِ وَالرّشَاءُ فِى اْلبِئْرِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَهَلْ تَدْرِى مَا الزّنَا؟ قَالَ: نَعَمْ. اَتَيْتُ مِنْهَا حَرَامًا مَا يَأْتِى الرَّجُلُ مِنِ امْرَأَتِهِ حَلاَلاً. قَالَ: فَمَا تُرِيْدُ بِهذَا اْلقَوْلِ؟ قَالَ: اُرِيْدُ اَنْ تُطَهّرَنِى. فَاَمَرَ بِهِ فَرُجِمَ. ابو داود 4: 148، رقم: 4428
Dari Abu Hurairah ia berkata : Seorang laki-laki dari suku Aslam datang kepada Nabiyyullah SAW lalu ia mengaku telah melakukan perbuatan haram dengan seorang perempuan, dengan empat kali pengakuan. Setiap kali ia mengetengahkan pengakuannya itu Nabi SAW berpaling. Lalu untuk yang kelima kalinya baru Nabi SAW menghadapinya, seraya bertanya, “Apakah engkau setubuhi dia ?”. Ia menjawab, “Ya”. Nabi SAW bertanya lagi,”Sehingga kemaluanmu masuk ke dalam farjinya ?”. Ia menjawab, “Ya”. Nabi SAW bertanya lagi, “Apakah seperti celak masuk ke dalam wadahnya dan seperti timba masuk ke dalam sumur ?” Ia menjawab, “Ya”. Nabi bertanya lagi, “Tahukah engkau, apakah zina itu ?”. Ia menjawab, “Ya, saya tahu. Yaitu saya melakukan perbuatan yang haram dengan dia seperti seorang suami melakukan perbuatan halal dengan istrinya”. Nabi SAW bertanya lagi, “Apakah yang kamu inginkan dengan perkataanmu ini ?”. Ia menjawab, “Saya bermaksud supaya engkau dapat membersihkan aku (sebagai taubat)”. Maka Nabi SAW memerintahkan agar ia dirajam, lalu dia dirajam. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 148, no. 4428]

Menangguhkan pelaksanaan hukuman bagi orang hamil atau sakit.

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ اَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ اَتَتْ نَبِيَّ اللهِ ص وَ هِيَ حُبْلَى مِنَ الزّنَى، فَقَالَتْ: يَا نَبِيَّ اللهِ اَصَبْتُ حَدًّا فَأَقِمْهُ عَلَيَّ، فَدَعَا نَبِيُّ اللهِ ص وَلِيَّهَا فَقَالَ: اَحْسِنْ اِلَيْهَا، فَاِذَا وَضَعَتْ فَأْتِنِى بِهَا، فَفَعَلَ، فَاَمَرَبِهَا نَبِيُّ اللهِ ص فَشُكَّتْ عَلَيْهَا ثِيَابُهَا ثُمَّ اَمَرَ بِهَا فَرُجِمَتْ ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهَا، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: تُصَلّى عَلَيْهَا يَا نَبِيَّ اللهِ وَ قَدْ زَنَتْ؟ فَقَالَ: لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِيْنَ مِنْ اَهْلِ اْلمَدِيْنَةِ لَوَسِعَتْهُمْ، وَ هَلْ وَجَدْتَ اَفْضَلَ مِنْ اَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا ِللهِ تَعَالَى؟ مسلم 3: 1324
Dari Imran bin Hushain, bahwa ada seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabiyyullah SAW dalam keadaan hamil karena zina. Lalu ia berkata,Ya Nabiyyallah, saya telah berbuat pelanggaran, maka laksanakanlah hukuman itu atasku. Lalu Nabiyyullah SAW memanggil walinya, lalu bersabda,Peliharalah wanita ini dengan baik, dan jika ia telah melahirkan, maka bawalah ia kemari. Kemudian walinya itu mengerjakannya. Ketika wanita itu dibawa kepada Nabiyyullah SAW, lalu diperintahkan supaya pakaiannya diikat rapat-rapat, lalu diperintahkan untuk dirajam, kemudian wanita itu dirajam. Kemudian beliau menshalatkannya. Lalu Umar menegur Nabi SAW, Mengapa engkau menshalatkannya ya Nabiyyallah, sedang ia telah berzina ?. Jawab Nabiyyullah, Sungguh dia telah bertaubat, yang andaikata taubatnya itu dibagi kepada tujuh puluh orang penduduk Madinah, niscaya mencukupinya. Apakah kamu pernah mendapati orang yang lebih utama dari orang yang menyerahkan dirinya karena Allah Taaalaa ?. [HR. Muslim juz 3, hal. 1324].

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ … ثُمَّ جَاءَتْهُ امْرَأَةٌ مِنْ غَامِدٍ مِنَ اْلاَزْدِ فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ طَهّرْنِى، فَقَالَ: وَيْحَكِ ارْجِعِى فَاسْتَغْفِرِى اللهَ وَ تُوْبِى اِلَيْهِ، فَقَالَتْ: اَرَاكَ تُرِيْدُ اَنْ تُرَدّدَنِى كَمَا رَدَّدْتَ مَا عِزَبْنَ مَالِكٍ، قَالَ: وَ مَا ذَاكِ؟ قَالَتْ: اِنَّهَا حُبْلَى مِنَ الزّنَى، فَقَالَ: آنْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، فَقَالَ لَهَا: حَتَّى تَضَعِى مَا فِى بَطْنِكِ، قَالَ: فَكَفَلَهَا رَجُلٌ مِنَ اْلاَنْصَارِ حَتَّى وَضَعَتْ، قَالَ: فَأَتَى النَّبِيَّ ص فَقَالَ: قَدْ وَضَعَتِ اْلغَامِدِيَّةُ، فَقَالَ: اِذًا لاَ نَرْجُمَهَا وَ نَدَعَ وَلَدَهَا صَغِيْرًا لَيْسَ لَـهُ مَنْ يُرْضِعُهُ، فَقَامَ رَجُلٌ مِنَ اْلاَنْصَارِ فَقَالَ: اِلَيَّ رَضَاعُهُ يَا نَبِيَّ اللهِ، قَالَ: فَرَجَمَهَا. مسلم 3: 1322
Dari Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata : ……kemudian datang (kepada Nabi SAW) seorang wanita dari Ghamid dari suku Al-Azdi, lalu ia berkata, Ya Rasulullah, bersihkanlah saya. Nabi SAW bersabda, Celaka engkau, pergilah dan mohon ampunlah kepada Allah serta bertaubatlah kepada-Nya. Lalu wanita itu berkata, Saya menduga engkau meragukanku sebagaimana engkau meragukan Maiz bin Malik. Kemudian Nabi SAW bertanya, Apakah yang engkau maksud ?. Wanita itu menjawab, Sesungguhnya ia kini telah hamil karena berzina. Nabi SAW bertanya lagi,Engkau sendiri ? Ia menjawab, Ya. Kemudian Nabi SAW bersabda, (Tunggulah) hingga engkau melahirkan anak yang dalam kandunganmu. Buraidah berkata, Lalu wanita itu diasuh oleh seorang laki-laki Anshar sampai ia melahirkan. Buraidah berkata, Kemudian laki-laki Anshar itu datang kepada Nabi SAW untuk memberitahukan bahwa wanita Ghamidiyah tersebut telah melahirkan. Maka jawab Nabi SAW, Kalau begitu kita tidak merajamnya dulu, biarkan anaknya yang masih kecil (disusui) dulu, karena tidak ada yang menyusuinya. (Setelah anak itu disapih), lalu ada seorang laki-laki Anshar yang berdiri seraya berkata, Serahkan saja kepadaku tentang pengasuhan anak itu, ya Nabiyallah. Buraidah berkata, Lalu beliau merajamnya. [HR. Muslim juz 3, hal. 1322].

عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ:… فَجَاءَتِ الْغَامِدِيَّةُ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ اِنّي قَدْ زَنَيْتُ فَطَهّرْنِي. وَ اِنَّهُ رَدَّهَا. فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ قَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ لِمَ تَرُدُّنِي؟ لَعَلَّكَ اَنْ تَرُدَّنِي كَمَا رَدَدْتَ مَاعِزًا. فَوَ اللهِ اِنّي لَحُبْلَى. قَالَ: اِمَّا لاَ، فَاذْهَبِي حَتَّى تَلِدِيْ. فَلَمَّا وَلَدَتْ اَتَتْهُ بِالصَّبِيّ فِي خِرْقَةٍ قَالَتْ: هذَا قَدْ وَلَدْتُهُ. قَالَ: اذْهَبِي فَاَرْضِعِيْهِ حَتَّى تَفْطِمِيْهِ. فَلَمَّا فَطَمَتْهُ اَتَتْهُ بِالصَّبِيّ فِي يَدِهِ كِسْرَةُ خُبْزٍ فَقَالَتْ: هذَا يَا نَبِيَّ اللهِ قَدْ فَطَمْتُهُ وَ قَدْ اَكَلَ الطَّعَامَ. فَدَفَعَ الصَّبِيَّ اِلَى رَجُلٍ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ثُمَّ اَمَرَ بِهَا فَحُفِرَ لَهَا اِلَى صَدْرِهَا وَ اَمَرَ النَّاسَ فَرَجَمُوْهَا فَيُقْبِلُ خَالِدُ بْنُ اْلوَلِيْدِ بِحَجَرٍ فَرَمَى رَأْسَهَا فَتَنَضَّحَ الدَّمُ عَلَى وَجْهِ خَالِدٍ فَسَبَّهَا فَسَمِعَ نَبِيُّ اللهِ ص سَبَّهُ اِيَّاهَا فَقَالَ: مَهْلاً يَا خَالِدُ، فَوَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ، لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ تَابَهَا صَاحِبُ مَكْسٍ لَغُفِرَ لَهُ ثُمَّ اَمَرَ بِهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا وَدُفِنَتْ. مسلم 3: 1323
Dari Buraidah, ia berkata : .. kemudian wanita Ghamidiyah itu datang kepada Nabi SAW dan berkata, Ya Rasulullah, sesungguhnya aku telah berzina, maka bersihkanlah diriku. Nabi SAW menolaknya. Setelah hari berkutnya wanita itu datang lagi dan berkata, Ya Rasulullah, mengapa engkau menolakku ? Mungkin engkau menolakku sebagaimana engkau menolak kepada Maiz, demi Allah, sungguh aku ini telah hamil. Nabi SAW besabda,Jika kamu tidak mau, maka pergilah sehingga engkau melahirkan. Setelah wanita itu melahirkan, lalu datang lagi kepada Nabi SAW dengan membawa bayinya di dalam kain. Wanita itu berkata, Ini aku telah melahirkan anak. Nabi SAW bersabda, Pergilah dan susuilah dia, sehingga engkau menyapihnya. Setelah wanita itu menyapihnya, lalu ia datang lagi kepada Nabi SAW dengan membawa anaknya yang memegang sepotong roti. Wanita itu berkata, Ya Nabiyyallah, ini anakku, saya telah menyapihnya, dan ia sudah bisa memakan makanan. Lalu Nabi SAW menyerahkan anak itu kepada seorang laki-laki dari kaum muslimin. Kemudian beliau menyuruh supaya wanita itu dirajam. Lalu wanita itu ditanam sampai ke dadanya, dan beliau memerintahkan kepada para shahabat untuk merajamnya. Lalu Khalid bin Walid datang dengan membawa batu, lalu melempar kepalanya sehingga darahnya mengenai wajah Khalid. Lalu Khalid mencaci wanita itu. Setelah Nabi SAW mendengar cacian Khalid kepada wanita itu, beliau bersabda, Tenang wahai Khalid, demi Tuhan yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh wanita ini telah bertaubat, padahal seandainya ada seorang penipu yang bertaubat tentu akan diampuni. Kemudian Nabi SAW memerintahkan supaya jenazah wanita itu dirawat. Lalu beliau menshalatkannya, kemudian jenazah wanita itu diqubur. [HR. Muslim juz 3, hal. 1323]

عَنْ اَبِى عَبْدِ الرَّحْمنِ قَالَ: خَطَبَ عَلِيٌّ فَقَالَ: يَا اَيُّهَا النَّاسُ، اَقِيْمُوْا عَلَى اَرِقَّائِكُمُ اْلحَدَّ مَنْ اَحْصَنَ مِنْهُمْ وَ مَنْ لَمْ يُحْصِنْ فَاِنَّ اَمَةً لِرَسُوْلِ اللهِ ص زَنَتْ، فَاَمَرَنِى اَنْ اَجْلِدَهَا، فَاِذَا هِيَ حَدِيْثُ عَهْدٍ بِنِفَاسٍ، فَخَشِيْتُ اِنْ اَنَا جَلَدْتُهَا اَنْ اَقْتُلَهَا، فَذَكَرْتُ ذلِكَ لِلنَّبِيّ ص فَقَالَ: اَحْسَنْتَ. مسلم 3: 1330
Dari Abu Abdur Rahman, ia berkata :Pada suatu hari Ali berpidato, ia berkata, Wahai para manusia, tegakkanlah hukum (termasuk) kepada para budak kalian, baik yang sudah menikah maupun yang belum menikah, karena seorang hamba perempuan Rasulullah SAW telah berzina, lalu beliau SAW memerintah aku untuk menderanya. (Kemudian aku datang kepada hamba tersebut), ternyata ia baru saja melahirkan, maka aku khawatir seandainya dia kudera, maka dia akan mati. Kemudian hal itu kusampaikan kepada Nabi SAW. Maka jawab beliau, Bagus pendapatmu itu, (biarkanlah dia sampai betul-betul sehat kembali). [HR. Muslim juz 3, hal. 1330].

Di zaman Nabi SAW, hukuman had juga diterapkan kepada ahli kitab.

عَنْ نَافِعٍ اَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ اَخْبَرَهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص اُتِيَ بِيَهُوْدِيّ وَ يَهُوْدِيَّةٍ قَدْ زَنَيَا، فَانْطَلَقَ رَسُوْلُ اللهِ ص حَتَّى جَاءَ يَهُوْدَ فَقَالَ: مَا تَجِدُوْنَ فِى التَّوْرَاةِ عَلَى مَنْ زَنَى؟ قَالُوا: نُسَوّدُ وُجُوْهَهُمَا وَ نُحَمّلُهُمَا وَ نُخَالِفُ بَيْنَ وُجُوْهِهِمَا وَ يُطَافُ بِهِمَا. قَالَ: فَأْتُوْا بِالتَّوْرَاةِ اِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ. فَجَاءُوْا بِهَا فَقَرَءُوْهَا حَتَّى اِذَا مَرُّوْا بِايَةِ الرَّجْمِ وَضَعَ الْفَتَى الَّذِيْ يَقْرَأُ يَدَهُ عَلَى ايَةِ الرَّجْمِ، وَ قَرَأَ مَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَ مَا وَرَاءَهَا. فَقَالَ لَهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ سَلاَمٍ وَ هُوَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص: مُرْهُ فَلْيَرْفَعْ يَدَهُ، فَرَفَعَهَا فَاِذَا تَحْتَهَا ايَةُ الرَّجْمِ فَاَمَرَ بِهِمَا رَسُوْلُ اللهِ ص فَرُجِمَا. قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ: كُنْتُ فِيْمَنْ رَجَمَهُمَا فَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَقِيْهَا مِنَ اْلحِجَارَةِ بِنَفْسِهِ.مسلم 3: 1326
Dari Nafi bahwasanya Abdullah bin Umar mengkhabarkan kepadanya, bahwa ada seorang laki-laki Yahudi dan seorang perempuan Yahudi dibawa kepada Rasulullah SAW karena berzina. Maka Rasulullah SAW pergi menemui orang-orang Yahudi itu, lalu beliau SAW bertanya, Apa yang kalian dapati dalam Taurat hukuman bagi orang yang zina ?. Mereka menjawab, Wajah keduanya kami beri warna hitam (mencoreng-coreng dengan arang), dan kami arak keduanya dengan saling mengungkurkan, dan keduanya kami bawa keliling. Beliau SAW bersabda, Datangkanlah kitab Taurat jika kalian orang-orang yang benar. Maka mereka datang dengan membawa Taurat, dan membacakannya, sehingga ketika melewati ayat tentang rajam, pemuda yang membaca itu menutupkan tangannya pada ayat rajam itu. Dan ia membaca ayat yang sebelumnya dan yang sesudahnya. MakaAbdullah bin Salam yang ketika itu bersama Rasulullah SAW berkata, Suruhlah ia mengangkat tangannya. Maka ia mengangkat tangannya, dan ternyata dibawahnya itu ada ayat tentang rajam. Maka Rasulullah SAW memerintahkan supaya merajam keduanya, (orang Yahudi laki-laki dan perempuan yang berzina tersebut). Abdullah bin Umar berkata, Dahulu aku termasuk orang yang merajam keduanya, maka aku melihat yang laki-laki melindungi yang wanita dengan dirinya dari lemparan batu [HR. Muslim juz 3, hal. 1326].

عَنِ اْلبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: مُرَّ عَلَى النَّبِيّ ص بِيَهُوْدِيّ مُحَمَّمًا مَجْلُوْدًا فَدَعَاهُمْ ص فَقَالَ: هكَذَا تَجِدُوْنَ حَدَّ الزَّانِى فِى كِتَابِكُمْ؟ قَالُوْا: نَعَمْ. فَدَعَا رَجُلاً مِنْ عُلَمَائِهِمْ فَقَالَ: اَنْشُدُكَ بِاللهِ الَّذِى اَنْزَلَ التَّوْرَاةَ عَلَى مُوْسَى، اَهكَذَا تَجِدُوْنَ حَدَّ الزَّانِى فِى كِتَابِكُمْ ؟ قَالَ: لاَ، وَ لَوْ لاَ اَنَّكَ نَشَدْتَنِى بِهذَا لَمْ اُخْبِرْكَ نَجِدُهُ الرَّجْمَ، وَ لكِنَّهُ كَثُرَ فِى اَشْرَافِنَا، وَ كُنَّا اِذَا اَخَذْنَا الشَّرِيْفَ تَرَكْنَاهُ، وَ اِذَا اَخَذْنَا الضَّعِيْفَ اَقَمْنَا عَلَيْهِ اْلحَدَّ، قُلْنَا: تَعَالَوْا، فَلْنَجْتَمِعْ عَلَى شَيْءٍ نُقِيْمُهُ عَلَى الشَّرِيْفِ وَ اْلوَضِيْعِ. فَجَعَلْنَا التَّحْمِيْمَ وَ اْلجَلْدَ مَكَانَ الرَّجْمِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَللّهُمَّ اِنّى اَوَّلُ مَنْ اَحْيَا اَمْرَكَ اِذْ اَمَاتُوْهُ، فَاَمَرَ بِهِ فَرُجِمَ. مسلم 3: 1327
Dari Al-Baraa bin Aazib, ia berkata, Ada seorang Yahudi yang mukanya dicoreng-coreng dengan arang setelah didera, dibawa lewat di hadapan Nabi SAW. Lalu Nabi SAW memanggil mereka (orang-orang Yahudi) lalu bertanya, Apakah demikian itu yang kalian dapati dalam kitab kalian tentang hukuman zina ? Mereka menjawab, Ya betul. Lalu Nabi SAW memanggil salah seorang dari ulama mereka, seraya bersabda, Aku menyumpahmu dengan nama Allah yang telah menurunkan Taurat kepada Musa, apakah memang begitu yang kalian dapati dalam kitab kalian tentang hukuman zina ?. Ia menjawab, Tidak, dan seandainya tuan tidak menyumpahku begini, sudah pasti aku tidak akan memberitahu kepada tuan, kami mendapatinya, yaitu hukuman rajam. Tetapi karena banyak pembesar-pembesar kami yang berzina, maka jika mereka kami tangkap, maka kami tidak kenakan hukuman rajam kepadanya, tetapi jika orang kecil yang berzina, maka kami laksanakan hukuman rajam itu atasnya. Kemudian kami berkata kepada mereka, Marilah kita bermusyawarah untuk membicarakan sesuatu (hukuman) yang harus kita terapkan terhadap orang-orang terhormat dan terhadap orang bawahan. Lalu kami bersepakat, yaitu mereka dicoreng-coreng wajahnya dengan arang dan didera, sebagai ganti hukuman rajam. Lalu Rasulullah SAW bersabda, Ya Allah, sesungguhnya akulah orang yang pertama-tama menghidupkan hukum-Mu, disaat mereka (Yahudi) itu mematikannya. Lalu Rasulullah SAW menyuruh supaya dia dirajam, lalu orang itu dirajam. [HR. Muslim juz 3, hal. 1327].

Hukuman Orang yang Menuduh Zina.

Firman Allah SWT :

وَ الَّذِيْنَ يَرْمُوْنَ اْلمُحْصنتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوْا بِاَرْبَعَةِ شُهَدَآءَ فَاجْلِدُوْهُمْ ثَمنِيْنَ جَلْدَةً وَّ لاَ تَقْبَلُوْا لَهُمْ شَهَادَةً اَبَدًا، وَ اُولئِكَ هُمُ اْلفسِقُوْنَ. اِلاَّ الَّذِيْنَ تَابُوْا مِنْ بَعْدِ ذلِكَ وَ اَصْلَحُوْا، فَاِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ. النور:4-5
Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasiq. Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki dirinya, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[QS. An-Nuur : 4-5]
Hadits Nabi SAW :

عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: لَمَّا نَزَلَ عُذْرِى قَامَ النَّبِيُّ ص عَلَى اْلمِنْبَرِ فَذَكَرَ ذَاكَ وَ تَلاَ (تَعْنِى اْلقُرْآنَ)، فَلَمَّا نَزَلَ مِنَ اْلمِنْبَرِ اَمَرَ بِالرَّجُلَيْنِ وَ اْلمَرْأَةِ فَضُرِبُوْا حَدَّهُمْ. ابو داود 4: 192، رقم: 4474
Dari ‘Aisyah RA ia berkata, “Setelah turun (ayat tentang) pembebasanku (dari tuduhan berzina), maka Nabi SAW berdiri di atas mimbar, kemudian beliau menyebutkan hal itu dan membaca (yakni Al-Quran). Setelah beliau turun (dari mimbar), lalu memerintahkan terhadap dua orang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian mereka didera sebagai hukuman hadd[HR. Abu Dawud juz 4, hal. 192, no. 4474].
Keterangan :
Menurut riwayat, dua orang laki-laki tersebut adalah Hassaan bin Tsaabit dan Misthah bin Utsaatsah. Adapun seorang wanita tersebut adalah Hamnah binti Jahsyin.

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ النَّبِيّ ص اَنَّ رَجُلاً اَتَاهُ فَاَقَرَّ عِنْدَهُ اَنَّهُ زَنَى بِامْرَأَةٍ سَمَّاهَا لَهُ فَبَعَثَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِلَى الْمَرْأَةِ فَسَأَلَهَا عَنْ ذلِكَ فَاَنْكَرَتْ اَنْ تَكُوْنَ زَنَتْ فَجَلَدَهُ اْلحَدَّ وَ تَرَكَهَا. ابو داود 4: 159، رقم: 4466
Dari Sahl bin Sa’d dari Nabi SAW, bahwasanya ada seorang laki-laki datang kepada beliau dan menyatakan bahwasanya ia telah berzina dengan seorang perempuan dan ia sebutkan namanya kepada beliau. Maka Rasulullah SAW mengutus seseorang untuk menanyai wanita tersebut tentang hal itu, lalu si wanita itu tidak mengakui bahwa ia telah berzina, maka laki-laki itu dihukum dera, sedangkan si wanita dibebaskan.  [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 159, no. 4466]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ رَجُلاً مِنْ بَكْرِ بْنِ لَيْثٍ اَتَى النَّبِيَّ ص فَاَقَرَّ اَنَّهُ زَنَى بِامْرَأَةٍ اَرْبَعَ مَرَّاتٍ، فَجَلَدَهُ مِائَةً وَ كَانَ بِكْرًا، ثُمَّ سَأَلَهُ اْلبَيّنَةَ عَلَى اْلمَرْأَةِ فَقَالَتْ: كَذَبَ وَ اللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَجَلَدَهُ حَدَّ اْلفِرْيَةِ ثَمَانِيْنَ. ابو داود 4: 179، رقم: 4467
Dari Ibnu Abbas bahwasanya ada seorang laki-laki dari bani Bakr bin Laits datang kepada Nabi SAW lalu mengaku bahwa dia telah berbuat zina dengan seorang wanita (dengan menyebut nama wanita itu), dia mengatakan hingga empat kali pengakuan. Maka beliau menderanya seratus kali, karena dia seorang jejaka. Kemudian beliau menanyakan bukti tuduhannya terhadap wanita tersebut. (Dan ternyata ia tidak bisa mendatangkan bukti atas tuduhannya tersebut). Lalu wanita itu berkata, Dia berdusta, demi Allah wahai Rasulullah”. Kemudian beliau menderanya lagi 80 kali atas tuduhan tersebut. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 159, no. 4467, dla’if karena dalam sanadnya terdapat perawi bernama Al-Qaasim bin Fayyaadl Al-Abnawiy]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنْ وَجَدْتُ مَعَ امْرَأَتِى رَجُلاً اَؤُمْهِلُهُ حَتَّى اتِيَ بِاَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ؟ قَالَ: نَعَمْمسلم 2: 1135
Dari Abu Hurairah bahwasanya Saad bin Ubadah berkata, Ya Rasulullah jika aku mendapati istriku bersama seorang laki-laki, apakah aku juga harus menangguhkannya sehingga aku mendatangkan empat orang saksi ?. Beliau SAW bersabda, Ya. [HR. Muslim juz 2, hal 1135].

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: سَمِعْتُ اَبَا اْلقَاسِمِ ص يَقُوْلُ: مَنْ قَذَفَ مَمْلُوْكَهُ وَ هُوَ بَرِئَ مِمَّا قَالَ جُلِدَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ اِلاَّ اَنْ يَكُوْنَ كَمَا قَالَ. البخارى 8: 24
Dari Abu Hurairah RA ia berkata : Aku pernah mendengar Abul Qasim SAW bersabda, Barangsiapa menuduh budaknya (berzina) padahal dia bersih dari tuduhan itu, maka ia akan didera pada hari kiyamat nanti, kecuali kalau memang tuduhannya itu benar seperti apa yang ia katakan. [HR. Bukhari juz 8, hal. 24].

عَنْ اَبِى الزّنَادِ اَنَّهُ قَالَ: جَلَدَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ اْلعَزِيْزِ عَبْدًا فِى فِرْيَةٍ ثَمَانِيْنَ. قَالَ اَبُو الزّنَادِ: فَسَأَلْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَامِرِ بْنِ رَبِيْعَةَ عَنْ ذلِكَ. فَقَالَ: اَدْرَكْتُ عُمَرَ بْنَ اْلخَطَّابِ وَ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ وَ اْلخُلَفَاءَ هَلُمَّ جَرًّا مَا رَأَيْتُ اَحَدًا جَلَدَ عَبْدًا فِى فِرْيَةٍ اَكْثَرَ مِنْ اَرْبَعِيْنَ. مالك فى الموطأ 2: 828
Dari Abuz Zinad, bahwa ia berkata : Umar bin Abdul Aziz pernah menghukum dera dengan delapan puluh kali dera kepada seorang budak dalam kasus tuduhan (zina). Abuz Zinad berkata : Kemudian aku bertanya kepada Abdullah bin Amir bin Rabiah tentang hal itu, maka jawabnya, “Aku mendapati‘Umar bin Khaththab, ‘Utsman bin Affan dan khalifah-khalifah yang lain, maka aku tidak melihat seorangpun yang menghukum dera kepada seorang budak dalam kasus tuduhan (zina) yang melebihi empat puluh dera. [HR. Malik dalam Al-Muwaththa' juz 2, hal. 828]
Keterangan :
Orang yang menuduh zina kepada orang lain, apabila tidak bisa mendatangkan empat orang saksi, ia harus dihukum dera sebanyak 80 kali berdasarkan QS. An-Nuur : 4. Tetapi apabila yang menuduh itu seorang budak, ulama berbeda pendapat. Ada yang berpendapat bahwa diapun juga harus dihukum 80 kali dera, dan ada yang berpendapat dia hanya dikenai hukuman separuhnya (40 kali dera). Hal ini bisa dimaklumi, karena hukuman berbuat zina pun bagi budak, hukumannya tidak dirajam, tetapi separohnya hukuman orang merdeka yang belum bersuami (yakni hanya didera 50 dera), sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nisaa : 25.  walloohu a’lam.

Orang yang mengaku berzina dengan seorang perempuan, tidak berarti menuduhnya.

عَنْ نُعَيْمِ بْنِ هَزَّالٍ قَالَ: كَانَ مَاعِزُ بْنُ مَالِكٍ يَتِيْمًا فِى حِجْرِ اَبِى، فَاَصَابَ جَارِيَةً مِنَ اْلحَيّ، فَقَالَ لَهُ اَبِى: ائْتِ رَسُوْلَ اللهِ ص فَاَخْبِرْهُ بِمَا صَنَعْتَ لَعَلَّهُ يَسْتَغْفِرُ لَكَ. وَ اِنَّمَا يُرِيْدُ بِذلِكَ رَجَاءَ اَنْ يَكُوْنَ لَهُ مَخْرَجًا، فَاَتَاهُ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ. اِنّى زَنَيْتُ، فَاَقِمْ عَلَيَّ كِتَابَ اللهِ. فَاَعْرَضَ عَنْهُ، فَعَادَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنّى زَنَيْتُ، فَاَقِمْ عَلَيَّ كِتَابَ اللهِ حَتَّى قَالَهَا اَرْبَعُ مِرَارٍ. قَالَ ص: اِنَّكَ قَدْ قُلْتَهَا اَرْبَعَ مَرَّاتٍ. فَبِمَنْ؟ قَالَ: بِفُلاَنَةَ. قَالَ: هَلْ ضَاجَعْتَهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: هَلْ بَاشَرْتَهَا؟ قَالَ: نَعَمْ: قَالَ: هَلْ جَامَعْتَهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قال: فَاَمَرَ بِهِ اَنْ يُرْجَمَ فَاُخْرِجَ بِهِ اِلَى اْلحَرَّةِ. فَلَمَّا رُجِمَ فَوَجَدَ مَسَّ اْلحِجَارَةِ جَزِعَ، فَخَرَجَ يَشْتَدُّ، فَلَقِيَهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ اُنَيْسٍ، وَ قَدْ عَجَزَ اَصْحَابُهُ، فَنَزَعَ لَهُ بِوَظِيْفِ بَعِيْرٍ فَرَمَاهُ بِهِ، فَقَتَلَهُ، ثُمَّ اَتَى النَّبِيَّ ص فَذَكَرَ ذلِكَ لَهُ، فَقَالَ: هَلاَّ تَرَكْتُمُوْهُ، لَعَلَّهُ اَنْ يَتُوْبَ فَيَتُوْبَ اللهُ عَلَيْهِ. ابو داود 4: 145، رقم: 4419
Dari Nu’aim bin Hazzal ia berkata : Adalah Maa’iz bin Malik seorang yatim di bawah asuhan ayahku, lalu ia berzina dengan seorang perempuan dari suatu kampung. Kemudian ayahku berkata kepadanya, Pergilah kepada Rasulullah SAW lalu beritahukanlah kepada beliau tentang apa yang telah engkau perbuat, barangkali beliau akan memohonkan ampun untukmu !. Dan (ayahku) menghendaki demikian itu hanyalah mengharapkan jalan keluar untuknya. Lalu ia datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku telah berbuat zina maka laksanakan hukum Allah atas diriku”. Kemudian Nabi SAW berpaling darinya, lalu Maa’iz datang lagi dan berkata, Ya Rasulullah, sesungguhnya aku telah berzina maka laksanakanlah hukum Allah atas diriku, sehingga ia menyatakannya sampai empat kali. Maka Rasulullah SAW bersabda, Seungguhnya kamu telah mengucapkan pengakuanmu itu empat kali. Lalu dengan siapa engkau berzina ?. Ia menjawab, Dengan si Fulanah. Nabi SAW bertanya, Apakah engkau menidurinya ?”. Ia menjawab, “Ya. Nabi SAW bertanya lagi, “Apakah engkau bercumbu dengannya ?”. Ia menjawab, “Ya. Nabi SAW bertanya lagi, “Apakah kamu menyetubuhinya ?”. Ia menjawab, “Ya. (Nuaim) berkata : Kemudian beliau memerintahkan agar ia dirajam. Kemudian ia dibawa keluar ke tanah berbatu. Tatkala ia dirajam dan merasakan benturan batu-batu, ia pun kesakitan, lalu ia lari, kemudian Abdullah bin Unais menjumpainya sedangkan teman-temannya kewalahan, lalu dia mencabut tulang betis unta dan melemparkannya kepada Maa’iz sehingga mati. Kemudian dia datang kepada Nabi SAW lalu menceritakan hal tersebut kepada beliau. Maka Nabi SAW bersabda : “Mengapa tidak kalian biarkan saja, barangkali ia mau bertaubat, lalu Allah menerima taubatnya ?. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 145, no. 4419]

Hukuman zina tidak dapat dijatuhkan karena suatu tuduhan atau pengakuan yang tidak jelas.

عَنْ اَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رض قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيّ ص فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنّى اَصَبْتُ حَدًّا فَاَقِمْهُ عَلَيَّ قَالَ: وَ لَمْ يَسْأَلْهُ عَنْهُ. قَالَ: وَ حَضَرَتِ الصَّلاَةُ، فَصَلَّى مَعَ النَّبِيّ ص. فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ ص الصَّلاَةَ، قَامَ اِلَيْهِ الرَّجُلُ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنّى اَصَبْتُ حَدًّا، فَاَقِمْ فِيَّ كِتَابَ اللهِ. قَالَ: اَلَيْسَ قَدْ صَلَّيْتَ مَعَنَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَاِنَّ اللهَ قَدْ غَفَرَ لَكَ ذَنْبَكَ اَوْ قَالَ: حَدَّكَ. البخارى 8: 23
Dari Anas bin Malik RA, ia berkata : Dahulu saya di sisi Nabi SAW, tiba-tiba ada seorang laki-laki datang seraya berkata, Ya Rasulullah, sungguh saya telah berbuat tindak kejahatan, oleh karena itu laksanakanlah hukuman atasku !. (Anas) berkata : Nabi SAW tidak menanyakan kejahatan tentang apa kepadanya. (Tidak lama kemudian) datanglah waktu shalat, lalu orang tersebut shalat bersama Nabi SAW. Setelah selesai shalat, laki-laki tersebut berdiri menghampiri Nabi SAW, seraya berkata, Ya Rasulullah, sungguh aku telah berbuat tindak kejahatan, oleh karena itu laksanakanlah hukuman (atasku) berdasar Kitabullah. Kemudian Nabi SAW bertanya, Bukankah engkau telah shalat bersamaku?. Ia menjawab, Ya. Lalu Nabi SAW bersabda, Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosamu atau tindak kejahatanmu. [HR. Bukhari juz 8, hal. 23].

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لَوْ كُنْتُ رَاجِمًا اَحَدًا بِغَيْرِ بَيّنَةٍ لَرَجَمْتُ فُلاَنَةَ، فَقَدْ ظَهَرَ مِنْهَا الرّيْبَةُ فِى مَنْطِقِهَا وَ هَيْئَتِهَا وَ مَنْ يَدْخُلُ عَلَيْهَا. ابن ماجه 2: 855
Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Seandainya aku merajam seseorang tanpa bukti, niscaya si fulanah itu sudah kurajam. Tetapi lantaran dalam pembicaraan dan gerak-geriknya nampak meragukan dan juga orang yang masuk padanya, (maka dia tidak dirajam). [HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 855, no. 2559].

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِدْفَعُوا اْلحُدُوْدَ مَا وَجَدْتُمْ لَهُ مَدْفَعًا. ابن ماجه 2: 850، رقم: 2545
Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, Hindarkanlah hukuman selama kamu masih menemukan alasan untuk menghindarkannya. [HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 850, no. 2545, dlaif, karena dalam sanadnya ada perawi bernama Ibrahim bin Fadhl Al-Makhzumiy]

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِدْرَؤُا اْلحُدُوْدَ عَنِ اْلمُسْلِمِيْنَ مَا اسْتَطَعْتُمْ. فَاِنْ كَانَ لَهُ مَخْرَجٌ فَخَلُوْا سَبِيْلَهُ، فَاِنَّ اْلاِمَامَ اِنْ يُخْطِئْ فِى اْلعَفْوِ خَيْرٌ مِنْ اَنْ يُخْطِئَ فِى اْلعُقُوْبَةِ. الترمذى 2: 438، رقم: 1447
Dari Aisyah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Tolaklah hukuman terhadap kaum muslimin semaksimalmu. Maka jika ada jalan keluar, lepaskanlah dia, sebab seorang imam itu jika keliru dalam memberikan ampunan, adalah lebih baik daripada keliru dalam menjatuhkan hukuman. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 438, no. 1447, dlaif karena dalam sanadnya ada perawi bernama Yaziid bin Ziyaad].

Tentang Lian
Firman Allah SWT :

وَ الَّذِيْنَ يَرْمُوْنَ اَزْوَاجَهُمْ وَ لَمْ يَكُنْ لَّهُمْ شُهَدَآءُ اِلاَّ اَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ اَحَدِهِمْ اَرْبَعُ شَهدتٍ بِاللهِ اِنَّه لَمِنَ الصّدِقِيْنَ. وَ اْلخَامِسَةُ اَنَّ لَعْنَتَ اللهِ عَلَيْهِ اِنْ كَانَ مِنَ اْلكذِبِيْنَ. النور:6-7
Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima, bahwa la’nat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta. [QS. An-Nuur : 6-7]

وَ يَدْرَؤُا عَنْهَا اْلعَذَابَ اَنْ تَشْهَدَ اَرْبَعَ شَهدتٍ بِاللهِ اِنَّه لَمِنَ اْلكذِبِيْنَ. وَ اْلخَامِسَةَ اَنَّ غَضَبَ اللهِ عَلَيْهَا اِنْ كَانَ مِنَ الصّدِقِيْنَ. النور:8-9
Dan istrinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah, sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta. Dan (sumpah) yang kelima, bahwa murka Allah atasnya, jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar. [QS. An-Nuur : 8-9]

Hadits-hadits Nabi SAW :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رض اَنَّ هِلاَلَ بْنَ اُمَيَّةَ قَذَفَ امْرَأَتَهُ فَجَاءَ فَشَهِدَ وَ النَّبِيُّ ص يَقُوْلُ: اِنَّ اللهَ يَعْلَمُ اَنَّ اَحَدَكُمَا كَاذِبٌ، فَهَلْ مِنْكُمَا تَائِبٌ ثُمَّ قَامَتْ فَشَهِدَتْ. البخارى 6: 178
Dari Ibnu Abbas RA, bahwasanya Hilal bin Umayyah menuduh istrinya berbuat zina, lalu ia datang (kepada Nabi SAW) dan bersaksi (bersumpah). Dan Nabi SAW bersabda, Sesungguhnya Allah mengetahui bahwa salah satu diantara kalian berdua adalah bohong. Maka apakah diantara kalian mau bertaubat ?. Kemudian wanita itu berdiri, dan iapun bersaksi (bersumpah). [HR. Bukhari juz 6, hal. 178]

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ اَنَّ سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ السَّاعِدِيَّ اَخْبَرَهُ اَنَّ عُوَيْمِرًا الْعَجْلاَنِيَّ جَاءَ اِلَى عَاصِمِ بْنِ عَدِيّ اْلاَنْصَارِيّ فَقَالَ لَهُ: يَا عَاصِمُ، اَرَأَيْتَ رَجُلاً وَجَدَ مَعَ امْرَأَتِهِ رَجُلاً، اَيَقْتُلُهُ فَتَقْتُلُوْنَهُ اَمْ كَيْفَ يَفْعَلُ؟ سَلْ لِيْ يَا عَاصِمُ عَنْ ذلِكَ. فَسَأَلَ عَاصِمٌ رَسُوْلَ اللهِ ص عَنْ ذلِكَ، فَكَرِهَ رَسُوْلُ اللهِ ص الْمَسَائِلَ وَ عَابَهَا حَتَّى كَبُرَ عَلَى عَاصِمٍ مَا سَمِعَ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ ص. فَلَمَّا رَجَعَ عَاصِمٌ اِلَى اَهْلِهِ جَاءَهُ عُوَيْمِرٌ فَقَالَ: يَا عَاصِمُ، مَاذَا قَالَ لَكَ رَسُوْلُ اللهِ ص؟ فَقَالَ عَاصِمٌ لِعُوَيْمِرٍ: لَمْ تَأْتِنِيْ بِخَيْرٍ، قَدْ كَرِهَ رَسُوْلُ اللهِ ص الْمَسْأَلَةَ الَّتِيْ سَأَلْتُهُ عَنْهَا. فَقَالَ عُوَيْمِرٌ: وَ اللهِ لاَ اَنْتَهِيْ حَتَّى اَسْأَلَهُ عَنْهَا. فَاَقْبَلَ عُوَيْمِرٌ حَتَّى جَاءَ رَسُوْلَ اللهِ ص وَسَطَ النَّاسِ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اَرَأَيْتَ رَجُلاً وَجَدَ مَعَ امْرَأَتِهِ رَجُلاً اَيَقْتُلُهُ فَتَقْتُلُوْنَهُ اَمْ كَيْفَ يَفْعَلُ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: قَدْ اُنْزِلَ فِيْكَ وَفِي صَاحِبَتِكَ فَاذْهَبْ فَأْتِ بِهَا. قَالَ سَهْلٌ فَتَلاَعَنَا وَ اَنَا مَعَ النَّاسِ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ ص. فَلَمَّا فَرَغَا مِنْ تَلاَعُنِهِمَا قَالَ عُوَيْمِرٌ: كَذَبْتُ عَلَيْهَا يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنْ اَمْسَكْتُهَا فَطَلَّقَهَا ثَلاَثًا قَبْلَ اَنْ يَأْمُرَهُ رَسُوْلُ اللهِ ص. قَالَ ابْنُ شِهَابٍ: فَكَانَتْ سُنَّةَ الْمُتَلاَعِنَيْنِ. البخارى 6: 178
Dari Ibnu Syihab, bahwasanya Sahl bin Saad As-Saaidiy memberitahukan kepadanya, bahwasanya Uwaimir Al-Ajlaniy datang kepada Aashim binAdiy Al-Anshariy, lalu ia berkata kepadanya, Ya Aashim, bagaimana pendapatmu apabila ada seorang laki-laki yang mendapati istrinya bersama laki-laki lain, apakah ia boleh membunuhnya sehingga kalian akan membunuh orang tersebut, atau bagaimana ia harus berbuat ?. Hai Aashim, tanyakanlah tentang hal itu untuk diriku !. Kemudian Aashim menanyakan hal itu kepada Rasulullah SAW, maka Rasulullah SAW tidak suka kepada pertanyaan tersebut dan beliau mencelanya, sehingga berat terasa pada Aashim karena mendengar dari Rasulullah SAW tersebut . Setelah Aashim kembali kepada keluarganya, maka Uwaimir datang kepadanya lalu bertanya, Ya Aashim, bagaimana yang dikatakan Rasulullah SAW kepadamu ?. JawabAashim kepada Uwaimir, Pertanyaan itu tidak mendatangkan kebaikan kepadaku, sungguh Rasulullah SAW tidak suka kepada pertanyaan yang aku tanyakan kepada beliau. Kemudian Uwaimir berkata, Demi Allah, aku tidak akan berhenti sehingga menanyakan hal itu kepada beliau. KemudianUwaimir berangkat sehingga datang kepada Rasulullah SAW, pada waktu itu beliau sedang berada di tengah-tengah orang banyak, lalu Uwaimir bertanya, Ya Rasulullah, bagaimana pendapat engkau apabila ada seorang laki-laki mendapati istrinya sedang bersama laki-laki lain, apakah boleh ia membunuh laki-laki tersebut sehingga kalian membunuh suami itu, atau bagaimana yang harus ia perbuat ?. Rasulullah SAW bersabda, Sungguh telah diturunkan (wahyu) tentang dirimu dan istrimu, maka pergilah dan bawalah istrimu kemari. Sahl berkata : Lalu kedua suami-istri itu melakukan lian, sedangkan saya pada waktu itu bersama orang banyak berada di sisi Rasulullah SAW. Setelah suami-istri tersebut selesai melakukan lianUwaimir berkata, Aku berdusta terhadapnya, ya Rasulullah, jika saya tetap menahannya (sebagai istri). Lalu ia menceraikannya tiga sebelum Rasulullah SAW menyuruhnya. Ibnu Syihab berkata, Maka dipisahkannya suami-istri itu merupakan ketentuan bagi mereka yang melakukan lian. [HR. Bukhari juz 6, hal. 178]

عَنْ سَعِيْدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ: سُئِلْتُ عَنِ الْمُتَلاَعِنَيْنِ فِيْ اِمْرَةِ مُصْعَبٍ اَيُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا، قَالَ: فَمَا دَرَيْتُ مَا اَقُوْلُ فَمَضَيْتُ اِلَى مَنْزِلِ ابْنِ عُمَرَ بِمَكَّةَ، فَقُلْتُ لِلْغُلاَمِ اِسْتَأْذِنْ لِيْ، قَالَ: اِنَّهُ قَائِلٌ، فَسَمِعَ صَوْتِيْ، قَالَ: اِبْنُ جُبَيْرٍ؟ قُلْتُ: نَعَمْ. قَالَ: اُدْخُلْ، فَوَ اللهِ مَا جَاءَ بِكَ هذِهِ السَّاعَةَ اِلاَّ حَاجَةٌ. فَدَخَلْتُ فَاِذَا هُوَ مُفْتَرِشٌ بَرْذَعَةً مُتَوَسّدٌ وِسَادَةً حَشْوُهَا لِيفٌ. قُلْتُ: اَبَا عَبْدِ الرَّحْمنِ، اْلمُتَلاَعِنَانِ اَيُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ، نَعَمْ. اِنَّ اَوَّلَ مَنْ سَأَلَ عَنْ ذلِكَ فُلاَنُ بْنُ فُلاَنٍ. قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَرَأَيْتَ اَنْ لَوْ وَجَدَ اَحَدُنَا امْرَأَتَهُ عَلَى فَاحِشَةٍ كَيْفَ يَصْنَعُ؟ اِنْ تَكَلَّمَ تَكَلَّمَ بِاَمْرٍ عَظِيْمٍ. وَ اِنْ سَكَتَ سَكَتَ عَلَى مِثْلِ ذلِكَ. قَالَ: فَسَكَتَ النَّبِيُّ ص، فَلَمْ يُجِبْهُ. فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ ذلِكَ اَتَاهُ فَقَالَ: اِنَّ الَّذِيْ سَأَلْتُكَ عَنْهُ قَدْ اُبْتُلِيْتُ بِهِ. فَاَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ هؤُلاَءِ اْلايتِ فِي سُورَةِ النُّورِ. (وَالَّذِيْنَ يَرْمُوْنَ اَزْوَاجَهُمْ) فَتَلاَهُنَّ عَلَيْهِ وَ وَعَظَهُ وَ ذَكَّرَهُ وَ اَخْبَرَهُ اَنَّ عَذَابَ الدُّنْيَا اَهْوَنُ مِنْ عَذَابِ اْلآخِرَةِ. قَالَ: لاَ، وَ الَّذِيْ بَعَثَكَ بِاْلحَقّ، مَا كَذَبْتُ عَلَيْهَا. ثُمَّ دَعَاهَا فَوَعَظَهَا وَ ذَكَّرَهَا وَ اَخْبَرَهَا اَنَّ عَذَابَ الدُّنْيَا اَهْوَنُ مِنْ عَذَابِ اْلآخِرَةِ. قَالَتْ: لاَ، وَ الَّذِيْ بَعَثَكَ بِاْلحَقّ، اِنَّهُ لَكَاذِبٌ. فَبَدَأَ بِالرَّجُلِ، فَشَهِدَ اَرْبَعَ شَهَادَاتٍ بِاللهِ اِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِيْنَ وَ اْلخَامِسَةُ اَنَّ لَعْنَةَ اللهِ عَلَيْهِ اِنْ كَانَ مِنَ الْكَاذِبِيْنَ. ثُمَّ ثَنَّى بِاْلمَرْأَةِ، فَشَهِدَتْ اَرْبَعَ شَهَادَاتٍ بِاللهِ اِنَّهُ لَمِنَ الْكَاذِبِيْنَ وَ اْلخَامِسَةُ اَنَّ غَضَبَ اللهِ عَلَيْهَا اِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِيْنَ. ثُمَّ فَرَّقَ بَيْنَهُمَا. مسلم 2: 1130
Dari Sa’id bin Jubair, ia berkata : Aku pernah ditanya di masa pemerintahan Mushab (bin Zubair) tentang suami-istri yang melakukan li’an, apakah keduanya itu harus dipisahkan. (Ia berkata) : Maka aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, lalu aku pergi ke rumah Ibnu Umar di Makkah, aku berkata kepada anak lelaki yang di rumahnya, “Izinkanlah aku untuk bertemu dengannya. Ia menjawab,  Ia sedang tidur siang. Lalu ia mendengar suaraku, ia bertanya, “Ibnu Jubair ?”. Aku menjawab, Ya. Ia berkata, Masuklah. Demi Allah, tidaklah membuatmu datang kemari di saat seperti ini, kecuali ada perlu. Lalu aku masuk. Ternyata ia sedang tiduran dengan bertikar alas pelana dan memakai bantal yang isinya sabut. Aku berkata, “Hai Abu Abdurrahman, apakah suami istri yang telah berlian itu harus diceraikan antara keduanya ?”. Ia menjawab, “Subhaanallooh, ya !. Sesungguhnya pertama kali orang yang bertanya tentang hal itu adalah Fulan bin Fulan”. Ia bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapat engkau kalau salah seorang di antara kami mendapati istrinya berbuat zina, apa yang harus ia lakukan ? Jika ia berbicara berarti berbicara tentang urusan besar dan jika ia diam berarti ia mendiamkan perkara besar juga”. Ibnu Umar berkata, “Maka Nabi SAW diam, tidak menjawabnya”. Kemudian ia datang lagi kepada Nabi SAW lalu berkata, Sesungguhnya yang saya tanyakan kepada engkau menimpa diriku sendiri”. Lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat-ayat dalam surat An-Nuur “Dan orang-orang yang menuduh istri-istrinya (berzina) ..... Kemudian Nabi SAW membacakan ayat-ayat tersebut kepadanya dan menasehatinya serta mengingatkannya dan memberitahu, bahwa adzab di dunia itu lebih ringan daripada adzab di akhirat. Lalu orang itu berkata, “Tidak ! Demi Tuhan yang mengutusmu dengan benar, aku tidak berdusta tentang istriku. Kemudian Nabi SAW memanggil istri orang itu lalu menasehatinya, mengingatkannya dan memberitahu, bahwa adzab di dunia itu lebih ringan daripada adzab di akhirat. Wanita itu berkata, “Tidak ! Demi Tuhan yang mengutusmu dengan benar, suamiku itu dusta. Lalu Nabi SAW memulai dari si laki-laki. Maka laki-laki itu bersumpah dengan nama Allah empat kali bahwa dia sungguh di pihak yang benar, dan ke limanya semoga lanat Allah menimpa kepadanya jika ia berdusta. Lalu RasulullahSAW beralih kepada si wanita, kemudian wanita itu bersaksi dengan nama Allah empat kali bahwa sesungguhnya suaminya itu berdusta, dan kelimanya semoga murka Allah ditimpakan kepadanya jika suaminya itu benar. Lalu beliau menceraikan keduanya. [HR. Muslim juz 2, hal. 1130]

قَالَ عَمْرٌو: سَمِعْتُ سَعِيْدَ بْنَ جُبَيْرٍ قَالَ: سَأَلْتُ ابْنَ عُمَرَ عَنِ اْلمُتَلاَعِنَيْنِ فَقَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ص لِلْمُتَلاَعِنَيْنِ: حِسَابُكُمَا عَلَى اللهِ اَحَدُكُمَا كَاذِبٌ لاَ سَبِيْلَ لَكَ عَلَيْهَا قَالَ: مَالِي، قَالَ: لاَ مَالَ لَكَ، اِنْ كُنْتَ صَدَقْتَ عَلَيْهَا فَهُوَ بِمَا اسْتَحْلَلْتَ مِنْ فَرْجِهَا، وَ اِنْ كُنْتَ كَذَبْتَ عَلَيْهَا فَذَاكَ اَبْعَدُ لَكَ. البخارى 6: 180
Berkata Amr, saya mendengar Said bin Jubair berkata : Saya pernah bertanya kepda Ibnu Umar tentang suami-istri yang melakukan lian, maka ia berkata : Nabi SAW bersabda kepada suami-istri yang melakukan lian, Hisab kalian berdua terserah kepada Allah, (yang jelas) salah satu diantara kalian berdua telah berdusta, tidak ada jalan bagimu untuk kembali kepadanya. Lalu yang laki-laki berkata, Lalu hartaku (apakah dikembalikan kepadaku) ?. Nabi SAW bersabda, Tidak ada harta bagimu, jika kamu benar (dalam tuduhanmu) terhadap istrimu, maka harta itu sebagai imbalan bahwa kamu telah menghalalkan farjinya, tetapi jika kamu bohong (dalam tuduhanmu), maka yang demikian itu lebih jauh lagi bagimu. [HR. Bukhari juz 6, hal. 180]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص لِلْمُتَلاَعِنَيْنِ: حِسَابُكُمَا عَلَى اللهِ اَحَدُكُمَا كَاذِبٌ لاَ سَبِيْلَ لَكَ عَلَيْهَا. قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا لِى؟ قَالَ: لاَ مَالَ لَكَ، اِنْ كُنْتَ صَدَقْتَ عَلَيْهَا فَهُوَ بِمَا اسْتَحْلَلْتَ مِنْ فَرْجِهَا، اِنْ كُنْتَ كَذَبْتَ عَلَيْهَا فَذَاكَ اَبْعَدُ لَكَ مِنْهَا. مسلم 2: 1131
Dari Ibnu Umar, ia berkata : Rasulullah saw pernah bersabda  kepada suami istri yang melakukan lian. Hisab kalian  terserah kepada Allah, salah satu diantara kalian berdua ada yang dusta, tidak ada jalan lagi bagimu (kembali) kepadanya. Si suami bertanya, Ya Rasulullah, bagaimana hartaku (maharku) ?. Rasulullah SAW menjawab, Tidak ada harta bagimu, sebab jika engkau benar dan (istrimu salah), maka itu sebagai imbalan bahwa kamu telah menghalalkan dari farjinya dan jika engkau berdusta, maka lebih jauh lagi hakmu atas harta itu. [HR Muslim juz 2, hal. 1131].

Larangan menuduh istri berbuat zina karena melahirkan anak yang tidak serupa dengan ibu bapaknya.

عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي فَزَارَةَ اِلَى النَّبِيّ ص فَقَالَ: اِنَّ امْرَأَتِي وَلَدَتْ غُلاَمًا اَسْوَدَ. فَقَالَ النَّبِيُّ ص: هَلْ لَكَ مِنْ اِبِلٍ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَمَا اَلْوَانُهَا؟ قَالَ: حُمْرٌ. قَالَ: هَلْ فِيْهَا مِنْ اَوْرَقَ؟ قَالَ: اِنَّ فِيْهَا لَوُرْقًا. قَالَ: فَاَنَّى اَتَاهَا ذَلِكَ؟ قَالَ: عَسَى اَنْ يَكُوْنَ نَزَعَهُ عِرْقٌ. قَالَ: وَ هذَا عَسَى اَنْ يَكُوْنَ نَزَعَهُ عِرْقٌ. مسلم 2: 1137
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Datang seorang laki-laki dari Bani Fazarah kepada Nabi SAW dan berkata, Sesungguhnya istriku melahirkan anak laki-laki yag berkulit hitam. Lalu Nabi SAW bertanya, Apakah kamu mempunyai unta ? Orang laki-laki itu menjawab, Ya. Nabi SAW bertanya lagi,Apa warnanya ?. Orang laki-laki itu menjawab, Merah. Nabi SAW bertanya lagi, Apakah ada diantara anak-anaknya itu yang berwarna abu-abu ?. Orang laki-laki itu menjawab, Betul, sungguh ada diantaranya yang berwarna abu-abu. Nabi SAW bertanya lagi, Bagaimana bisa yang demikian itu ?. Orang laki-laki itu menjawab, Barangkali karena pengaruh keturunan. Nabi SAW bersabda, Begitulah pula anak laki-lakimu itu, barangkali karena pengaruh keturunan. [HR. Muslim juz 2, hal. 1137]

عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ اَنَّ اَعْرَابِيًّا اَتَى رَسُوْلَ اللهِ ص فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنَّ امْرَأَتِي وَلَدَتْ غُلاَمًا اَسْوَدَ وَ اِنّي اَنْكَرْتُهُ. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ص: هَلْ لَكَ مِنْ اِبِلٍ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: مَا اَلْوَانُهَا؟ قَالَ: حُمْرٌ. قَالَ: فَهَلْ فِيْهَا مِنْ اَوْرَقَ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: فَاَنَّى هُوَ؟ قَالَ: لَعَلَّهُ يَا رَسُوْلَ اللهِ يَكُوْنُ نَزَعَهُ عِرْقٌ لَهُ. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ص: وَ هذَا لَعَلَّهُ يَكُوْنُ نَزَعَهُ عِرْقٌ لَهُ. مسلم 2: 1137
Dari Abu Hurairah, bahwasanya ada seorang Arab gunung datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, Ya Rasulullah, seungguhnya istriku melahirkan anak laki-laki yang berkulit hitam, dan saya tidak mengakuinya (sebagai anak saya). Maka Nabi SAW bertanya kepadanya, Apakah kamu mempunyai unta ?. Orang laki-laki itu menjawab, Ya. Nabi SAW bertanya lagi, Apa warnanya ?. Orang laki-laki itu menjawab Merah. Nabi SAW bertanya lagi, Apakah ada diantaranya yang berwarna abu-abu ?. Orang laki-laki itu menjawab, Ya. Nabi SAW bertanya lagi, Bagaimana bisa demikian ?. Orang laki-laki itu menjawab, Barangkali ya Rasulullah, karena pengaruh keturunan. Maka Nabi SAW bersabda kepadanya, Begitu pula anak laki-lakimu, barangkali karena pengaruh keturunan. [HR. Muslim juz 2, hal. 1137]

عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ اَنَّ رَجُلاً اَتَى النَّبِيَّ ص فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ الله،ِ وُلِدَ لِي غُلاَمٌ اَسْوَدُ. فَقَالَ: هَلْ لَكَ مِنْ اِبِلٍ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: مَا اَلْوَانُهَا؟ قَالَ: حُمْرٌ. قَالَ: هَلْ فِيْهَا مِنْ اَوْرَقَ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَاَنَّى ذلِكَ؟ قَالَ: لَعَلَّهُ نَزَعَهُ عِرْقٌ. قَالَ: فَلَعَلَّ ابْنَكَ هذَا نَزَعَهُ. البخارى 6: 178
Dari Abu Hurairah bahwasanya ada seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW lalu berkata, Ya Rasulullah, telah lahir untukku anak laki-laki yang berkulit hitam. Nabi SAW bertanya, Apakah kamu mempunyai unta ?. Orang laki-laki itu menjawab, Ya. Nabi SAW bertanya lagi, Apa warnanya ?. Orang laki-laki itu menjawab, Merah. Nabi SAW bertanya lagi, Apakah ada diantaranya yang berwarna abu-abu ?. Orang laki-laki itu menjawab,Ya, ada. Nabi SAW bertanya lagi, Bagaimana bisa begitu ?. Orang laki-laki itu menjawab, Barangkali karena pengaruh keturunan. Nabi SAW bersabda, Maka, barangkali anak laki-lakimu ini juga karena pengaruh keturunan. [HR. Bukhari juz 6, hal. 178]

عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ اِلَى النَّبِيّ ص مِنْ بَنِي فَزَارَةَ فَقَالَ: اِنَّ امْرَأَتِي جَاءَتْ بِوَلَدٍ اَسْوَدَ. فَقَالَ: هَلْ لَكَ مِنْ اِبِلٍ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: مَا اَلْوَانُهَا؟ قَالَ: حُمْرٌ. قَالَ: فَهَلْ فِيْهَا مِنْ اَوْرَقَ؟ قَالَ: اِنَّ فِيْهَا لَوُرْقًا. قَالَ: فَاَنَّى تُرَاهُ؟ قَالَ: عَسَى اَنْ يَّكُوْنَ نَزَعَهُ عِرْقٌ. قَالَ: وَ هذَا عَسى اَنْ يَكُوْنَ نَزَعَهُ عِرْقٌ. ابو داود 2: 278، رقم: 2260
Dari Abu Hurairah, ia berkata, Datang seorang laki-laki dari bani Fazarah kepada Nabi SAW, lalu berkata, Sesungguhnya istriku melahirkan anak yang berkulit hitam. Nabi SAW bertanya, Apakah kamu mempunyai unta ?. Orang laki-laki itu menjawab, Ya. Nabi SAW bertanya lagi, Apa warnanya?. Orang laki-laki itu menjawab, Merah. Nabi SAW bertanya lagi, Apakah diantara anaknya ada yang berwarna abu-abu ?. Orang laki-laki itu menjawab, Ya, betul, sesungguhnya diantaranya ada yang berwarna abu-abu. Nabi SAW bertanya lagi, Bagaimana pendapatmu yang demikian itu ?. Orang laki-laki itu menjawab, Barangkali karena pengaruh keturunan. Nabi SAW bersabda, Anakmu ini barangkali (juga) karena pengaruh keturunan. [HR. Abu Dawud juz 2, hal. 278, no. 2260]

Anak adalah haknya yang punya tempat tidur


عَنْ عَائِشَةَ اَنَّهَا قَالَتْ اِخْتَصَمَ سَعْدُ بْنُ اَبِي وَقَّاصٍ وَ عَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ فِي غُلاَمٍ. فَقَالَ سَعْدٌ: هذَا يَا رَسُوْلَ اللهِ اِبْنُ اَخِي عُتْبَةَ بْنِ اَبِي وَقَّاصٍ عَهِدَ اِلَيَّ اَنَّهُ اِبْنُهُ، اُنْظُرْ اِلَى شَبَهِهِ، وَقَالَ عَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ هذَا اَخِي يَا رَسُوْلَ اللهِ وُلِدَ عَلَى فِرَاشِ اَبِي مِنْ وَلِيْدَتِهِ، فَنَظَرَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِلى شَبَهِهِ فَرَاَى شَبَهًا بَيّنًا بِعُتْبَةَ فَقَالَ: هُوَ لَكَ يَا عَبْدُ، اَلْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَ لِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ وَاحْتَجِبِيْ مِنْهُ يَا سَوْدَةُ بِنْتَ زَمْعَةَ. قَالَتْ فَلَمْ يَرَ سَوْدَةَ قَطُّ. مسلم 2: 1080
Dari Aisyah, bahwasanya ia berkata, Saad bin Abi Waqqash berselisih dengan Abd bin Zamah tentang anak laki-laki. Saad (bin Abi Waqqash) berkata, Anak laki-laki ini ya Rasulullah, adalah anak saudaraku yang bernama Utbah bin Abi Waqqash. Ia pernah berkata kepadaku bahwa anak laki-laki ini adalah anaknya. Perhatikanlah kemiripannya. Dan Abd bin Zamah berkata, Anak laki-laki ini adalah saudaraku, ya Rasulullah. Ia dilahirkan di tempat tidur ayahku, lahir dari hamba perempuannya. Lalu Rasulullah SAW memperhatikan pada kemiripannya, maka beliau melihat kemiripan yang jelas pada anak itu dengan Utbah. Lalu Nabi SAW bersabda, Anak laki-laki itu untukmu ya Abd. Anak itu untuk yang punya tempat tidur, sedangkan untuk orang yang berzina adalah batu. Ya Saudah binti Zamah, berhijablah kamu dari anak itu (karena mirip dengan Utbah)Aisyah berkata, Maka anak laki-laki tersebut sama sekali tidak pernah melihat Saudah. [HR. Muslim juz 2, hal. 1080]

عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ اْلحَجَرُ. مسلم 2: 1081
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, Anak adalah bagi yang punya tempat tidur, sedangkan bagi orang yang berzina adalah batu. [HR. Muslim juz 2, hal. 1081]

Mengenali Nasab dengan memeriksa telapak kaki


عَنْ عَائِشَةَ اَنَّهَا قَالَتْ: اِنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص دَخَلَ عَلَيَّ مَسْرُوْرًا تَبْرُقُ اَسَارِيْرُ وَجْهِهِ فَقَالَ: اَلَمْ تَرَيْ اَنَّ مُجَزّزًا نَظَرَ انِفًا اِلَى زَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ وَ اُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ فَقَالَ: اِنَّ بَعْضَ هذِهِ اْلاَقْدَامِ لَمِنْ بَعْضٍ. مسلم 2: 1081
Dari Aisyah, ia berkata, Sesungguhnya Rasulullah SAW masuk kepada saya dengan gembira dan wajahnya berseri-seri, lalu beliau bersabda,Apakah kamu tidak memperhatikan bahwa Mujazziz tadi melihat (telapak kaki) Zaid bin Haritsah dan (telapak kaki) Usamah bin Zaid, lalu ia berkata,Sesungguhnya telapak-telapak kaki ini sebagiannya sungguh dari sebagiannya. [HR. Muslim juz 2, hal. 1081]

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ ص ذَاتَ يَوْمٍ مَسْرُوْرًا فَقَالَ: يَا عَائِشَةُ اَلَمْ تَرَيْ اَنَّ مُجَزّزًا اْلمُدْلِجِيَّ دَخَلَ عَلَيَّ فَرَأَى اُسَامَةَ وَ زَيْدًا وَ عَلَيْهِمَا قَطِيفَةٌ قَدْ غَطَّيَا رُءُوْسَهُمَا وَ بَدَتْ اَقْدَامُهُمَا فَقَالَ: اِنَّ هذِهِ اْلاَقْدَامَ بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ. مسلم 2: 1082
Dari Aisyah, ia berkata : Pada suatu hari Rasulullah SAW masuk kepada saya dengan gembira, lalu beliau bersabda, Ya Aisyah, apakah kamu tidak memperhatikan bahwasanya Mujazziz Al-Mudlijiy datang kepadaku, lalu ia melihat Usamah dan Zaid sedang tidur dengan berselimut dan menutup kepala mereka, sedangkan telapak-telapak kaki mereka tampak, lalu Mujazziz berkata, Sesungguhnya telapak-telapak kaki ini sebagiannya dari sebagiannya. [HR. Muslim juz 2, hal. 1082]

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ دَخَلَ قَائِفٌ وَرَسُوْلُ اللهِ ص شَاهِدٌ وَ اُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ وَ زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ مُضْطَجِعَانِ. فَقَالَ: اِنَّ هذِهِ اْلاَقْدَامَ بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ فَسُرَّ بِذلِكَ النَّبِيُّ ص وَ اَعْجَبَهُ وَ اَخْبَرَ بِهِ عَائِشَةَ. مسلم 2: 1082
Dari Aisyah, ia berkata : Datang seorang yang ahli memeriksa telapak kaki, sedangkan Rasulullah SAW menyaksikan. Pada waktu itu Usamah bin Zaid dan Zaid bin Haritsah sedang tidur, lalu orang yang ahli memeriksa telapak kaki itu berkata, Sesungguhnya telapak-telapak kaki ini sebagiannya dari sebagiannya. Maka Nabi SAW gembira dengan pernyataan itu dan menyenangkan kepada beliau, lalu beliau memberitahukannya kepadaAisyah. [HR. Muslim juz 2, hal. 1082]
Keterangan :
1.  Zaid bin Haritsah adalah anak angkat dan kesayangan Nabi SAW, ia berkulit putih, sedangkan anaknya bernama Usamah bin Zaid berkulit hitam. Sebetulnya hal ini bisa dimalumi, karena ibunya Usamah, yaitu Ummu Aiman berkulit hitam. Namun hal tersebut menjadi pembicaraan di kalangan orang-orang Quraisy. Betulkah Usamah itu anaknya Zaid ?. Maka hal itu menyusahkan hati Nabi SAW.
2.  Pada suatu hari datanglah Mujazziz Al-Mudlijiy, seorang ahli Qiyafah (pemeriksa tanda-tanda pada manusia) di masjid Nabi SAW. Pada waktu itu Zaid bin Haritsah dan Usamah bin Zaid sedang tidur berselimut, tetapi kaki mereka terbuka. Setelah Mujazziz Al-Mudlijiy melihat telapak kaki mereka, ia berkata, Telapak-telapak kaki ini sebagiannya dari sebagian yang lain (yang sebagian menyerupai sebagian).
3.  Pernyataan Mujazziz itu mengembirakan hati Nabi SAW, karena dengan pernyataan itu akan hilanglah keragu-raguan yang disebabkan perkataan kaum Quraisy itu dari hati orang-orang, karena kaum Quraisy pun percaya kepada Mujazziz.

Menasabkan anak kepada ibunya, karena orang tuanya bersumpah lian

عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ النَّبِيَّ ص لاَعَنَ بَيْنَ رَجُلٍ وَ امْرَأَتِهِ فَانْتَفَى مِنْ وَلَدِهَا فَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا وَاَلْحَقَ الْوَلَدَ بِالْمَرْأَةِ.البخارى 6: 181
Dari Ibnu Umar, bahwasanya Nabi SAW menyumpah lian antara seorang laki-laki dan istrinya, menafikan anak yang dilahirkannya (tidak dinasabkan kepada suami wanita tersebut), beliau memisahkan antara suami-istri tersebut, dan menghubungkan anak yang dilahirkannya kepada ibunya. [HR. Bukhari juz 6, hal. 181]

عَنْ يَحْيَى ابْنِ يَحْيَى قَالَ: قُلْتُ لِمَالِكٍ حَدَّثَكَ نَافِعٌ عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ رَجُلاً لاَعَنَ امْرَأَتَهُ عَلَى عَهْدِ رَسُوْل اللهِ ص، فَفَرَّقَ رَسُوْلُ اللهِ ص بَيْنَهُمَا وَ اَلْحَقَ اْلوَلَدَ بِاُمّهِ؟ قَالَ: نَعَمْ. مسلم 2: 1132
Dari Yahya bin Yahya, ia berkata : Aku bertanya kepada Malik, “Apakah Nafi’ menceritakan kepadamu dari Ibnu Umar, bahwasanya di zaman Rasulullah SAW ada seorang laki-laki yang menuduh istrinya berzina lalu melakukan li’an, kemudian Rasulullah SAW memisahkan antara keduanya dan menghubungkan anak yang dilahirkannya kepada ibunya ?”. Ia menjawab, “Ya.. [HR. Muslim 2, hal. 1132].

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ اَبِيْهِ عَنْ جَدّهِ قَالَ: قَضَى رَسُوْلُ اللهِ ص فِى وَلَدِ اْلمُتَلاَعِنَيْنِ اَنَّهُ يَرِثُ اُمَّهُ وَ تَرِثُهُ اُمُّهُ وَ مَنْ قَفَاهَا بِهِ جُلِدَ ثَمَانِينَ وَمَنْ دَعَاهُ وَلَدَ زِنًا جُلِدَ ثَمَانِينَ. احمد 2: 676، رقم: 7049
Dari ‘Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah menetapkan anak (yang lahir) dari suami istri yang melakukan lian, bahwa anak tersebut berhak mewarisi (harta) ibunya dan diwarisi oleh ibunya. Dan barangsiapa menuduh wanita tersebut berbuat zina, maka ia didera delapan puluh kali. Dan barangsiapa yang mendakwa anak itu sebagai anak zina, iapun didera delapan puluh kali. [HR. Ahmad juz 2, hal. 676, no. 7049].


~oO[ A ]Oo~

 Brosur MTA