Anjuran menyebar luaskan ilmu

Menyebar-luaskan ilmu dan larangan menyembunyikannya.

Firman Allah SWT :

وَ اَنْزَلْنَا اِلَيْكَ الذّكْرَ لِتُبَيّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزّلَ اِلَيْهِمْ وَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ. النحل:44
Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur'an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkannya. [QS. An-Nahl : 44]

ياَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلّغْ مَا اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبّكَ، وَ اِنْ لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسلَتَه، وَ اللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ، اِنَّ اللهَ لاَ يَهْدِى اْلقَوْمَ اْلكفِرِيْنَ. المائدة:67
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. [QS. Al-Maidah : 67]

اُدْعُ اِلى سَبِيْلِ رَبّكَ بِاْلحِكْمَةِ وَ اْلمَوْعِظَةِ اْلحَسَنَةِ وَ جَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ، اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِه وَ هُوَ اَعْلَمُ بِاْلمُهْتَدِيْنَ. النحل:125
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. [QS. An-Nahl : 125]

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى اْلاُمّيّنَ رَسُوْلاً مّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ ايتِه وَ يُزَكّيْهِمْ وَيُعَلّمُهُمُ اْلكِتبَ وَ اْلحِكْمَةَ وَ اِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَللٍ مُّبِيْنٍ. وَ اخَرِيْنَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوْا بِهِمْ، وَ هُوَ اْلعَزِيْزُ اْلحَكِيْمُ. الجمعة:2-3
Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [QS. Al-Jumu'ah : 2-3]

اِنَّآ اَرْسَلْنكَ بِاْلحَقّ بَشِيْرًا وَّ نَذِيْرًا وَّلاَ تُسْئَلُ عَنْ اَصْحبِ اْلجَحِيْمِ. البقرة:119
Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka. [QS. Al-Baqarah : 119]

اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْتُمُوْنَ مَآ اَنْزَلْنَا مِنَ اْلبَيّنتِ وَ اْلهُدى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنّهُ لِلنَّاسِ فِى اْلكِتبِ اُولئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللهُ وَ يَلْعَنُهُمُ اللّعِنُوْنَ. اِلاَّ الَّذِيْنَ تَابُوْا وَ اَصْلَحُوْا وَ بَيَّنُوْا فَاُولئِكَ اَتُوْبُ عَلَيْهِمْ، وَ اَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. البقرة:159-160
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Aku-lah Yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. [QS. Al-Baqarah : 159 - 160]

اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْتُمُوْنَ مَآ اَنْزَلَ اللهُ مِنَ اْلكِتبِ وَيَشْتَرُوْنَ بِه ثَمَنًا قَلِيْلاً اُولئِكَ مَا يَأْكُلُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهِمْ اِلاَّ النَّارَ وَلاَ يُكَلّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ اْلقِيمَةِ وَلاَ يُزَكّيْهِمْ ، وَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ. البقرة:174
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka siksa yang amat pedih. [QS. Al-Baqarah : 174]

Hadits-hadits Nabi SAW :
عَنْ عُثْمَانَ رض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَ عَلَّمَهُ. البخارى 6: 108
Dari Utsman (bin Affan) RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya". [HR. Bukhari juz 6, hal. 108]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: بَلّغُوْا عَنّيْ وَلَوْ آيَةً. البخارى 4: 145
Dari Abdullah bin 'Amr, bahwasanya Nabi SAW bersabda, "Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat". [HR. Bukhari juz 4, hal. 145]

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رض قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: نَضَّرَ اللهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ فَرُبَّ مُبَلَّغٍ اَوْعَى مِنْ سَامِعٍ. الترمذى 4: 142، رقم: 2795، و قال: حديث حسن صحيح
Dari Ibnu Mas'ud RA, ia berkata : Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Semoga Allah memberi kebaikan kepada orang yang mendengar sesuatu dariku lalu menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya, karena kadangkala orang yang diberi penyampaian itu lebih bisa memahami daripada orang yang mendengar langsung". [HR. Tirmidzi juz 4, hal. 142, no. 2795, ia berkata : "Ini hadits Hasan Shahih"]

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: فَوَ اللهِ َلأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ اَنْ يَكُوْنَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ. البخارى 4: 207، مسلم 4: 1872
Dari Sahl bin Sa'ad bahwasanya Rasulullah SAW bersabda (kepada Ali RA), "Demi Allah, sungguh Allah memberi petunjuk kepada satu orang lantaran kamu, itu lebih baik bagimu dari pada kamu mendapatkan onta merah". [HR. Bukhari juz 4, hal. 207; Muslim juz 4, hal. 1872]

عَنْ اَبِى مَسْعُوْدٍ اْلاَنْصَارِيّ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ اِلىَ النَّبِيّ ص فَقَالَ: اِنّى اُبْدِعَ بِى فَاحْمِلْنِى. فَقَالَ: مَا عِنْدِى. فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَنَا اَدُلُّهُ عَلَى مَنْ يَحْمِلُهُ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ اَجْرِ فَاعِلِهِ. مسلم 3: 1506
Dari Abu Masud Al-Anshariy, ia berkata : Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW, lalu ia berkata, Sesungguhnya kendaraan saya binasa, maka bawalah saya naik kendaraan. Beliau bersabda, Aku tidak punya. Lalu ada seorang laki-laki berkata, Ya Rasulullah, sesungguhnya saya bisa menunjukkan kepada orang yang bisa membawanya. Maka Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, ia akan mendapatkan (pahala) seperti orang yang mengerjakannya". [HR. Muslim juz 3, hal 1506]

عَنْ اَبِى مَسْعُوْدٍ قَالَ: اَتَى رَجُلٌ النَّبِيَّ ص فَسَأَلَهُ فَقَالَ: مَا عِنْدِى مَا اُعْطِيْكَ، وَلكِنْ اِئْتِ فُلاَنًا، قَالَ: فَاَتَى الرَّجُلَ فَأَعْطَاهُ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ اَجْرِ فَاعِلِهِ، اَوْ عَامِلِهِ. ابن حبان فى صحيحه 1: 525، رقم: 289
Dari Abu Mas'ud, ia berkata : Pernah seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW lalu minta kepada beliau. (Nabi SAW) menjawab : "Saya tidak mempunyai sesuatu yang bisa saya berikan kepadamu, tetapi datanglah kamu kepada si fulan". (Abu Masud) berkata, Lalu orang tersebut datang kepada orang (yang ditunjuk oleh Nabi tersebut), lalu orang itu memberinya. Maka Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia mendapatkan (pahala) seperti orang yang mengerjakannya, atau orang yang melakukannya". [HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya juz 1, hal. 525, no. 289]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ  اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ دَعَا اِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلاَجْرِ مِثْلُ اُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ اُجُوْرِهِمْ شَيْئًا. وَمَنْ دَعَا اِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلاِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ آثاَمِهِمْ شَيْئًا. مسلم 4: 2060
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : "Barangsiapa yang mengajak orang kepada suatu petunjuk (jalan yang baik), maka dia mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang mengikutinya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa seperti dosa-dosanya orang yang mengikutinya, dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun". [HR. Muslim juz 4, hal. 2060]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ عَلِمَهُ فَكَتَمَهُ اُلْجِمَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ. الترمذى وحسنه 4: 138، رقم: 2787
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu yang ia ketahui, lalu dia menyembunyikannya, maka pada hari qiyamat ia akan dikendali dengan kendali api neraka". [HR. Tirmidzi, dan ia menghasankannya, juz 4, hal. 138, no. 2787]

عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ الْخُدْرِيّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ كَتَمَ  عِلْمًا مِمَّا يَنْفَعُ اللهُ بِهِ فِى اَمْرِ النَّاسِ اَمْرِ الدّيْنِ اَلْجَمَهُ اللهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنَ النَّارِ. ابن ماجه 1: 97، رقم: 265
Dari Abu Sa'id Al-Khudriy, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Barangsiapa yang menyembunyikan ilmu yang dengan ilmu itu Allah memberi manfaat kepada manusia didalam urusan agama, maka pada hari qiyamat Allah akan mengendalinya dengan kendali api neraka". [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 97, no. 265, dlaif karena di dalam sanadnya ada rawi bernama Muhammad bin Daabin]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: اِنَّ النَّاسَ يَقُوْلُوْنَ: اَكْثَرَ اَبُوْ هُرَيْرَةَ. وَلَوْلاَ آيَتَانِ فِى كِتَابِ اللهِ مَا حَدَّثْتُ حَدِيثًا ثُمَّ يَتْلُوْ اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْتُمُوْنَ مَآ اَنْزَلْنَا مِنَ اْلبَيّنتِ وَ اْلهُدى اِلَى قَوْلِهِ الرَّحِيْمُ. البخارى 1: 37
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Sesungguhnya orang-orang sama mengatakan : "Abu Hurairah sangat banyak meriwayatkan hadits". Seandainya bukan karena dua ayat di dalam Kitab Allah ini, saya tidak akan meriwayatkan walau sebuah haditspun. Kemudian dia membaca ayat "Innalladziina yaktumuuna maa anzalnaa minal bayyinaati wal hudaa... sampai firman-Nya arrohiim". (Al-Baqarah 159-160). [HR. Bukhari juz 1, hal. 37]

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ حَسَدَ اِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ. رَجُلٌ آتاَهُ اللهُ مَالاً فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى اْلحَقّ. وَ رَجُلٌ آتاَهُ اللهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِى بِهَا وَ يُعَلّمُهَا. مسلم 1: 559
Dari Ibnu Mas'ud, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Tidak pantas berkeinginan melainkan pada dua macam, yaitu orang yang dikaruniai harta oleh Allah lalu dipergunakannya dalam kebenaran, dan orang yang dikaruniai hikmah (ilmu) lalu ia mengamalkannya dan mengajarkannya. HR. Muslim juz 1, hal. 559]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ اْلعَاصِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: اِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ اْلعِلْمَ اِنْتِزَاعًايَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّـاسِ، وَلكِنْ يَقْبِضُ اْلعِلْمَ بِقَبْضِ اْلعُلَمَاءِ حَتَّى اِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اِتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوْسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْا وَ اَضَلُّوْا. البخارى 1: 33، مسلم 4: 2058، و اللفظ له
Dari Abdullah bin Amr bin Al-'Ash, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu langsung dari orang-orang, tetapi Allah akan mencabut ilmu dengan meninggalnya para ulama, sehingga apabila telah habis orang-orang yang alim, orang-orang akan mengangkat orang-orang yang bodoh menjadi pemimpin mereka. Kemudian apabila mereka ditanya sesuatu akan memberikan fatwanya tidak berdasarkan ilmu, maka mereka itu sesat dan menyesatkan". [HR. Bukhari juz 1, hal. 33; Muslim juz 4, hal. 2058, lafadh ini bagi Muslim]

MTA No. : 1411/1451/IA
~oO[ @ ]Oo~

Larangan mencari rezqi yang tidak baik.

Mencari Rezqi yang Halal.
Firman Allah SWT :
ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا لاَ تَأْكُلُوْآ اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِاْلبَاطِلِ اِلآَّ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مّنْكُمْ، وَ لاَ تَقْتُلُوْآ اَنْفُسَكُمْ، اِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا. وَ مَنْ يَّفْعَلْ ذلِكَ عُدْوَانًا وَّ ظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيْهِ نَارًا، وَ كَانَ ذلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرًا. اِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبئِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفّرْ عَنْكُمْ سَيّاتِكُمْ وَ نُدْخِلْكُمْ مُدْخَلاً كَرِيْمًا. النساء:29-31
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (29) Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (30) Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosa yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (31) [QS. An-Nisaa’ : 29-31]

وَ اَوْفُوا اْلكَيْلَ اِذَا كِلْتُمْ وَ زِنُوْا بِاْلقِسْطَاسِ اْلمُسْتَقِيْمِ، ذلِكَ خَيْرٌ وَّ اَحْسَنُ تَأْوِيْلاً. الاسراء:35
Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [QS. Al-Israa’ : 35]

اَوْفُوا اْلكَيْلَ وَ لاَ تَكُوْنُوْا مِنَ اْلمُخْسِرِيْنَ. وَزِنُوْا بِاْلقِسْطَاسِ اْلمُسْتَقِيْمِ. وَ لاَ تَبْخَسُوا النَّاسَ اَشْيَآءَهُمْ وَ لاَ تَعْثَوْا فِى اْلاَرْضِ مُفْسِدِيْنَ. الشعراء:181-183
Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan, (181) dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. (182) Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan. [QS. Asy-Syu’araa’ : 181-183]

وَيْلٌ لّلْمُطَفّفِيْنَ. الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَ. وَ اِذَا كَالُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَ. اَلاَ يَظُنُّ اُولئِكَ اَنَّهُمْ مَبْعُوْثُوْنَ. لِيَوْمٍ عَظِيْمٍ. يَوْمَ يَقُوْمُ النَّاسُ لِرَبّ اْلعلَمِيْنَ. المطففين:1-6
Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (1) (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, (2) dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. (3) Tidakkah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, (4) pada suatu hari yang besar, (5) (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam ? (6) [QS. Al-Muthaffifiin : 1-6]

ياَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى اْلاَرْضِ حَللاً طَيّبًا وَّ لاَ تَتَّبِعُوْا خُطُوتِ الشَّيْطنِ، اِنَّه لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ. البقرة:168
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan, karena sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu. [QS. Al-Baqarah : 168]

Hadits Nabi SAW :

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ ص عَنْ اَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ اْلجَنَّةَ. قَالَ: تَقْوَى اللهِ وَ حُسْنُ اْلخُلُقِ. وَ سُئِلَ عَنْ اَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ. قاَلَ: اَلْفَمُ وَ اْلفَرْجُ. الترمذى 3: 245، رقم 2072، و قال هذا حديث صحيح غريب
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga. Beliau SAW menjawab, “Taqwa kepada Allah dan akhlaq yang baik”, Dan beliau ditanya tentang sesuatu yang paling banyak menyebabkan manusia masuk neraka. Beliau menjawab, “(Sesuatu yang paling banyak menyebabkan manusia masuk neraka) adalah mulut dan kemaluan”. [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 245, no. 2072, dan ia berkata : Ini hadits shahih, gharib]

عَنْ اَبِى بَرْزَةَ اْلاَسْلَمِيّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا اَفْنَاهُ، وَ عَنْ عِلْمِهِ فِيْمَا فَعَلَ، وَ عَنْ مَالِهِ مِنْ اَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَ فِيْمَا اَنْفَقَهُ، وَ عَنْ جِسْمِهِ فِيْمَا اَبْلاَهُ. الترمذى 4: 36، رقم: 2532، و قال هذا حديث حسن صحيح
Dari Abu Barzah Al-Aslamiy, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan bergerak kedua tapak kaki seorang hamba (pada hari qiyamat) sehingga ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang ilmunya untuk apa dia gunakan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan untuk apa dia membelanjakannya, dan tentang badannya untuk apa dia memanfaatkannya”. [HR. Tirmidzi 4, hal. 36, no. 2532, dan ia berkata : Ini hadits hasan shahih]

عَنْ اَبِى سَعِيْدِ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: التَّاجِرُ الصَّدُوْقُ اْلأَمِيْنُ مَعَ النَّبِيّيْنَ وَ الصّدّيْقِيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ. الترمذى 2: 341، رقم: 1227، و قال هذا حديث حسن
Dari Abu Sa’id (Al-Khudriy RA), dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Pedagang yang jujur lagi menjaga amanat akan bersama Nabi-nabi, orang-orang yang jujur dan orang-orang yang mati syahid”. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 341, no. 1227, dan ia berkata, “Ini hadits hasan”]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: التَّاجِرُ اْلأَمِيْنُ الصَّدُوْقُ اْلمُسْلِمُ مَعَ الشُّهَدَاءِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ. ابن ماجه 2: 724، رقم: 2139
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Pedagang yang menjaga amanat, yang jujur lagi Islam bersama orang-orang yang mati syahid pada hari qiyamat”. [HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 724, no. 2139, dla’if, karena dalam sanadnya ada perawi bernama Kultsum bin Jausyan Al-Qusyairiy]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى اْلمَرْءُ مَا اَخَذَ مِنْهُ اَ مِنَ اْلحَلاَلِ اَمْ مِنَ اْلحَرَامِ. البخارى 3: 6
Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Akan datang suatu masa, ketika itu orang tidak lagi mempedulikan apa-apa yang dia dapatkan, apakah termasuk yang halal atau yang haram”. [HR. Bukhari juz 3, hal. 6]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَاَدْخَلَ يَدَهُ فِيْهَا فَنَالَتْ اَصَابِعُهُ بَلَلاً، فَقَالَ: مَا هذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ؟ قَالَ: اَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: اَفَلاَ جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ، مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنّى. مسلم 1: 99
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW pernah lewat pada segundukan bahan makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalam gundukan bahan makanan itu sehingga jari-jari beliau mendapati sesuatu yang basah. Rasulullah SAW bertanya, “Apa ini hai penjual bahan makanan ?”. Penjual itu menjawab, “Ya Rasulullah, itu karena hujan”. Beliau bersabda, “Mengapa tidak kamu letakkan di bagian atas agar orang-orang (pembeli) mengetahuinya ? Barangsiapa yang menipu, maka bukan golonganku”. [HR. Muslim juz 1, hal. 99]
عَنِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: مَرَّ رَسُوْلُ اللهِ ص بِطَعَامٍ، وَ قَدْ حَسَّنَهُ صَاحِبُهُ، فَاَدْخَلَ يَدَهُ فِيْهِ، فَاِذَا طَعَامٌ رَدِيْءٌ، فَقَالَ: بِعْ هذَا عَلَى حِدَةٍ وَ هذَا عَلَى حِدَةٍ، فَمَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا. احمد 2: 309، رقم: 5113
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Rasulullah SAW pernah lewat pada orang yang menjual bahan makanan yang penjualnya itu memuji-muji dagangannya. Kemudian beliau menusukkan tangan beliau ke dalam dagangan itu, dan ternyata bahan makanan itu buruk, maka beliau bersabda, “Juallah ini (yang baik) tersendiri, dan juallah ini (yang buruk) tersendiri. Barangsiapa yang menipu kami, bukanlah dari golongan kami”. [HR. Ahmad juz 2, hal. 309, no. 5113, dla’if, karena dalam sanadnya ada perawi bernama Abu Ma’syar Najih bin ‘Abdur Rahman]

عَنْ قَيْسِ بْنِ اَبِى غَرَزَةَ رض قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ ص بِرَجُلٍ يَبِيْعُ طَعَامًا، فَقَالَ: يَا صَاحِبَ هذَا الطَّعَامِ اَسْفَلُ هذَا مِثْلُ اَعْلاَهُ؟ فَقَالَ: نَعَمْ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ غَشَّ اْلمُسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ. الطبرانى فى الكبير 18: 359، رقم: 921، و رواته ثقات
Dari Qais bin Abi Gharazah RA, ia berkata : Rasulullah SAW pernah melewati seorang laki-laki yang sedang menjual (bahan) makanan, lalu beliau bertanya, “Hai penjual makanan ini apakah yang di bagian bawah ini sama dengan yang di bagian atasnya ?”. Penjual itu menjawab, “Betul, (ya Rasulullah)”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menipu kaum muslimin, maka bukan dari mereka”. [HR. Thabrani di dalam Al-Kabir dan perawi-perawinya kuat]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَيُّهَا النَّاسُ، اِنَّ اللهَ طَيّبٌ لاَ يَقْبَلُ اِلاَّ طَيّبًا، وَ اِنَّ اللهَ اَمَرَ اْلمُؤْمِنِيْنَ بِمَا اَمَرَ بِهِ اْلمُرْسَلِيْنَ، فَقَالَ: يَا اَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيّبَاتِ وَ اعْمَلُوْا صَالِحًا، اِنّيْ بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ. وَ قَالَ: يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ. ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ اَشْعَثَ اَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ اِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبّ، يَا رَبّ، وَ مَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَ مَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَ مَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَ غُذِيَ بِاْلحَرَامِ، فَاَنَّى يُسْتَجَابُ لِذلِكَ؟ مسلم 2: 703
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Hai para manusia, sesungguhnya Allah itu Baik (Suci). Tidak mau menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin sebagaimana apa yang Dia perintahkan kepada para Rasul. Allah berfirman, “Hai para Rasul, makanlah dari yang baik-baik (yang halal) dan beramal shalih lah kalian. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui terhadap apa-apa yang kalian kerjakan”. [Al-Mukminuun : 51]. Dan Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari yang baik-baik apa yang Kami rezqikan kepada kalian”. [Al-Baqarah : 172] Kemudian (Rasulullah SAW) menyebutkan tentang seorang laki-laki yang sering bepergian jauh, rambutnya acak-acakan lagi berdebu. Dia berdoa dengan mengangkat kedua tangannya ke langit, “Ya Tuhanku, Ya Tuhanku”. Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dia dikenyangkan dengan barang yang haram. Maka bagaimana mungkin dia dikabulkan doanya ?”. [HR. Muslim 2 : 703]

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: طَلَبُ اْلحَلاَلِ وَاجِبٌ عَلَى كُلّ مُسْلِمٍ. الطبرانى فى الاوسط
Dari Anas bin Maalik dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Mencari yang halal adalah wajib atas setiap orang Islam”. [HR. Thabrani di dalam Al-Ausath]
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: اَرْبَعٌ اِذَا كُنَّ فِيْكَ فَلاَ عَلَيْكَ مَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا: حِفْظُ اَمَانَةٍ، وَ صِدْقُ حَدِيْثٍ، وَ حُسْنُ خَلِيْقَةٍ، وَ عِفَّةٌ فِى طُعْمَةٍ. احمد 2: 591، رقم: 6664
Dari ‘Abdullah bin Amr, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Ada empat hal, apabila empat hal itu ada padamu, maka tidak mengapa (tidak membahayakan) apa yang terlepas darimu berupa keduniaan. 1. menjaga amanat, 2. jujur dalam berbicara, 3. baik akhlaqnya, dan 4. menjaga pada makanannya”. [HR. Ahmad juz 2, hal. 591, no. 6664]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: مَنِ اشْتَرَى ثَوْبًا بِعَشْرَةِ دَرَاهِمَ، وَ فِيْهِ دِرْهَمٌ حَرَامٌ لَمْ يَقْبَلِ اللهُ لَهُ صَلاَةً مَا دَامَ عَلَيْهِ، قَالَ: ثُمَّ اَدْخَلَ اُصْبٌعَيْهِ فِى اُذُنَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: صُمَّتَا اِنْ لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ص سَمِعْتُهُ يَقُوْلُهُ. احمد 2: 416، 5736
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Barangsiapa yang membeli pakaian seharga sepuluh dirham sedangkan yang satu dirham dari uang yang haram, maka Allah tidak mau menerima shalatnya selama dia memakainya”. Rawi berkata : Kemudian Ibnu ‘Umar memasukkan dua jarinya ke dalam dua telinganya dan berkata, “Semoga dua telinga saya ditulikan jika Nabi SAW tidak menyabdakan sebagaimana yang aku dengar”. [HR. Ahmad juz 2, hal. 416, no. 5736, dla’if, karena dalam sanadnya ada perawi bernama Hasyim, dia majhul]

عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ قَالَ: قَالَ النَّبِيَّ ص: يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ اِنَّهُ لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ لَحْمٌ وَ دَمٌ نَبَتَا عَلَى سُحْتٍ، اَلنَّارُ اَوْلَى بِهِ. يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ، اَلنَّاسُ غَادِيَانِ. فَغَادٍ فِى فِكَاكِ نَفْسِهِ فَمُعْتِقُهَا، وَ غَادٍ مُوْبِقُهَا. يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ، اَلصَّلاَةُ قُرْبَانٌ وَ الصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَ الصَّوْمُ جُنَّةٌ، وَ الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ اْلخَطِيْئَةَ كَمَا يَذْهَبُ اْلجَلِيْدُ عَلَى الصَّفَا. ابن حبان 12: 378، 5567
Dari Ka’ab bin ‘Ujrah, dia berkata : Nabi SAW bersabda, “Hai Ka’ab bin 'Ujrah, sesungguhnya tidak akan masuk surga daging dan darah yang tumbuh dari barang yang haram, neraka lebih pantas baginya. Hai Ka’ab bin ‘Ujrah, manusia itu memasuki waktu pagi ada dua macam : pertama, orang yang mampu menahan nafsunya, maka dia membebaskannya (dari neraka). Kedua, orang yang membinasakan dirinya. Hai Ka’ab bin ‘Ujrah, shalat itu pendekatan diri (kepada Allah), shadaqah itu tanda bukti keimanan, dan puasa itu perisai. Shadaqah bisa menghapus kesalahan sebagaimana meluncurnya hujan es di atas batu licin”. [HR. Ibnu Hibban juz 12, hal. 378, no. 5567]

عَنْ اَبِى بَكْرٍ الصّدّيْقِ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ جَسَدٌ غُذّيَ بِحَرَامٍ. ابو يعلى الموصلى 1: 57، رقم: 78
Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga jasad yang diberi makan dengan barang yang haram”. [HR. Abu Ya’la Al-Maushiliy juz 1, hal. 57, no. 78]

~ooo~
Brosur MTA No. : 1419/1459/IA

Bagaimana Islam menanggapi tentang musik dan nyayian

TENTANG MUSIK DAN NYANYIAN

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص مَرَّ بِبَعْضِ اْلمَدِيْنَةِ فَاِذَا هُوَ بِجَوَارٍ يَضْرِبْنَ بِدُفّهِنَّ وَ يَتَغَنَّيْنَ وَ يَقُلْنَ: نَحْنُ جَوَارٍ مِنْ بَنِى النَّجَّارِ، يَا حَبَّذَا مُحَمَّدٌ مِنْ جَارٍ. فَقَالَ النَّبِيُّ ص: اَللهُ يَعْلَمُ اَنّى َلاُحِبُّكُنَّ. ابن ماجه 1: 612، رقم: 1899
Dari Anas bin Malik, bahwasanya Nabi SAW pernah melewati bagian dari kota Madinah, tiba-tiba beliau melewati para wanita yang memukul rebana dan bernyanyi, mereka mengucapkan, Kami tetangga dari Bani Najjar. Alangkah baiknya Muhammad sebagai tetanggaku. Maka Nabi SAW bersabda, Allah mengetahui bahwa aku mencintai kalian. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 612, no. 1899]

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّهَا زَفَّتِ امْرَأَةً اِلىَ رَجُلٍ مِنَ اْلاَنْصَارِ فَقَالَ نَبِيُّ اللهِ ص: يَا عَائِشَةُ، مَا كَانَ مَعَكُمْ لَهْوٌ فَاِنَّ اْلاَنْصَارَ يُعْجِبُهُمُ اللَّهْوُ. البخارى 6: 140
Dari Aisyah bahwasanya ia mengantar (mengiring) pengantin perempuan kepada pengantin laki-laki dari kaum Anshar, lalu Nabiyyullah SAW bersabda, Hai Aisyah, apakah tidak ada hiburan pada kalian, karena sesungguhnya orang-orang Anshar itu suka hiburan. [HR. Bukhari juz 6, hal. 140]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: اَنْكَحَتْ عَائِشَةُ ذَاتَ قَرَابَةٍ لَهَا مِنَ اْلاَنْصَارِ فَجَاءَ رَسُوْلُ اللهِ ص فَقَالَ: اَهْدَيْتُمُ اْلفَتَاةَ؟ قَالُوْا: نَعَمْ. قَالَ: اَرْسَلْتُمْ مَعَهَا مَنْ يُغَنّى؟ قَالَتْ: لاَ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّ اْلاَنْصَارَ قَوْمٌ فِيْهِمْ غَزَلٌ. فَلَوْ بَعَثْتُمْ مَعَهَا مَنْ يَقُوْلُ: اَتَيْنَاكُمْ اَتَيْنَاكُمْ فَحَيَّانَا وَحَيَّاكُمْ. ابن ماجه 1: 612، رقم:
Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Dahulu Aisyah pernah menikahkan kerabatnya dari kaum Anshar, lalu Rasulullah SAW datang dan bersabda, Apakah kalian mengantarkan wanita (pengantin perempuan) ?. Mereka menjawab, Ya. Beliau SAW bertanya, Apakah kalian mengantarkannya disertai dengan orang yang akan menyanyi ?Aisyah menjawab, Tidak. Maka Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya kaum Anshar itu adalah kaum yang suka hiburan. Alangkah baiknya kalau kalian mengantar dengan disertai orang yang menyanyikan, Kami datang kepada kalian, kami datang kepada kalian, penghormatan kepada kami dan penghormatan kepada kalian. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 612, no.     ]

عَنْ اَبِى اْلحُسَيْنِ (اِسْمُهُ خَالِدٌ اْلمَدَنِيُّ) قَالَ: كُنَّا بِاْلمَدِيْنَةِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، وَ اْلجَوَارِى يَضْرِبْنَ بِالدُّفّ وَ يَتَغَنَّيْنَ، فَدَخَلْنَا عَلَى الرُّبَيّعِ بِنْتِ مُعَوّذٍ، فَذَكَرْنَا ذلِكَ لَهَا، فَقَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ ص: صَبِيْحَةَ عُرْسِي وَ عِنْدِى جَارِيَتَانِ يَتَغَنَّيَانِ وَ تَنْدُبَانِ آبَائِى الَّذِيْنَ قُتِلُوْا يَوْمَ بَدْرٍ، وَ تَقُوْلاَنِ فِيْمَا تَقُوْلاَنِ. وَ فِيْنَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِى غَدٍ. فَقَالَ: اَمَّا هذَا، فَلاَ تَقُوْلُوْهُ، مَا يَعْلَمُ مَا فِى غَدٍ اِلاَّ اللهُ. بن ماجه 1: 611، رقم: 1897
Dari Abul Husain (nama aslinya Khalid Al-Madaniy), ia berkata : Dahulu ketika kami di Madinah pada hari Aasyuuraa, pada waktu itu ada wanita-wanita sedang memukul rebana dan bernyanyi, lalu kami masuk pada Rubayyi binti Muawwidz, lalu kami ceritakan kepadanya yang demikian itu. Maka dia berkata, Dahulu Rasulullah SAW datang kepada saya pada pagi hari pernikahan saya, sedangkan di dekat saya ada dua wanita yang bernyanyi yang dalam liriknya (isinya) menyebutkan tentang kebaikan orang-orang tuaku yang gugur di perang Badr, dan diantara yang mereka nyanyikan adalah, Dan diantara kita ada seorang Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi besok pagi. Maka (Rasulullah SAW) menegur,Adapun kata-kata yang ini jangan kalian ucapkan, karena tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi besok pagi, kecuali Allah. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 611, no. 1897]

عَنْ خَالِدِ بْنِ ذَكْوَانَ قَالَ: قَالَتِ الرُّبَيّعُ بِنْتُ مُعَوّذِ بْنِ عَفْرَاءَ، جَاءَ النَّبِيُّ ص فَدَخَلَ حِيْنَ بُنِيَ عَلَيَّ فَجَلَسَ عَلَى فِرَاشِى كَمَجْلِسِكَ مِنّى فَجَعَلَتْ جُوَيْرِيَاتٌ لَنَا يَضْرِبْنَ بِالدُّفّ وَ يَنْدُبْنَ مَنْ قُتِلَ مِنْ آبَائِى يَوْمَ بَدْرٍ اِذْ قَالَتْ اِحْدَاهُنَّ وَ فِيْنَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِى غَدٍ. فَقَالَ: دَعِى هذِهِ وَ قُوْلِى بِالَّذِى كُنْتِ تَقُوْلِيْنَ. البخارى 6: 137
Dari Khalid bin Dzakwan, ia berkata : Rubayyi binti Muawwidz bin Afraa berkata : Dahulu Nabi SAW datang lalu masuk ketika diselenggarakan pernikahanku, lalu beliau duduk di atas tempat tidurku seperti dudukmu di dekatku, lalu anak-anak perempuan kami mulai menabuh rebana dan bernyanyi dengan menyanjung kepahlawanan orang-orang tuaku yang gugur pada perang Badr. Ada salah satu diantara mereka yang bernyanyi yang syairnya, Di kalangan kita ada Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi besok pagi. Lalu beliau bersabda, Tinggalkanlah ini dan ucapkanlah (nyanyikanlah) apa yang tadi kamu nyanyikan. [HR. Bukhari juz 6, hal. 137]

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ اَبُوْ بَكْرٍ وَ عِنْدِى جَارِيَتَانِ مِنْ جَوَارِى اْلاَنْصَارِ. تُغَنّيَانِ بِمَا تَقَاوَلَتْ بِهِ اْلاَنْصَارُ فِى يَوْمِ بُعَاثٍ. قَالَتْ وَ لَيْسَتَا بِمُغَنّيَتَيْنِ. فَقَالَ اَبُوْ بَكْرٍ: اَ بِمَزْمُوْرِ الشَّيْطَانِ فِى بَيْتِ النَّبِيّ ص، وَ ذلِكَ فِى يَوْمِ عِيْدِ اْلفِطْرِ. فَقَالَ النَّبِيُّ ص: يَا اَبَا بَكْرٍ اِنَّ لِكُلّ قَوْمٍ عِيْدًا وَ هذَا عِيْدُنَا. ابن ماجه 1: 612، رقم: 1898
Dari Aisyah, ia berkata Abu Bakar pernah datang kepada saya, sedangkan waktu itu ada dua wanita diantara wanita-wanita Anshar yang bernyanyi dengan syair-syair yang diucapkan orang-orang Anshar pada hari perang Buaats, Aisyah mengatakan bahwa kedua wanita tersebut pekerjaannya bukan sebagai penyanyi. Lalu Abu Bakar berkata, Apakah dengan seruling syaithan di rumah Nabi SAW ?. Dan kejadian itu pada hari raya idul fithri. Maka Nabi SAW bersabda, Hai Abu Bakar, sesungguhnya masing-masing kaum mempunyai hari raya, dan pada hari ini adalah hari raya kita. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 612, no. 1898]

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ اَبَا بَكْرٍ دَخَلَ عَلَيْهَا وَ عِنْدَهَا جَارِيَتَانِ فِى اَيَّامِ مِنًى تُدَفّفَانِ وَ تَضْرِبَانِ وَ النَّبِيُّ ص مُتَغَشّ بِثَوْبِهِ فَانْتَهَرَهُمَا اَبُوْ بَكْرٍ فَكَشَفَ النَّبِيُّ ص عَنْ وَجْهِهِ وَ قَالَ: دَعْهُمَا يَا اَبَا بَكْرٍ، فَاِنَّهَا اَيَّامُ عِيْدٍ. وَ تِلْكَ اْلاَيَّامُ اَيَّامُ مِنًى. وَ قَالَتْ عَائِشَةُ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ ص يَسْتُرُنِى وَ اَنَا اَنْظُرُ اِلىَ اْلحَبَشَةِ وَ هُمْ يَلْعَبُوْنَ فِى اْلمَسْجِدِ، فَزَجَرَهُمْ، فَقَالَ النَّبِيُّ ص دَعْهُمْ اَمْنًا بَنِى اَرْفِدَةَ يَعْنِى مِنَ اْلاَمْنِ. البخارى 2: 11
Dari Aisyah, bahwasanya pada hari Mina Abu Bakar datang kepadanya, sedangkan di dekatnya ada dua wanita yang bernyanyi dan bermain rebana, sedangkan Nabi SAW menutupi wajahnya dengan pakaiannya, lalu Abu Bakar membentak kedua wanita (yang bermain rebana tadi), maka Nabi SAW membuka wajahnya dan bersabda, Biarkan keduanya hai Abu Bakar, karena ini adalah hari raya. Dan hari itu adalah hari-hari MinaAisyah berkata, Aku melihat Nabi SAW menutupiku, sedangkan aku melihat kaum Habsyi mereka bermain di masjid. Maka (Umar) membentak mereka. Lalu Nabi SAW bersabda, Biarkanlah aman kaum Bani Arfidah, yakni dengan aman.  [HR. Bukhari juz 2, hal. 11]

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ حَاطِبٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: فَصْلُ بَيْنَ اْلحَلاَلِ وَ اْلحَرَامِ الدُّفُّ وَ الصَّوْتُ فِى النّكَاحِ. ابن ماجه 1: 611، رقم: 1896
Dari Muhammad bin Haathib, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Yang membedakan antara yang halal dan yang haram adalah rebana dan suara (nyanyian) dalam pernikahan. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 611, no. 1896]

عَنْ عَائِشَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اَعْلِنُوْا هذَا النّكَاحَ، وَ اضْرِبُوْا عَلَيْهِ بِاْلغِرْبَالِ. ابن ماجه 1: 611، رقم: 1895
Dari Aisyah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, Umumkanlah pernikahan ini, dan pukullah rebana padanya. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 611, no. 1895, dlaif karena di dalam sanadnya ada perawi bernama Khalid bin Ilyas (Abul Haitsam Al-Adawiy)]

عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ ص فِيْ بَعْضِ مَغَازِيْهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ جَاءَتْ جَارِيَةٌ سَوْدَاءُ فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اِنّيْ كُنْتُ نَذَرْتُ اِنْ رَدَّكَ اللهُ سَالِمًا اَنْ اَضْرِبَ بَيْنَ يَدَيْكَ بِالدُّفّ وَ اَتَغَنَّى. قَالَ لَهَا رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنْ كُنْتِ نَذَرْتِ فَاضْرِبِيْ وَ اِلاَّ فَلاَ. فَجَعَلَتْ تَضْرِبُ فَدَخَلَ اَبُوْ بَكْرٍ وَ هِيَ تَضْرِبُ، ثُمَّ دَخَلَ عَلِيٌّ وَ هِيَ تَضْرِبُ ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ وَ هِيَ تَضْرِبُ ثُمَّ دَخَلَ عُمَرُ فَاَلْقَتِ الدُّفَّ تَحْتَ اِسْتِهَا ثُمَّ قَعَدَتْ عَلَيْهِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَخَافُ مِنْكَ يَا عُمَرُ، اِنّيْ كُنْتُ جَالِسًا وَ هِيَ تَضْرِبُ، فَدَخَلَ اَبُوْ بَكْرٍ وَ هِيَ تَضْرِبُ، ثُمَّ دَخَلَ عَلِيٌّ وَ هِيَ تَضْرِبُ، ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ وَ هِيَ تَضْرِبُ، فَلَمَّا دَخَلْتَ اَنْتَ يَا عُمَرُ، اَلْقَتِ الدُّفَّ. الترمذي 5: 285، رقم: 3773، وصححه
Dari Buraidah, ia berkata : Rasulullah SAW pernah pergi dalam salah satu peperangan, ketika beliau kembali, ada seorang wanita berkulit hitam  yang menyambut kedatangan beliau itu sambil mengatakan, Ya Rasulullah, sungguh aku telah bernadzar, jika Allah mengembalikan engkau dengan selamat, aku akan menabuh rebana sambil bernyanyi di hadapanmu. Maka jawab beliau, Kalau benar kamu telah bernadzar, maka tabuhlah, tetapi kalau tidak bernadzar, jangan kamu tabuh. Lalu wanita itu menabuhnya. Tiba-tiba Abu Bakar masuk ke rumah Nabi SAW, sedang si wanita tadi masih tetap menabuh. Lalu Ali menyusul masuk, sedang si wanita tadi masih tetap menabuh. Kemudian Utsman menyusul masuk, dan si wanita tadi masih tetap menabuh. Lalu datanglah Umar, maka si wanita tadi (berhenti menabuh) dan menyembunyikan rebananya itu di bawah pinggulnya lalu mendudukinya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, Sungguh syaithan benar-benar takut kepadamu hai Umar. Aku duduk sedang si wanita itu menabuh rebana, kemudian Abu Bakar masuk, sedang si wanita itu tetap saja menabuh rebana, menyusul Ali masuk, si wanita itu tetap menabuh rebana, lalu Utsman masuk, sedang si wanita itu tetap saja menabuh rebana. Tetapi begitu kamu masuk, maka wanita itu spontan menyembunyikan rebananya. [HR. Tirmidzi juz 5, hal. 285, no. 3773, dan ia menshahihkannya]
Keterangan :
A. Musik atau maaazif adalah semua alat yang menimbulkan bunyi-bunyian, baik dengan cara dipukul, digesek, dipetik, ditiup, ditekan dan lain sebagainya.
Dari hadits-hadits di atas bisa kita pahami bahwa bermain musik, melihat, maupun mendengarkan musik adalah sudah ada sejak jaman Nabi SAW, dan beliaupun tidak melarangnya. Dan bisa pula kita pahami bahwa bermain musik dan bernyanyi, melihat maupun mendengarkannya, hukumnya adalah mubah (boleh).
B  Ada sebagian kaum muslimin yang berpendapat bahwa bermain musik itu hukumnya haram berdasar hadits-hadits sebagai berikut :
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ غَنْمٍ اْلاَشْعَرِيّ قَالَ: حَدَّثَنِي اَبُوْ عَامِرٍ اَوْ اَبُوْ مَالِكٍ اْلاَشْعَرِيُّ وَ اللهِ مَا كَذَبَنِى سَمِعَ النَّبِيَّ ص يَقُوْلُ: لَيَكُوْنَنَّ مِنْ اُمَّتِى اَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ اْلحِرَّ وَ اْلحَرِيْرَ وَ اْلخَمْرَ وَ اْلمَعَازِفَ وَ لَيَنْزِلَنَّ اَقْوَامٌ اِلىَ جَنْبِ عَلَمٍ يَرُوْحُ عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَهُمْ يَأْتِيْهِمْ لِحَاجَةٍ فَيَقُوْلُوْا اِرْجِعْ اِلَيْنَا غَدًا فَيُبَيّتُهُمُ اللهُ وَ يَضَعُ اْلعَلَمَ وَ يَمْسَخُ آخَرِيْنَ قِرَدَةً وَ خَنَازِيْرَ اِلىَ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ. البخاري 6: 243
Dari Abdur Rahman bin Ghanmin Al-Asyariy, ia berkata : Abu Amir atau Abu Malik Al-Asyariy menceritakan kepadaku, demi Allah dia tidak berbohong kepadaku, bahwa ia mendengar Nabi SAW bersabda, Sungguh akan ada di kalangan ummatku kaum-kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan musik, dan beberapa kaum akan mendatangi tempat yang terletak di dekat gunung tinggi, mereka datang dengan berjalan kaki untuk suatu keperluan. Lantas mereka (yang didatangi) berkata, Kembalilah kepada kami besok pagi. Pada malam harinya Allah menimpakan gunung tersebut kepada mereka, dan (Allah) merubah yang lainnya menjadi kera dan babi hingga hari qiyamat. [HR. Bukhari juz 6, hal. 243]

عَنْ اَبِى مَالِكِ اْلاَشْعَرِيّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ اُمَّتِى اْلخَمْرَ يُسَمُّوْنَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا يُعْزَفُ عَلَى رُءُوْسِهِمْ بِاْلمَعَازِفِ وَ اْلمُغَنّيَاتِ، يَخْسِفُ اللهُ بِهِمُ اْلاَرْضَ وَ يَجْعَلُ مِنْهُمُ اْلقِرَدَةَ وَ اْلخَنَازِيْرَ. ابن ماجة 2: 1333، رقم:4020
Dari Abu Malik Al-Asyariy, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Sungguh ada segolongan dari ummatku yang minum khamr yang mereka menamakannya bukan nama (asli)nya, kepala mereka disibukkan dengan musik dan biduanita. Allah akan menenggelamkan mereka ke dalam tanah dan merubah mereka menjadi kera dan babi. [HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 1333, no. 4020]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله ص: اِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَيَّ اَوْ حُرّمَ اْلخَمْرُ وَ اْلمَيْسِرُ وَ اْلكُوْبَةُ. قَالَ: وَ كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ. قَالَ سُفْيَانُ: فَسَأَلْتُ عَلِيَّ بْنَ بَذِيْمَةَ عَنِ اْلكُوْبَةِ، قَالَ: اَلطَّبْلُ. ابو داود 3: 331، رقم: 3696
Dari Ibnu Abbas, dia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah mengharamkan kepadaku atau diharamkan (kepadaku) khamr, judi dan Kuubah. Dan beliau bersabda, Setiap yang memabukkan adalah haram. Sufyan berkata : Lalu aku bertanya kepada Ali bin Badzimah tentang arti Kuubah. Ia menjawab, (Kuubah itu adalah) tambur. [HR. Abu Dawud  juz 3, hal. 331, no. 3696]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمُ اْلخَمْرَ وَاْلمَيْسِرَ وَاْلكُوْبَةَ وَقَالَ: وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ. احمد 1:
Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah mengharamkan kepada kalian khamr, judi dan Kuubah (tambur), dan beliau bersabda, Dan setiap yang memabukkan adalah haram. [HR. Ahmad juz 1, hal. 350]

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: فِيْ هذِهِ اْلاُمَّةِ خَسْفٌ وَ مَسْخٌ وَ قَذْفٌ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَ مَتَى ذلِكَ؟ قَالَ: اِذَا ظَهَرَتِ اْلقِيَانُ وَ اْلمَعَازِفُ وَشُرِبَتِ اْلخُمُوْرُ. الترمذي 3: 336، رقم: 2309
Dari Imran bin Husain bahwa Rasulullah SAW bersabda, Pada ummat ini akan ada (siksaan berupa) ditenggelamkan ke bumi, diganti rupa dan dilempar batu dari langit. Lalu ada seorang laki-laki dari kalangan kaum muslimin bertanya, Ya Rasulullah, kapan peristiwa itu terjadi ?. Beliau menjawab, Apabila telah merajalela penyanyi-penyanyi dan musik, dan khamr diminum (dimana-mana). [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 336, no. 2309, dlaif karena dalam sanadnya ada perawi bernama Abbaad bin Yaquub Al-Kuufiy dan Abdullah bin Abdul Qudduus, keduanya dlaif]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا اتُّخِذَ اْلفَيْءُ دُوَلاً وَ اْلاَمَانَةُ مَغْنَمًا وَ الزَّكَاةُ مَغْرَمًا وَ تُعُلّمَ لِغَيْرِ الدّيْنِ وَ اَطَاعَ الرَّجُلُ امْرَاَتَهُ وَ عَقَّ اُمَّهُ وَ اَدْنَى صَدِيْقَهُ وَ اَقْصَى اَبَاهُ وَ ظَهَرَتِ اْلاَصْوَاتُ فِي اْلمَسَاجِدِ وَسَادَ اْلقَبِيْلَةَ فَاسِقُهُمْ وَكَانَ زَعِيْمُ اْلقَوْمِ اَرْذَلَهُمْ و اُكْرِمَ الرَّجُلُ مَخَافَةَ شَرّهِ وَ ظَهَرَتِ اْلقَيْنَاتُ وَ اْلمَعَازِفُ وَ شُرِبَتِ اْلخُمُوْرُ وَ لَعَنَ آخِرُ هذِهِ اْلاُمَّةِ اَوَّلَهَا فَلْيَرْتَقِبُوْا عِنْدَ ذلِكَ رِيْحًا حَمْرَاءَ وَ زَلْزَلَةً وَ خَسْفًا وَ مَسْخًا وَ قَذْفًا وَآيَاتٍ تَتَابَعُ كَنِظَامِ بَالٍ قُطِعَ سِلْكُهُ فَتَتَابَعَ. الترمذي 3: 335، رقم: 2308
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Apabila harta fai (rampasan perang) sudah dijadikan barang rebutan, amanat (kepemimpinan) dijadikan sebagai barang ghanimah (rampasan), zakat dihutang (tidak dibayar), dipelajari hal-hal yang bukan agama, suami tunduk kepada istrinya, ibunya didurhakai, orang lebih dekat kepada kawannya, sementara ayahnya sendiri dijauhi, suara-suara gaduh di masjid-masjid, yang menjadi kepala qabilah (kampung) adalah orang yang fasiq, yang menjadi pemimpin bagi suatu kaum adalah orang yang sangat rendah akhlaqnya, seseorang disanjung-sanjung karena takut kejahatannya, merajalelanya penyanyi-penyanyi dan musik, khamr diminum (dimana-mana), generasi yang di belakang mengutuk generasi pendahulunya, maka di saat yang demikian itu hendaklah mereka waspada datangnya angin merah, gempa bumi, tenggelam ke dalam tanah, perubahan (menjadi kera dan babi) dan pelemparan batu dari langit serta beberapa tanda (kekuasaan Allah) yang akan terjadi berturut-turut seperti untaian (benda) yang talinya putus, maka akan (berjatuhan benda tersebut) berturut-turut. [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 335, no. 2308, dlaif karena di dalam sanadnya ada perawi bernama Rumaih Al-Judzamiy, ia majhul]

عَنْ اَبِى اُمَامَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص قَالَ: لاَ تَبِيْعُوا اْلقَيْنَاتِ وَ لاَ تَشْتَرُوْهُنُّ وَ لاَ تُعَلّمُوْهُنَّ وَ لاَ خَيْرَ فِيْ تِجَارَةٍ فِيْهِنَّ وَ ثَمَنُهُنَّ حَرَامٌ وَ فِيْ مِثْلِ هذَا اُنْزِلَتْ هذِهِ اْلآيَةُ وَ مِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْتَرِيْ لَهْوَ اْلحَدِيْثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ (اِلى آخِرِ اْلآيَةِ)الترمذي 5: 25، رقم: 3247
Dari Abu Umamah, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, Janganlah kalian menjual penyanyi-penyanyi wanita, jangan kalian membeli mereka dan jangan pula kalian ajari mereka itu, karena sama sekali tidak ada kebaikannya memperdagangkan mereka itu, dan hasilnya pun haram, dan seperti ini, diturunkan ayat (yang artinya), Diantara manusia ada yang membeli perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (orang) lain dari jalan Allah, (QS Luqman : 6) sampai akhir ayat. [HR. Tirmidzi juz 5, hal. 25, no. 3247, dlaif karena dalam sanadnya ada perawi bernama Ali bin Yazid bin Abi Hilaal].

عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ: كُنْتُ مَعَ ابْنِ عُمَرَ فَسَمِعَ صَوْتَ طَبْلٍ فَاَدْخَلَ اِصْبَعَيْهِ فِى اُذُنَيْهِ، ثُمَّ تَنَحَّى حَتَّى فَعَلَ ذلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ قَالَ: هكَذَا فَعَلَ رَسُوْلُ اللهِ ص. ابن ماجه 1: 612
Dari Mujahid, ia berkata : Dahulu ketika saya bersama Ibnu Umar, tiba-tiba mendengar suara tambur, lalu (Ibnu Umar) memasukkan kedua jarinya ke kedua telinganya, kemudian ia mundur, sehingga berbuat demikian tiga kali. Kemudian ia berkata, Demikianlah dahulu Rasulullah SAW berbuat. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 611, no. 1901, dlaif karena dalam sanadnya ada perawi bernama Laits bin Abi Sulaim]
Keterangan :
Dari hadits-hadits yang mereka pakai dasar haramnya bermain musik tersebut, kalau kita fahami bahwa bermain musik itu haram, tentu berlawanan dengan hadits-hadits yang di depan yang membolehkan bermain musik.
Oleh sebab itu, kami memahami maksud hadits tersebut bahwa Nabi SAW memberitahukan akan terjadi zaman kerusakan ummat, dimana orang-orang sudah tidak mempedulikan lagi halal-haram, dan merajalelanya pergaulan bebas dan perzinaan, yang biasanya dibarengi dengan minuman keras, penyanyi atau penari dan musik. Walloohu alam.

Brosur MTA No. : 1415/1455/IF
~oO[ @ ]Oo~

Nikmatnya hasil jerih payah sendiri

Keutamaan Bekerja

Firman Allah SWT :
وَ اَحَلَّ اللهُ اْلبَيْعَ وَ حَرَّمَ الرّبوا. البقرة:275
Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. [QS. Al-Baqarah : 275]

ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا لاَ تَأْكُلُوْآ اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِاْلبَاطِلِ اِلآَّ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مّنْكُمْ، وَ لاَ تَقْتُلُوْآ اَنْفُسَكُمْ، اِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا. النساء:29
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. [QS. An-Nisaa : 29]

فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى اْلاَرْضِ وَ ابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللهِ وَ اذْكُرُوا اللهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. الجمعة:10
Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. [QS. Al-Jumah : 10]

وَ هُوَ الَّذِيْ سَخَّرَ اْلبَحْرَ لِتَأْكُلُوْا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَّ تَسْتَخْرِجُوْا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُوْنَهَا، وَ تَرَى اْلفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيْهِ وَ لِتَبْتَغُوْا مِنْ فَضْلِه وَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ. النحل:14
Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. [QS. An-Nahl : 14]

ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْآ اَنْفِقُوْا مِنْ طَيّبتِ مَا كَسَبْتُمْ وَ مِمَّآ اَخْرَجْنَا لَكُمْ مّنَ اْلاَرْضِ. البقرة:267
Hai orang-orang yang beriman, nafqahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. [QS. Al-Baqarah : 267]

Hadits Nabi SAW :

عَنِ اْلمِقْدَامِ رض عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص قَالَ: مَا اَكَلَ اَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ اَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ. وَ اِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاودَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ. البخارى 3: 9
Dari Al-Miqdam (bin Madikarib) RA, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dari pada ia makan dari hasil kerjanya sendiri. Dan sesungguhnya Nabiyyullah Dawud AS dahulu makan dari hasil kerjanya sendiri. [HR. Bukhari juz 3, hal. 9]

عَنِ اْلمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِيْكَرِبَ الزُّبَيْدِيّ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص قَالَ: مَا كَسَبَ الرَّجُلُ كَسْبًا اَطْيَبَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَ مَا اَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى نَفْسِهِ وَ اَهْلِهِ وَ وَلَدِهِ وَ خَادِمِهِ فَهُوَ صَدَقَةٌ. ابن ماجه 2: 723، رقم: 2138
Dari Al-Miqdam bin Madikarib Az-Zubaidiy, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, Tidaklah seseorang bekerja suatu pekerjaan yang lebih baik dari pada bekerja dengan tangannya sendiri. Dan apasaja yang seseorang belanjakan untuk keperluan dirinya, keluarganya, anaknya dan pembantunya maka itu merupakan sedeqah. [HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 723, no. 2138]

عَنْ سَعِيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ عَمّهِ قَالَ: سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ ص أَيُّ اْلكَسْبِ اَفْضَلُ؟ قَالَ كُلُّ كَسْبٍ مَبْرُوْرٍ. الحاكم فى المستدرك و قال صحيح الاسناد 2: 12، رقم: 2159
Dari Said bin Umair dari pamannya ia berkata, Rasulullah SAW pernah ditanya, Pekerjaan apa yang paling utama ?. Beliau menjawab, Setiap pekerjaan yang baik (halal). [HR. Hakim, dalam Al-Mustadrak juz 2, hal. 12, no. 2159, dan ia berkata : Shahih sanadnya].

عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيْجٍ قَالَ: قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَيُّ اْلكَسْبِ اَطْيَبُ؟ قَالَ: عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ، وَ كُلُّ بَيْعٍ مَبْرُوْرٍ. احمد 6، 112، رقم: 17266
Dari Rafi bin Khadij RA, ia berkata : Pernah ditanyakan, Ya Rasulullah, pekerjaan apa yang paling baik ? Beliau menjawab, Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri, dan setiap jual beli yang baik. [HR. Ahmad juz 6, hal. 112, no. 17266]

عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ قَالَ: مَرَّ عَلَى النَّبِيّ ص رَجُلٌ فَرَأَى اَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ ص مِنْ جَلَدِهِ وَ نَشَاطِهِ، فَقَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ لَوْ كَانَ هذَا فِى سَبِيْلِ اللهِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِى سَبِيْلِ اللهِ، وَ اِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى اَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيْرَيْنِ فَهُوَ فِى سَبِيْلِ اللهِ، وَ اِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ يَعِفُّهَا فَهُوَ فِى سَبِيْلِ اللهِ، وَ اِنْ كَانَ خَرَجَ رِيَاءً وَ مُفَاخَرَةً فَهُوَ فِى سَبِيْلِ الشَّيْطَانِ. الطبرانى فى الكبير 19: 129، رقم: 282
Dari Kaab bin Ujrah, ia berkata, Ada seorang laki-laki lewat di hadapan Nabi SAW, maka para shahabat Rasulullah SAW melihat kuat dan sigapnya orang tersebut. Lalu para shahabat bertanya, Ya Rasulullah, alangkah baiknya seandainya orang ini ikut (berjuang) fii sabiilillaah. Lalu Rasulullah SAW menjawab, Jika ia keluar untuk bekerja mencarikan kebutuhan anaknya yang masih kecil, maka ia fii sabiilillaah. Jika ia keluar bekerja untuk mencarikan kebutuhan kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia maka ia fii sabiilillaah. Jika ia keluar untuk bekerja mencari kebutuhannya sendiri agar terjaga kehormatannya, maka ia fii sabiilillaah. Tetapi jika ia keluar karena riya (pamer) dan kesombongan maka ia di jalan syaithan. [HR. Thabrani dalam Al-Kabir juz 19, hal. 129, no. 282, dan para sanadnya orang-orang shahih].

عَنْ سَالِمٍ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّ اللهَ يُحِبُّ اْلمُؤْمِنَ اْلمُحْتَرِفَ. البيهقى، فى شعب الايمان 2: 188، رقم: 1237
Dari Salim, dari ayahnya, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah cinta kepada orang mukmin yang aktif bekerja. [HR. Baihaqi dalam Syuabul Iimaan juz 2, hal. 188, no. 1237, dlaif karena dalam sanadnya ada perawi bernama Aashim bin Ubaidillaah]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: وَ الَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ َلاَنْ يَأْخُذَ اَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَحْتَطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ اَنْ يَأْتِىَ رَجُلاً فَيَسْأَلَهُ اَعْطَاَهُ اَوْ مَنَعَهُ. البخارى 2: 129
Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, Demi Tuhan yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh seseorang diantara kalian mengambil tali, lalu mencari kayu bakar dan membawanya di atas punggungnya adalah lebih baik baginya daripada ia datang kepada seseorang untuk minta-minta, baik orang itu memberinya maupun tidak memberinya. [HR. Bukhari juz 2, hal. 129]

عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ اْلعَوَّامِ رض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: َلاَنْ يَأْخُذَ اَحَدُكُمْ اَحْبُلاً فَيَأْخُذَ حُزْمَةً مِنْ حَطَبٍ فَيَبِيْعَ فَيَكُفَّ اللهُ بِهِ وَجْهَهُ خَيْرٌ مِنْ اَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ اُعْطِيَ اَمْ مُنِعَ. البخارى 3: 79
Dari Zubair bin Awwam RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, Sungguh seseorang diantara kalian mengambil tali lalu mencari sebongkok kayu bakar, lalu menjualnya sehingga dengannya Allah menjaga mukanya (dari minta-minta) adalah lebih baik daripada ia meminta-minta kepada manusia, baik diberi atau tidak diberi. [HR. Bukhari juz 3, hal. 79]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقوْلُ: َلاَنْ يَغْدُوَ اَحَدُكُمْ فَيَحْطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَتَصَدَّقَ بِهِ وَ يَسْتَغْنِيَ بِهِ مِنَ النَّاسِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ اَنْ يَسْأَلَ رَجُلاً اَعْطَاهُ اَوْ مَنَعَهُ ذلِكَ. فَاِنَّ اْليَدَ اْلعُلْيَا اَفْضَلُ مِنَ اْليَدِ السُّفْلَى وَ ابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ. مسلم 2: 721
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, Sungguh seseorang diantara kalian pergi mencari kayu bakar, dan membawanya di atas punggungnya, lalu dari hasilnya itu ia bisa bershadaqah dan tidak minta-minta kepada orang, adalah lebih baik baginya daripada ia minta-minta kepada orang, baik orang itu memberinya atau tidak memberinya, karena tangan yang di atas itu lebih baik dari pada tangan yang di bawah. Dan mulailah (memberi nafqah) orang yang menjadi tanggunganmu. [HR. Muslim juz 2, hal. 721]

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ اَنَّ رَجُلاً مِنَ اْلاَنْصَارِ اَتَى النَّبِيَّ ص يَسْأَلُهُ فَقَالَ: اَمَا فِى بَيْتِكَ شَيْءٌ؟ قَالَ: بَلَى حِلْسٌ نَلْبَسُ بَعْضَهُ، وَ نَبْسُطُ بَعْضَهُ وَ قَعْبٌ نَشْرَبُ فِيْهِ مِنَ اْلمَاءِ، قَالَ: ائْتِنِى بِهِمَا. فَاَتَاهُ بِهِمَا، فَاَخَذَهُمَا رَسُوْلُ اللهِ ص بِيَدِهِ وَ قَالَ: مَنْ يَشْتَرِى هذَيْنِ؟ قَالَ رَجُلٌ: اَنَا آخُذُهُمَا بِدِرْهَمٍ. قَالَ: مَنْ يَزِيْدُ عَلَى دِرْهَمٍ؟ مَرَّتَيْنِ اَوْ ثَلاَثًا. قَالَ رَجُلٌ: اَنَا آخُذُهُمَا بِدِرْهَمَيْنِ. فَاَعْطَاهُمَا اِيَّاهُ، وَ اَخَذَ الدّرْهَمَيْنِ فَاَعْطَاهُمَا اْلاَنْصَارِيَّ، وَ قَالَ: اِشْتَرِ بِاَحَدِهِمَا طَعَامًا فَانْبِذْهُ اِلَى اَهْلِكَ، وَ اشْتَرِ بِاْلآخَرِ قَدُّوْمًا فَائْتِنِى بِهِ، فَاَتَاهُ بِهِ فَشَدَّ فِيْهِ رَسُوْلُ اللهِ ص عُوْدًا بِيَدِهِ، ثُمَّ قَالَ لَهُ: اِذْهَبْ فَاحْتَطِبْ وَ بِعْ، وَ لاَ اَرَيَنَّكَ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا. فَذَهَبَ الرَّجُلُ يَحْتَطِبُ وَ يَبِيْعُ، فَجَاءَ وَ قَدْ اَصَابَ عَشْرَةَ دَرَاهِمَ، فَاشْتَرَى بِبَعْضِهَا ثَوْبًا وَ بِبَعْضِهَا طَعَامًا، فَقَالَ  رَسُوْلُ اللهِ ص: هذَا خَيْرٌ لَكَ مِنْ اَنْ تَجِىءَ اَلْمَسْأَلَةُ نُكْتَةً فِى وَجْهِكَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ. اِنَّ اْلمَسْأَلَةَ لاَ تَصْلُحُ اِلاَّ بِثَلاَثَةٍ: لِذِى فَقْرٍ مُدْقِعٍ اَوْ لِذِى غُرْمٍ مُفْظِعٍ اَوْ دَمٍ مُوْجِعٍ. ابو داود 2: 120120
Dari Anas bin Malik, bahwasanya ada seorang laki-laki Anshar datang kepada Nabi SAW lalu minta kepada beliau, maka beliau bertanya, Apakah di rumahmu tidak ada sesuatu ?. Orang tersebut menjawab, Ya, ada pakaian (pelana) unta yang sebagiannya kami pakai (sebagai tutup) dan sebagiannya kami hamparkan (sebagai tikar) dan sebuah bejana yang biasa kami minum air dengannya. Nabi SAW bersabda, Bawalah kepadaku dua barang itu. Kemudian orang tersebut datang kepada beliau dengan membawa dua barang tersebut. Lalu Rasulullah SAW mengambil dua barang itu dengan tangan beliau dan bersabda, Siapa yang mau membeli dua barang ini ?. Lalu ada seorang laki-laki berkata, Saya mau mengambil dua barang itu dengan satu dirham. Rasulullah SAW bersabda  lagi, Siapa yang mau menambah dari satu dirham ?. Beliau bersabda demikian dua atau tiga kali. Lalu ada seorang laki-laki berkata, Saya mau mengambil kedua barang itu dengan dua dirham. Maka Rasulullah SAW memberikan dua barang itu kepada orang tersebut. Setelah Rasulullah SAW menerima uang dua dirham tersebut lalu beliau berikan kepada orang Anshar yang punya barang tersebut sambil bersabda, Belilah makanan dengan uang yang satu dirham ini lalu berikan kepada keluargamu, dan yang satu dirham belikan kapak lalu bawalah kepadaku. Kemudian orang laki-laki tersebut datang kepada beliau dengan membawa kapak. Maka Rasulullah SAW memasang pegangan kapak tersebut dengan sebatang kayu dengan tangan beliau, kemudian bersabda, Pergilah mencari kayu bakar dan juallah ! Dan jangan sampai aku melihat kamu selama lima belas hari. Lalu orang tersebut pergi untuk mencari kayu bakar dan menjualnya. Kemudian (setelah lima belas hari) orang laki-laki tersebut datang kepada beliau dan sudah mendapatkan hasil sepuluh dirham, yang sebagian untuk membeli pakaian dan yang sebagian untuk membeli makanan. Maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya, Yang demikian itu lebih baik bagimu daripada kamu datang meminta-minta, karena meminta-minta itu akan membekaskan noda di wajahmu pada hari qiyamat. Sesungguhnya minta-minta itu tidak pantas dilakukan kecuali oleh tiga golongan, yaitu orang yang sangat faqir, atau orang yang terbeban hutang, atau orang yang harus membayar diyat (tebusan) yang sangat memberatkan. [HR. Abu Dawud juz 2, hal. 120, no. 1641].

Brosur MTA No. : 1414/1454/IA
~oO[ @ ]Oo~